Cinta, Keraguan, dan Agama

Kasih, jujur saja bahwa aku memang meragu meneruskan langkah. Berusaha merebut hatimu sepenuhnya. Sebab kasih, aku menjadi takut akan masa depan jika hatimu telah di serahkan. Dan ternyata tidak dapat dikembalikan lagi. Entah masa depan apa yang menanti bagi perbedaan-perbedaan kita. Padahal sering juga harapan agar hatimu menerima diriku sepenuhnya menghiasi mimpi-mimpi dalam tidurku. Tapi kasih, kesadaran akan masa depan membuatku menjadi pengecut.

Kasih, perbedaan kita seharusnya memang menjadi indah, seperti keindahan pelangi yang diakibatkan warna-warni yang berbeda-beda. Tapi perbedaan kita tidak begitu sederhana, perbedaan kita sudah bicara tentang Tuhan, dan keyakinan yang di sebut agama. Itu sangat membuatku takut, hingga acuh terhadapa rasa ini. Waktu berhenti, menjeratku yang semakin tersiksa. Ah, mungkin memang aku pengecut sejati.

Kasih, takutku semakin besar, ketika kusadari aku memang cinta kau. Sebuah cinta yang sangat besar sehingga kadang aku merasa telah menduakan Tuhan dengan dirimu.. Tapi bahkan dengan modal cinta seperti itu, aku masih belum bisa melepaskan diri dari ketakutan. Sebab perbedaan kita bicara tentang Tuhan dan agama. Raguku semakin membuncah, memenuhi setiap pojok sukma.

Inginku tentu kita bisa bersama. Tapi sepertinya tidak adil bagimu, jika kamu ku ubah agar sesuai denganku. Tapi aku juga sadar, bahwa diriku sudah tidak bisa berubah lagi. Hanya sebuah topeng di wajahku yang mungkin bisa membuat kita tidak berbeda. Tapi Apa kau akan bisa terima ketika seorang lelaki selalu bertopeng ketika hidup bersamamu?

Ah, sepertinya hari-hari masih akan gelap pekat, menyertai langkah-langkahku bersamamu.

Lalu Jenar melipat surat itu. Dikembalikannya ke kotak. Dia merasa belum cukup berani untuk menyampaikan surat tersebut kepada dia , gadis yang telah berhasil merampas perhatiannya. Mungkin nanti saat kondisi sudah pas, maka surat tersebut akan disampaikan. Atau mungkin di bacakan sendiri. Nanti, saat semua sudah tepat. Sekarang dia masih ingin mengenali dulu sang rasa.

24 Responses to “Cinta, Keraguan, dan Agama”


  1. 2 darnia September 25, 2008 pukul 1:28 pm

    duh…. kasus gw sekarang ni…

  2. 3 gentole September 25, 2008 pukul 2:45 pm

    Di antara ketiga kata itu, hanya kata yang kedua yang jadi persoalan, bukan? Tanpa kata itu, saya kira tidak ada itu dilema.

  3. 4 Lumiere September 25, 2008 pukul 3:28 pm

    Ah Jenar (yg kurindukan) sebenernya aku seneng “melihat”mu kembali, tapi tiba2 muncul kok malah bikin aku nangis sih??!😥

    Eh, eh, eh…. yg ini nih….
    “Kasih, takutku semakin besar, ketika kusadari aku memang cinta kau. Sebuah cinta yang sangat besar sehingga kadang aku merasa telah menduakan Tuhan dengan dirimu… Sebab perbedaan kita bicara tentang Tuhan dan agama…”

    kayaknya kok aku “pernah” ngerasa gtu yah?..

  4. 5 danalingga September 25, 2008 pukul 7:59 pm

    @Emanuel Setio Dewo

    Tentang semacam itulah.

    @darnia

    Hoh, ngalamin juga toh.

    @gentole

    Betul juga. Tapi keraguan itu karena ada cinta dan agama.

    @Lumiere

    *liatin orang yang lagi nangis*

  5. 6 realylife September 25, 2008 pukul 9:53 pm

    semoga rasa itu tak pernah hilang dari raga

  6. 7 aryf September 26, 2008 pukul 3:00 am

    keknya lbh enak, lbh mudah, lbh gampang, lbh nkmat..
    klo msh `KEKnya`..ya pasti enak, mudah, gampang dan nikmat
    klo yg dicari mudah x, gampang x..
    ya mana terasa enak dan nikmatnya🙂

  7. 9 biyung nana September 26, 2008 pukul 12:33 pm

    ‘Sebuah cinta yang sangat besar sehingga kadang aku merasa telah menduakan Tuhan dengan dirimu.. ‘

    i know what it feels like🙂 in this case, think with your head instead of heart😛

    *ambil kamus* bener ga ya spellnya :p

  8. 10 itikkecil September 26, 2008 pukul 12:45 pm

    beda agama atau beda prinsip Dan?

  9. 11 sigid September 26, 2008 pukul 4:04 pm

    Mas, sebelum offline seminggu ke depan;

    Mohon maaf lahir batin ……..:mrgreen:

    ~# sigid #~

  10. 12 Rindu September 26, 2008 pukul 6:15 pm

    Rasa itu pernah saya miliki …. hati yang saya titipkan kandas oleh takdir [entah takdir entah pilihan]

    Kalau boleh kasih masukan mas “jangan pernah menggadaikan cinta TUHAN dengan cinta duniawi”

    *dibekep karena sok tahu*

  11. 13 aryf September 27, 2008 pukul 1:31 am

    Si dia yg jadi pujaan,
    munkin aj bukan pilihan.
    Si dia yg selalu di harapkan,
    munkin aj bukan tujuan.

    Dia yg jd dambaan
    g suka, kalo cuma jd mainan.
    Dia yg jd tambatan
    g mau, klo jadinya memberatkan.

    Knp hrs memilih klo emang g punya pilihan?
    Knp hrs berangan klo emang msh punya harapan?
    Kpn bisa nyampe tujuan, klo msh ada keraguan
    Kpn bisa punya keberanian, klo blm ada keyakinan

    Tentukan pilihan, jgn di duakan
    Kekasih Pujaan, dambaan setiap insan

    *katanya lbh enak klo udh melewati garis?*

  12. 14 zal September 28, 2008 pukul 1:34 am

    ::Dan, berlepas diri dari prasangka, jauh lebih baik, sebab tak ada yang tahu kapan seorang buta tiba-tiba menjadi orang suci.
    Perhatikan tentang kedua rasa cinta, yang satu pengajaran, lainnya kedudukan, bahkan sang Habibullah selalu memanggi istrinya dengan panggilan kasih sayang, sebab pada keduanya diletakkan “cinta”…
    “tidak ada perceraian yang disatukan Tuhan”, maka berserah dirilah…, gunakan pengetahuan yang ada untuk “percaya..”

  13. 16 Violette September 29, 2008 pukul 9:58 am

    Lho, katanya semua agama sama, kok beda agama jd masalah?
    Atau: kenapa gak disamakan saja, toh semua agama sama & membawa kebenaran?
    Why does it matter?

  14. 17 Tito Oktober 3, 2008 pukul 2:30 pm

    pernah mengalami… dan pisah krn beda… krn kita ga mau salah satu dari kita pindah ke keyakinan yg laen… sedangkan kalo tetep megang agama sendiri2, hukum negara ini (yg katanya bersemboyan bhinneka tunggal ika) tidak memperkenankan😦

  15. 18 danalingga Oktober 4, 2008 pukul 11:26 pm

    @realylife

    Semoga.

    @ aryf

    Keknya sih.

    @DANIAR NUR AZIZ BAQI

    Hajar!

    @biyung nana

    Duh, yang pengalaman.😛

    @itikkecil

    Sepertinya sih prinsip, kalo cuma agama sepertinya masih bisa diatasi.

    @sigid

    Sama-sama

    @ Rindu

    Idealnya sih gitu.

    @zal

    Ah iya, tampaknya memang hanya prasangka.

    @nindityo

    Sama.😀

    @Violette

    Tau tuh si jenar, emang nggak pernah konsisten dianya.

    @Tito

    Lah, pernah toh to. Baru tahu saya.

  16. 19 Godamn Oktober 18, 2008 pukul 6:47 pm

    To jenar,
    Yaaah… Jenar… kalo cinta kepadanNya tidak bisa diduakan tapi bisa kan… kalo kita menyayangi dia dengan cintaNya. Bukankah Dia sendiri memberi isyarat “kalau kamu mencintaiKu kasihilah saudaramu”, “Kalau kamu mencintaiKu berbuat baiklah kepada tetanggamu”. Maka kasihilah dia dengan CintaNya. Bukankah cinta itu adalah rasa AnugerahNya. Apakah itu berati menduakan cintaNya?

    Pandanglah dia sekali lagi, bukankah kemanapun kau hadapkan wajahmu di situlah wajahKu. Pandanglah sekali lagi dan kau akan tahu siapa yang saat ini kau cintai.

    Mungkin kamu mesti mereview pandanganmu “Bahwa hanya ada Aku dan Aku” yang selama ini kamu yakini. Kata-kata itu sungguh mengerikan, pemahaman fikiran tidaklah cukup. Perbedaan antara Bayazid dan Fir’aun sangatlah tipis,

    Jika pandangannya ingin kau rubah, ke arah manakah akan kau rubah, padahal kamu sendiripun tidak tahu kemana harus menghadapkan pandanganmu…

    Sori yah agak panjang, agak sewot juga sih… abis pengalaman juga sih waktu ditolak… hihihi… jadi sempet rada mikirin en rasa-rasain kelakuan mahluk yang namanya “CINTA” itu, dia tuh kelakuannya nyebelin tau….. tapi tanpa dia dunia emang hampa loh sumprit deh…

  17. 20 kekasih Oktober 19, 2008 pukul 2:41 am

    ya pasti jd rebutan lah.
    udah direbut, pgn nya monopoli pula.

    jgn belagak miskin, padahal kikir.
    jgn sok kaya, sukanya berlebihan.

    emang dasar loba dan suka berkeluh kesah.
    udh dikasih, lupa besyukur.
    dasarnya miskin, msh aj tamak.

    *emangnya kamu sendiri yg pgn nikah?*

  18. 21 KEKASIH Oktober 19, 2008 pukul 2:46 am

    kalo pgn dpt cintaNya, penuhi dulu syarat2nya:
    – patuhi apa yg DIA suruh
    – jauhi apa yg tidak DIA sukai
    – terima sepenuh hati aturan main yg telah ditentukan olehNya

  19. 22 Rindu Oktober 30, 2008 pukul 7:48 am

    ingat kang bahwa cinta adalah berhala … quote from kang Dana yang masih terus saya ingat🙂

  20. 23 sandra November 9, 2008 pukul 2:19 pm

    ahh susah banget ya kalo beda agama?
    aku lagi suka seorang cowo muslim, dan kliatannya dia juga suka balik… aku ga mempermasalahkan perbedaan agama, aku blom tau dia bgmn…apakah mestinya aku mundur aja? bagi pengalamannya donk..:) lagi dilemma ni…

  21. 24 elin November 14, 2008 pukul 8:14 am

    aq bercinta dengan seorg cwok n udah bercdang mau menikah tp bgi msalah nya skrg aku muslim dan cwok aq kristian.aq dh bercinta ma dia 3 thun aq syg bget ma dia.cuma dia aja blom bersdia masuk agama islam,tp aq berdoa sllu agar tuhan buka hati dia.alhamdulilah klu dia mau ikut agama islam aq juga gk akn sia2 kn dia


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

September 2008
S S R K J S M
« Agu   Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: