Memiliki atau Dimiliki ?

Ketika kau merasa memiliki, maka di situlah hilangnya kemerdekaan. Sebab rasa memiliki itu hanyalah menandakan bahwa kau telah dimiliki.

Kalimat itu terus terngiang di kepala Jenar. Kalimat yang ditemukannya pada sebuah novel. Betapa kalimat tersebut sangat menyita perhatiannya semenjak itu. Setiap langkahnya selalu diwarnai ngiangan kalimat tersebut. Jenar merasa tertampar , walau dia belum sepenuhnya mengerti akan kalimat tesebut. Tapi setidaknya secara samar dia mengerti bahwa kalimat tersebut menyindirnya. Menyindir rasa kepemilikan-nya.

“Ah, itu hanya permainan kata kata”

Tarjo menyampaikan pendapatnya yang seperti meremehkan kalimat tersebut ketika Jenar menyampaikan kegelisahannya. Kegelisahan yang dia tidak ketahui sebabnya. Yang pasti gelisah karena kalimat itu. Dia sungguh tidak paham, bagaimana mungkin ketika memiliki sesuatu maka ternyata dia yang dimiliki. Bukankah seharusnya pemilik yang memiliki? Tapi mau tidak mau Jenar tidak bisa mengabaikan kalimat tersebut. Karena jauh di lubuk hatinya, Jenar merasa bahwa apa yang disampaikan kalimat tersebut adalah kebenaran.

Kepalanya mengernyit menahan sakit. Sakit yang selalu datang ketika pikirannya bekerja sangat cepat. Sudah sering Jenar mengalaminya. Dan sudah sering juga, dia ingin menghentikan pikir yang menyakitkan itu. Tapi dia tidak bisa. Segala tanya terus terngiang dalam kepalanya. Jenar tahu pasti , segalanya sulit dihentikan sebelum dia menemukan jawaban. Maka Jenarpun terus berusaha menemukan jawaban.

“Jangan terlalu dipikirkan kawan.”

Enteng jawab Ning ketika dia menyampaikan tentang kalimat tersebut dan pikirannya yang tidak pernah berheneti untuk menyelami makna. Dan mendengar jawaban Ning itu, Jenar smenyadari kesalahan menanyakan kepada Ning. Ning adalah wanita yang tidak berpikir. Dia selalu bisa hidup hanya untuk hidup. Menikmati apa saja tanpa perlu memikirkannya. Dan kali ini tentu Ning berusaha untuk mengajak Jenar mengikutinya. Seperti yang sudah sering terjadi jika Jenar menyampaikan pemikirannya dan hendak berdiskusi. Jenar selalu saja diajak untuk tidak usah berpikir, sebaiknya menikmati hidup saja. Seperti Ning. Kelihatannnya memang membahagiakan.

Tapi Jenar tidak bisa seperti Ning. Dia bukan Ning yang bisa berhenti berpikir dalam hidup. Jenar sudah mencoba untuk seperti Ning, mencoba tidak berpikir dan menikmati hidup apa adanya saja. Dan hasilnya gagal total. Malah bermunculan pikiran mengapa harus tidak berpikir? Toh pikir adalah anugrah dari Dia yang tidak dikenal. Tentu ada gunanya pikiran ini dilekatkan pada manusia. Sungguh mubazir jika tidak dianggurkan. Tapi Ning meman tampak bahagia. Entahlah. Jenar mengusutkan rambutnya dengan tangan. Berusaha untuk fokus pada kalimat yang menggangunya. Tidak ingin ditambahnya dengan memikirkan falsafah hidup Ning.

“Ketika kau merasa memiliki, maka di situlah hilangnya kemerdekaan. Sebab rasa memiliki itu hanyalah menandakan bahwa kau telah dimiliki.”

Diejanya pelan pelan kembali kalimat itu. Diresapinya setiap kata, lalu berusaha dicerna secara utuh. Tapi tetap dia tidak bisa memahami. Bagaimana mungkin memiliki malah jadi dimiliki. Seperti senjata makan tuan saja. Paradoks. Denyutan dikepalanya semakin menjadi.

Tanpa sadar langkah Jenar, yang dalam kebingungan, menghantarnya ke sebuah rumah mungil. Halamannya ditumbuhi warna warni bunga. Indah dan menyegarkan. Jenar kenal betul rumah dan lingkungannya. Inilah tempat pujaan hatinya tinggal. Tempat dimana dia selalu merasa rindu. Rindu pada penghuninya. Didekatinya pintu, lalu tidak lama kemudian ada nada bel berdering. Lalu muncul wajah itu. Tidak lupa senyum manisnya. Juga kerinduan dimata bening itu. Jenar tersenyum. Wanita itu lalu menariknya masuk. Mendesaknya terjatuh ke sofa. Kemudian ciuman penuh kerinduan mendarat. Sekejap dia terhanyut. Namun sebuah kesadaran tiba-tiba merenggutnya.

“Ada apa?”

Wanita itu tampak keheranan. Tidak biasanya. Jenar seharusnya melampiaskan rindu ini sampai tuntas. Begitulah biasanya, begitulah seharusnya. Tapi mengapa kali ini berbeda? Adakah yang telah berubah? Cemas tampaknya mulai menghampiri wanita itu. Ditatapnya mata jenar yang tampak menerwaang.

“Nar… “

“Aha… itu dia. “

Jenar terloncat dari sofa. Mengagetkan sang wanita sampai terloncat juga. Jenar menatap wajah wanita itu. Kali ini tidak ada kerinduan, hanya rasa terimakasih mendalam. Dan mungkin juga sedikit cinta, tersamar. Diciumnya kening wanita itu, yang tampak masih kebingungan akan kenehan yang dialaminya kali ini. Tidak sempat mencegah Jenar yang melangkah kepintu. Jenar memegang gagang pintu, memutarnya, membuka, lalu menoleh ke belakang.

“Terimakasih sayang. Kau membuatku mengerti. Merasa memiliki memang berarti aku telah dimiliki. “

Kata Jenar sebelum akhirnya dia hilang dari pintu rumah mungil itu. Menembus hujan yang tiba-tiba turun. Wanita masih terpaku diam. Menatap kepergian Jenar yang bagai teka-teki tidak terselesaikan.

Di tempat lain, tidak lama berselang. Di sebuah kamar kost yang panas dan pengap. Jenar masih dalam keadaan basah kuyup tampak sedang mengetik di depan laptopnya. Sebuah tulisan tampak dilayar.

Akhirnya aku mengerti. Memang ketika merasa memiliki maka berarti aku akhirnya telah dimiliki oleh yang kumiliki itu. Memilikilah yang telah membelengguku. Seperti ketika aku merasa memiliki Dewi, ternyata aku sadar, ketika kami melepas rindu tadi di rumah mungilnya, maka sebenarnya Dewilah yang memilikiku.

Hem… tapi kesadaran ini menimbulkan pertanyaan baru bagiku. Bagaimanakah agar aku bisa menikmati semua itu tanpa harus kehilangan kemerdekaanku? Haruskah semuanya kubuang? Menjadi seorang pertapa tanpa apapun yang menggangu? Atau apa mungkin jawabannya adalah dengan tidak merasa memiliki maka akan bisa kunikmati semuanya tanpa kehilangan kemerdekaaan? Tapi apa mungkin hidup tanpa rasa memiliki?

Ah, semua tanya kemudian kusimpan dulu. Aku yakin jawaban akan kembali datang dalam hidup ini. Karena semua jawaban memang telah ada, hanya saja belum menemukannya. Dan kesabaranlah yang diperlukan dalam prosesnya. Biarlah kunikmati dulu jawaban yang baru saja dan biarlah jawaban pertanyaan berikutnya menunggu dulu.

Lalu Jenar menutup laptopnya. Dipandangnya langit malam yang kembali cerah, ada sepotong bulan di sana. Dia tersenyum.

22 Responses to “Memiliki atau Dimiliki ?”


  1. 1 uhuik Oktober 20, 2008 pukul 6:29 am

    menikmati memiliki Tuhan dan dimiliki oleh Tuhan tanpa menjadi pertapa di puncak gunung…..
    Kalau sudah ‘merasa’ cukup hidup ini cuma perlu Tuhan saja, maka hati ini akan ‘merasa’ merdeka /bebas dari rasa memiliki dunia seisinya, serasa tanpa beban.
    Merasa memiliki Tuhan berarti memang manusia menjadi ‘tidak bebas’ dari Tuhan alias malah menjadi hamba Tuhan yang memang wajib menuruti kehendakNYA, dan salah satu kehendakNYA adalah untuk memilih kebaikan dan menjauhi kebathilan.
    Berbuat kebaikan /amal apa saja di dunia ini dengan alasan “demi cintaku pada Tuhan” alias “untuk mencari ridho/restu/perkenan Allah swt” maka kita dapat menikmati cinta Allah tanpa harus bersepi-sepi di puncak gunung.

  2. 2 danalingga Oktober 20, 2008 pukul 6:37 am

    Wah, kalo diterapkan pada Tuhan tampaknya malah tepat rasa memiliki itu ya? Ah, Tuhan memang bukan hal duniawi.

  3. 3 Rindu Oktober 20, 2008 pukul 9:28 am

    Tidak semua tanya memerlukan jawaban kang … kadang kita tidak ingin terjawab, biar tetap indah karena menjadi mistery🙂 bukankah indah jika tak terbuka !!

  4. 4 zsheefa Oktober 20, 2008 pukul 10:04 am

    aku tak pernah memiliki dunia,tak pernah berharap surga apalagi noraka tapi itu semua dalam genggamanku.
    kenyataanya aku koq malah kebalikannya dari jenar bahkan bosnya jenar.
    *lirik ke Zal*

  5. 5 darnia Oktober 20, 2008 pukul 10:34 am

    jika kepemilikan dihubungkan dengan kemerdekaan, memang gak akan pernah ada yang namanya “kemerdekaan mutlak”.

    Kita pasti akan merdeka untuk bertindak, namun gak merdeka untuk menanggung konsekuensinya🙂

    Memang milik-memiliki hanya paling tepat untuk-NYA😀

  6. 6 sigid Oktober 20, 2008 pukul 4:13 pm

    Keterikatan akan sesuatu to mas😀
    Sewaktu kita merasa memiliki dan menyayangi sesuatu itu, hati kita diikat di situ.
    Bahkan tidak jarang meski kita sedang membahas sesuatu yang lain, hati dan pikiran kita tetap lari ke “hal itu”. Ndak konsen.
    Sesuatu yang kita pikir menjadi milik kita justru menyerap hampir seluruh pikiran, perhatian dan hati kita. memiliki sesuatu, namun akhirnya tampak menjadi justru kita yang dimiliki.

    Kayak kalau punya game “Football Manager” baru di komputer mas, meski lagi kerja pikirannya ke situ terus😆

  7. 7 sitijenang Oktober 20, 2008 pukul 9:44 pm

    kalo kata “milik” diganti “butuh” gimana? kayaknya bisa menjadi kalimat yg sangat lain. *eksperimen aja*:mrgreen:

  8. 8 erander Oktober 21, 2008 pukul 9:54 am

    Memiliki atau dimiliki. Take and give .. mungkin begitu kira² ya pak. Karena boleh jadi, ketika kita merasa memiliki sesuatu, tapi ‘sesuatu’ itu ternyata diperoleh secara tidak sah? itu gimana pak? apakah kita akan merasa bahwa ‘sesuatu’ itu akan merasa dimiliki oleh diri kita. Apa ‘sesuatu’ tidak memberontak?

  9. 9 gandhos Oktober 22, 2008 pukul 12:13 am

    Asyik tuh. aku juga sadar pernah terjadi pada diriku ..
    Ceritanya gini, suatu ketika pulang sekolah ketika itu hujan lebat dan pulangku sore hari (masuk siang), dan kebetulan juga setiap pulang sekolah jalan kaki krn dekat. Dan ketika rame2 pulang temanku hampir semuanya lepas sepatu karena genangan air setinggi lutut, aku sendiri gak lepas sepatu dan temanku pun menyapaku ‘knapa kau tak lepas sepatu?’ dengan sombong aku jawab ‘krn aku sadar betul bahwa kegunaan sepatu ini untuk melindungi kakiku, bukan kakiku yang ngelindungi sepatu ini’ ….
    Lha tiba-tiba temanku sewot betul …..
    Geli juga rasanya ngeliat temanku, habis sepatunya baru dan pakai yang merknya mahal ….. Nah rasain lho kena.

    Apa mirip ya dengan cerita Jenar diatas? yang berarti pula si Jenar ini kayaknya juga sombong dulu sebelum berfalsafah …. he he he

  10. 10 Lumiere Oktober 22, 2008 pukul 10:19 am

    Ah iya, kenapa haru merasa “kehilangan” yah?? Tp betul pamanda…
    “Ketika kau merasa memiliki, maka di situlah hilangnya kemerdekaan. Sebab rasa memiliki itu hanyalah menandakan bahwa kau telah dimiliki”
    Habis, saya sudah “terlena” sih, jadi baru sadar bahwa selama ini emang gak pernah memiliki😥

  11. 11 zal Oktober 22, 2008 pukul 1:00 pm

    ::he..he..kayak judul filmnya Dedy Mizwar “Kejarlah Daku Kau Kutangkap”, dan Juga kayak Ayat Kudsi, “HambaKU berjalan kepadaKU satu Jengkal, AKU berjalan satu depa” dan ayat “jika hambaku datang dengan berjalan AKU mendatanginya dengan berlari, hambaKU mengingatKU dalam hatinya, AKU mengingatnya dalam ZatKU, hambaKU mengingatku dalam suatu Majelis AKU mengingatnya dalam Majelis yang lebih baik”

    Kayaknya dan, engga ada masalahnya dengan memiliki atau dimiliki easyi going aja, bukankah telah didatangkan tiga orang kepada jenar :

    1. Yang mengenalkan dengan “permainan kata-kata”
    2. “Tenang aja engga usah difikirin”
    3. Tindakan, yang mewujudkan kepemilikan.

    bukankah “usri yusroon” tanpa kata sambung…
    Bahkan jenar lebih mengenal tindakan ketimbang kata…mengapa mesti bertapa…???

  12. 12 Ssst Oktober 23, 2008 pukul 1:25 am

    jgn ribut2..nanti ketauan
    tuh si burik lg larak-lirik

    *cape deh*

  13. 13 danalingga Oktober 23, 2008 pukul 8:59 pm

    @Rindu

    Bertanya kadang memang bukan untuk memperoleh jawaban, melainkan bertanya hanya untuk bertanya.

    @zsheefa

    Bosnya Jenar kan Tuhan.😕

    @darnia

    Tapi rasanya ada yang janggal ketika kita menyebut kita memilikiNya. Memangnya dia bisa dimiliki ya?

    @sigid

    Ah, kamu dapat menjelaskannya dengan singkat. Semacam itulah.

    @sitijenang

    Jadinya memang berbeda.

    @erander

    Sepertinya memiliki dan dimiliki adalah hal yang akan selalu bersamaan.

    @gandhos

    Weh, boleh juga tuh falsafah sepatunya. Menempatkan sesuatu pada tempatnya.

    @Lumiere

    Sepertinya memang harus belajar bahwa manusia itu tidak pernah memiliki.

    @zal

    Tapi bukankah memang manusia tidak pernah memiliki zal? Hanya dipinjamkan mungkin?

  14. 14 kebersihan hati Oktober 24, 2008 pukul 1:24 am

    Milikilah apa yg kamu Cintai,
    Cintailah semua yg bukan milikmu.

    yang kamu miliki hanya Cinta,
    dan Cintailah DIA yg telah menganugrahimu setets dari rasa itu.
    Maka akan kamu rasakan jiwamu berada didalam gengamanNya.

  15. 15 secondprince Oktober 25, 2008 pukul 7:09 pm

    Saya pribadi tidak keberatan dengan memiliki dan dimiliki
    Jika dengan itu saya kehilangan kemerdekaan
    Maka ambil saja kemerdekaan itu
    Saya lebih suka memiliki dan dimiliki

    Seperti biasa, tulisannya dalem dan selalu ada saja yang mengganjal
    *memang rasa memiliki itu agak merepotkan*:mrgreen:

  16. 16 godamn Oktober 26, 2008 pukul 8:11 pm

    kalo menurutku sih… “perasaan memiliki dan dimiliki” itu menunjukan bahwa perasaan “aku” dan kebendaan kita tuh ada dan kental banget. Kira-kira bisa nggak yah? kalo kita cuma saling mencintai, mengasihi dan menyayangi. Jadi semuanya cuma kata kerja aja gituh… yah kayak yang diucapkan sama Ning lah kira-kira…

    Seseorang yang aku hormati pernah menerangkan hal tersebut…

    “Kita dibuat seperti bayanganNya. Jika kita merasa memiliki bukankah Dia pun merasa seperti itu juga? bukankah setiap yang ada di dunia dibuat untuk mengenalnya? yang merasa memiliki ternyata masih dimiliki… dan untuk mengingatkan hal tersebut Dia menyuruh kita untuk mengucapkan kata “Bismillahirrohmanirrohim” (buat yang tidak baca Al Qur’an : artinya “dengan nama Allah yang pengasih dan penyayang) setiap kita berniat untuk hal apapun supaya kita tidak pernah merampok milikNya”, gitu katanya…

    yah… sampai sekarang pun aku masih rasa-rasain bener- nggaknya kata-kata tersebut. (Buat yang non Islam, ganti aja kata Allah dengan nama Tuhan kalian. Kalo aku sih yakin, tuhan kita sama kok… kalo beda nama mah gak apa-apa… dalam agama Islam disebutkan Dia memiliki banyak nama yang indah, yang menurutku tidak cuma 99 buah aja. Tapi kalo kalian sebut tuhanku beda juga gak apa-apa juga sih…)

    Buat Jenar… ada yang bilang “itulah “Jalan Cinta” “, ati-ati ya bro… soalnya yang aku rasain antara lust and love memang gradasional banget… lagian, katanya sih Dia tuh pencemburu banget….

    good luck. I love you all….

  17. 17 danalingga Oktober 27, 2008 pukul 6:19 am

    @secondprince

    Coba di cek, jangan-jangan diganjal oleh ego yang menonjol.:mrgreen:

    @godamn

    Saya renungkan dulu.😀

  18. 18 zsheefa Oktober 31, 2008 pukul 12:42 pm

    @Dana
    Telah kubuktikan dengan baik…Sekian lama DIA ku memiliki dan selama itu pula aku bebas dan merdeka…
    ” coba sedikit dianalisa ” and kasih tanggapan.
    ditunggu!!! mumpung kopinye belum abis neh..

  19. 19 danalingga Oktober 31, 2008 pukul 1:25 pm

    Bebas merdeka bagaimana? bisa di jelaskan, jangan jangan cuma merasa merdeka saja, tapi tidak merdeka.😀

  20. 20 aryf November 2, 2008 pukul 12:10 am

    enak aj gonta ganti nama..
    tau ga betapa capeknya org tua ksh nama ke kamu?
    pake potong kambing segala
    pake syukuran segala
    sanak famili, jiran tetangga, bersuka cita
    memanjatkan doa, menaruh asa
    memberi si anak nama terindah, sbg rasa syukur padaNya…

    kok bisa2nya dan tega2nya, menggadaikan NamaNya yg Terindah, dg semena2.

    emangnya kamu yg ngasih nama???

  21. 21 aryf November 2, 2008 pukul 12:13 am

    tuhan, ya tuhan.
    Dia ya Dia.
    kenapa pula namanya harus disama2kan?

    kita emang berbeda, knp maksa2 hrs disama2kan???

  22. 22 tomy November 5, 2008 pukul 11:18 am

    Apa yang telah hilang darimu, hingga kamu bersedih? Apa yang telah kau bawa, yang telah hilang darimu? Apa yang telah kau buat, yang telah menjadi rusak?
    Engkau tidak membawa apa-apa…
    Apa yang kau punya, berikan pada alam semesta. Engkau datang dengan tangan hampa, dan begitu pula manakala engkau harus pergi…
    Apa yang jadi milikmu hari ini, adalah milik yang lain di masa silam dan akan menjadi milik yang lain di masa mendatang. Engkau berpikir ini milikmu dan terpaku ke situ. Inilah pangkal segala penderitaanmu…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Oktober 2008
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: