Wajar Tidak Berarti Benar kan?

Sering ada pembenaran akan sesuatu tindakan berlandaskan kewajaran. Misalnya suatu tindakan yang disalahkan oleh orang lain, lantas pihak yang membela menjawab hal itu wajar kok dilakukan. Toh selama ini hal tersebutlah yang terjadi jika ada kejadian seperti yang terjadi saat itu. Dan juga sebagian besar orang akan melakukannya hal yang sama jika berada di posisi tersebut.

Seperti itulah kira-kira intisari pembenarannya. Tapi apa memang jika kita merasa suatu tindakan adalah wajar lantas menjadi benar? Rasanya kebenaran yang berlandaskan hal tersebut sangat tidak masuk akal. Bahkan bisa sangat berbahaya. Seharusnya benar adalah benar. Mau itu dianggap wajar atau tidak. Mau itu dilakukan banyak orang atau tidak.

Jika kita memaksakan untuk memakai logika bahwa sudah wajar berarti adalah sudah benar, maka korupsipun menjadi sebuah tindakan yang benar di negri kita ini. Toh, korupsi sudah merupakan tindakan yang wajar. Sebagian besar manusia di negeri ini melakukannya. Maka implikasinya adalah bahwa yang melarang tindakan korupsi itulah yang tidak wajar.

Atau dengan kata lain orang yang menentang tindakan korupsi itu bisa disebut manusia yang tidak normal, munafik, dan juga wajar dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Atau jangan-jangan orang tersebut adalah malaikat atau robot. Yang pasti orang tersebut tidak layak disebut manusia.

Dan bukan hanya korupsi, juga pembajakan akan menjadi tindakan yang benar dinegri ini. Dan sepertinya memang logika kewajaran adalah kebenaran yang dianut di negri ini, sehingga korupsi dan pembajakan tidak akan pernah bisa diberantas. Hem… tapi apa kita mau begitu terus? Apa kita tidak mau berubah?

Saya sudah kemukakan pendapat. Lantas bagaimana menurut anda sendiri? Apakah memang menurut anda kewajaran adalah berarti kebenaran?

43 Responses to “Wajar Tidak Berarti Benar kan?”


  1. 1 Rindu Oktober 30, 2008 pukul 7:56 am

    Dan benar belum tentu wajar …πŸ™‚

  2. 2 LieZMaya Oktober 30, 2008 pukul 7:59 am

    iya emang bener gak berarti wajar, begitu juga sebaliknya
    sering yang benar2 susah untuk diwajarkan oleh hati

  3. 3 Catshade Oktober 30, 2008 pukul 10:37 am

    Kalau sesuatu sudah dibilang “wajar”, maka itu sudah bukan sekedar masalah sejumlah angka statistik yang signifikan lagi; Istilah itu, menurut saya, secara implisit sudah menunjukkan penerimaan secara sosial, bahwa orang-orang sudah menganggap itu ‘normal’. Kombinasi dua aspek kuantitas dan kualitas itu, akhirnya, berujung pada yang namanya ‘norma’. Tentu, norma juga belum tentu sebuah kebenaran…

    …dan orang-orang itu pasti juga tahu kalau itu sebetulnya tidak benar; ini hanya masalah disonansi kognitif, sebenarnya. Mereka menghaluskan perbuatan itu dengan mengatakannya sebagai ‘kewajaran’ karena mereka merasa tidak berdaya (atau sekedar apatis) mengubah sesuatu yang sudah begitu meluas, padahal yang namanya manusia berakhlak mulia itu idealnya harus mau turun mengubah ketidakbenaran dengan tangannya sendiri tho? (dan manusia beragama mana yang tidak mau mencapai ideal itu?) Karena mereka tidak mampu begitulah, makanya perbuatan itu dirasionalisasikan sebagai ‘kewajaran’.

    Versi lebih pendek: Jadi sebenarnya yang mau dikatakan orang2 itu adalah, “Yang begitu itu sudah wajar…ya kita bisa apa? Trus maunya gimana?”

  4. 4 dnial Oktober 30, 2008 pukul 11:15 am

    Benar yang mana?
    Kan benar juga banyak…

  5. 5 Nazieb Oktober 30, 2008 pukul 1:56 pm

    Ada sebuah pepatah:

    “Kita harusnya membiasakan kebenaran, bukan membenarkan kebiasaan..”
    πŸ˜€

  6. 6 gentole Oktober 30, 2008 pukul 5:34 pm

    Kalau yang saya tangkap, Mas Dana sedang bicara etika, ya? Maksud saya, kata benar di sini merujuk pada tindakan, bukan? Kalau begitu, saya berani bilang bahwa apa saja yang dianggap wajar oleh masyarakat maka ia bisa dianggap benar secara etis. Menurut pembacaan saya atas kitab suci, kebenaran itu terkait dengan kewajaran. Itu sebabnya, al-Qur’an menyebut apa yang baik secara etis sebagai “makruf”, yang artinya dikenali. Lawan kata ini adalah “munkar”, yang artinya sesuatu yang diingkari, baik oleh hati maupun masyarakat. Korupsi itu bukan kewajaran, karena siapapun akan mengatakan itu salah. Korupsi itu diingkari, walaupun merajalela. Wajar itu bukan karena banyak saja, tetapi lebih pada bentuk penerimaan/recognition masyarakat. Etika itu dibentuk oleh jiwa zaman. Dulu perbudakan wajar, sekarang tidak, karenanya perbudakan itu dianggap salah. Dulu poligami benar, sekarang salah. Begitu juga dengan cara berpakaian, apa yang wajar dan tidak wajar itu menentukan “moralitas” seseorang dalam masyarakat — khususnya perempuan. Kebenaran moral mestinya sih dinamis. Ini bukan berarti meninggalkan kitab suci atau menegasikan kebenaran universal. Pada level praktis, kebenaran moral itu fleksibel dan kontekstual.

  7. 7 danalingga Oktober 30, 2008 pukul 8:08 pm

    @Rindu

    Tul.

    @LieZMaya

    Rasanya sih begitu.

    @Catshade

    Ah, iya kamu benar, sepertinya memang sekedar penghalusan saja. Setidaknya rasa bersalah itu bisa berkurang.

    @dnial

    Benar yang benar-benar benar.πŸ˜€

    @Nazieb

    Setuju sama pepatahnya.

    @gentole

    Lalu ketika Nabi melakukan sesuatu yang jelas tidak wajar menurut masanya hidup? Apakah yang sebenarnya terjadi? Apa bisa disebut Nabi menerjang kebenaran etis lalu membangun kebenaran versinya. Semoga saja kebenaran versi Nabi tersebut bukan hanya keetisan.πŸ˜€

    Oh iya, sebenarnya saya tidak sedang bicara etika, tapi sedang membicarakan kebenaran. Apakah memang ditentukan karena kewajarannya?

  8. 8 Felicity Oktober 31, 2008 pukul 12:09 am

    Wajar menurut siapa?…
    Benar menurut siapa?…
    dan…Atas dasar apa?…
    Kayaknya yang namanya wajar dan benar akan selalu subjektif dan bias kepentingan sampai kapanpun.

  9. 9 isnese (masih males login) Oktober 31, 2008 pukul 8:34 am

    Hng… kalau mas dana memang sedang membicarakan kebenaran, mestinya bukan ditinjau dari aspek wajar tidaknya, dong. “Benar” dengan “Kebenaran” itu kan different. Kalaupun memang Anda sedang berbicara kebenaran, saya pikir wacananya mungkin berkutat seputar “kebenaran siapa”, atau seputar kemutlakan dan kenisbian kebenaran itu sendiri. Alih-alih, saya malah sepakat dengan Mas Gentole. Yah, saya pikir juga sedang membahas masalah etika, gitu:mrgreen: *gak apapa y, namanya juga interpretasi, it’s ours*πŸ˜›

  10. 10 danalingga Oktober 31, 2008 pukul 8:44 am

    @Felicity & isnese

    Jika benar saja masih relatif, maka kewajaran tentu sangat tidak bisa menentukan sesuatu itu benar.

    Saya kan di sini sedang menanyakan apa kewajaran menentukan kebenaran?

    Jika ditanya kebenaran versi siapa, bagaimana jika kita memakai kebenaran versi Tuhan.πŸ˜€

  11. 11 zsheefa Oktober 31, 2008 pukul 9:52 am

    dari pada membicarakan yang BENAR, lebih baik diam.
    kalau mau, bicarakanlah yang BAIK2nya saja

  12. 12 sitijenang Oktober 31, 2008 pukul 10:11 am

    *gelar tikar aja, tampaknya wajar*😎

  13. 13 isnese Oktober 31, 2008 pukul 10:29 am

    bagaimana jika kita memakai kebenaran versi Tuhan.

    .
    lah, kebenaran versi Tuhan-nya kaum yg mana ya?😎
    jangan dilupakan mas dana, kita berhadapan dengan heterogenitas keyakinan😎

  14. 14 sahatmrt Oktober 31, 2008 pukul 12:19 pm

    buat saya, sesuatu yang wajar memang belum tentu benar. sekedar ilustrasi :

    wajar, jika : saya tertarik, suka atau bahkan, maaf, birahi pada mahasiswi2 yang berpraktikum di labkom yang saya urus, secara saya laki laki yang masih single, mereka masih muda2, segar, dan menarik.

    tidak benar, jika : oleh karena ketertarikan saya, saya melakukan tindakan2 sexual pada mereka.

    wajar belum tentu benar.

  15. 15 danalingga Oktober 31, 2008 pukul 1:23 pm

    @zsheefa

    Apakah diam tindakan yang benar?

    @isnese

    Oh, baru tahu saya Tuhan itu banyak. Jika memang banyak jadi sulit juga. Gimana kalo Tuhan Tuhan itu diadu dulu hingga tinggal satu?

    @sahatmrt

    Memperkosa pun jadi wajar, karena birahi yang meninggi. Tapi belum tentu benar. Yup, anda mengatakannya dengan pas.

  16. 16 zsheefa Oktober 31, 2008 pukul 1:51 pm

    @dana
    Dalam hal memaknai, kata bahwa diam itu lebih baik dari pada benar, karena benar bersifat pada nilai keberpihakan.
    Contoh:
    anda mengungkapkan benar versi anda belum tentu benar versi orang lain.

    Diam adalah tindakan yang BIJAK (bukan tindakan yg BENAR) Tentu buat orang2 yang berilmu ( mutakaliman ).

    saya setuju TUHAN itu memang banyak. antara lain:
    ..bukankah AIR itu juga TUHAN??
    ..bukankah Udara itu juga TUHAN??
    ..bukankah NASI itu juga TUHAN?? dan lain sebagainya.
    lantas apa sebenarnya definisi tentang TUHAN??
    Demikian
    -salam-

  17. 17 gentole Oktober 31, 2008 pukul 4:17 pm

    Oh, kalo bukan dalam wilayah etika, yah, gak bisa dikaitkan dengan kewajaran dong. Itu sih istilah bloggernya “fallacy”.

  18. 18 Mr. Brain Oktober 31, 2008 pukul 8:28 pm

    kewajaran itu adalah sebuah budaya Dan, budaya tidak mengenal benar salah. toh budaya merupakan suatu kegiatan yang telah melekat turun temurun dan sulit ditinggalkan.
    contohnya gini Dan, saya mau menikah, lalu saya mendaftar ke KUA sekitar kecamatan saya. Di regional tsb para penghulu yang notabene HAJI-HAJI itu menaruh tarif 1-5 juta untuk pernikahan. ketika saya mendebat itu, mereka bilang didaerah sini memang segitu tarifnya dan itu “WAJAR”, padahal administrasi sebenarnya tidak lebih dari 300rb. Mereka merasa itu bukan tindakan korupsi, itu hanya tarif “wajar” daerah itu. Jadi saya yang tidak taat agama ini juga tidak “wajar” walaupun saya “benar”. Nah si HAJI2 yang tau agama itu “wajar” walau tidak benar.

    *ah entahlah.. jadi curhat

  19. 19 zal Oktober 31, 2008 pukul 9:56 pm

    ::kayaknyanya wajar juga Dan “Benar” itu dipertanyakan, sebab soalnya emang senangannya bersembunyi…meski dilapangan terbuka….

  20. 20 Felicity November 1, 2008 pukul 12:07 am

    Dana says: “Oh, baru tahu saya Tuhan itu banyak”…

    Hmmm, Tuhan (mungkin) satu tapi interpretasi akan Tuhan itu yang banyak…

  21. 21 aryf November 1, 2008 pukul 12:58 am

    kewajaran itu adalah kebenaran versi manusia. hasil dr pengalaman dan perjalanan sejarah manusia. dg kata lain, kewajaran adalah hasil dr pd penyesuaian dan adaptasi terhadap lingkungannya. sehingga kebenaran nya sgt nisbi, tergantung dr situasi dan kondisi (waktu dan habitat), serta perilaku dr komunitas (subjek) itu sendiri. wujudnya adalah tatanan norma sosial.

    sering x dan sgt lazim, orang2 yg ingin mencari kebenaran yg non relatif, harus menjalani, mengalami dan melewati segala ketidakwajaran dlm hidupnya serta siap dg segala resiko ketidaknormalan/anomali yg terjadi dlm laboratorium hidupnya.

    pertanyaan terbesar dan terpenting adalah siapa yg berani menjalaninya??? who dare to face it?
    bagi siapa aj yg punya nyali utk itu, hampir bisa dipastikan jika org tsb selamat sampai tujuan, maka ia telah melakukan terobosan terbesar dlm hidupnya. bbrp di antara mereka, munkin saja tercatat dlm sejarah peradaban manusia…dan biasanya kemenangan selalu mengikuti mereka dan ini adalah barometer dr ‘breaktrough’ tsb. dan sudah pasti, mereka inilah yg mengubah arah dan wajah dunia ke arah lebih baik. dan tentu saja mereka tercatat dg tinta emas sejarahπŸ™‚

    ahh..keknya cuma impian..
    *who knows, that`s a secret of human life*

    NB: sepengetahuan saya, mereka2 ini secara pribadi tdk pernah menganggap bahwa kemenangan adalah milik mereka semata, dan hasilnya layak dan wajar utk dinikmati bersama.

  22. 22 pengembarajiwa November 1, 2008 pukul 9:47 am

    Ya…… Tuhan itu memang banyak. Karena Tuhan itu hanya Jabatan/kedudukan yang bertempat di hati. jika Harta yang berkedudukan di hati maka jadilah Harta itu Tuhan baginya. Jika Wanita/Pria yang berkedudukan di hati, maka jadilah Wanita/Pria itu Tuhan baginya. Jika Dukun yang berkedudukan dihati, maka jadilah dukun itu Tuhan baginya. dst, dst, dst……

    Tetapi yang menguasai Tuhan segala tuhan hanya SATU Tuhan. Ialah Yang menjadikan segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada dan kembali lagi menjadi tidak ada.

    Itulah Benar dan kebenaran itu sendiri. selain itu…., ya wajar-wajar aja orang bertuhankan harta, tahta, kedudukan, wnita/pria. TApi Ingat! bahwa wajar yang demikian itu Salah di pandangan Tuhan.

    Jumpailah kebenaran yang sejati itu, agar hidup wajar di sisi-Nya, bukan wajar menurut manusia.

    Salam

  23. 23 tempo November 2, 2008 pukul 2:39 am

    WAJAR artinya WAjib belaJAR..πŸ™‚

  24. 24 aldohas November 2, 2008 pukul 7:48 am

    tergantung sudut pandang dan pilihan.
    misalnya ketika memilih untuk melihat sesuatu dari sudut pandang agama Banyak hal-hal yang jadi terlihat tidak wajar jika dilihat dari sudut pandang budaya.

    Sehingga kebenaran bagi yang satu belum tentu benar bagi yang lain

  25. 25 aryf November 2, 2008 pukul 9:53 pm

    ahh tempo, anda dulunya sudah diberangus, dibakar sampe menghitam dan menghangus.
    ternyata kok msh hidup dan msh sering kluar ingus???

    ahh..ternyata hanya anda selalu kembali hidup utk belajar.
    tak jemu walo sering dihajar.
    tak lupa utk bersyukur dan selalu bersabar.

  26. 26 uhuik November 3, 2008 pukul 9:53 am

    @Zsheefa
    ..bukankah AIR itu juga TUHAN??
    ..bukankah Udara itu juga TUHAN??
    ..bukankah Nasi itu juga Tuhan??

    jawabnya TENTU BUKAN TUHAN yang wajib disembah, AIR, udara, NAsi, dan juga uang sebenarnya ciptaan Tuhan, tajalli Tuhan, Manifestasi Tuhan tetapi itu semua bukanlah Tuhan itu sendiri. Tapi memang ada yang memberhalakan air, udara, nasi, uang dll. Ada juga yang menjadikan thaqut uang. Semua indikator kesuksesan, tujuan hidup, alasan tindakan berdasarkan pada uang.
    Manusia sendiri merupakan ciptaan Tuhan yang mempunyai unsur ilahiah, ruh Al quds, firman (trackback postingan bung dana deh). Tapi itu bukan alasan untuk menyembah sesama manusia ataupun malah menyembah/memuja diri sendiri, atau kalau sudah merasa kenal diri sendiri lantas merasa dirinya paling benar (tuhan)

  27. 27 ketawa_ketiwi November 3, 2008 pukul 10:06 am

    WTS
    kalau di depkeu artinya Wajar Tanpa Syarat alias pajaknya udah benar.
    kalau di dinas sosial artinya Wanita(bukan wajar) Tuna Susila artinya penyakit masyarakat alias propesi yang tidak benar.
    Jadi wajar kadangkala benar, wajar kadangkala salah.
    Tidak wajar kadangkala benar, tidak wajar kadangkala salah.
    Benar kadangkala suatu kewajaran.
    Benar kadang-kadang terasa tidak wajar.

    definisi kebenaran dan kewajaran kadang-kadang tergantung acuan yang dipakai.

    *tetap menganggap korupsi suatu kesalahan lho.

  28. 28 sigid November 3, 2008 pukul 10:16 am

    Ah, saya sepertinya setuju yang ini

    Seharusnya benar adalah benar. Mau itu dianggap wajar atau tidak. Mau itu dilakukan banyak orang atau tidak.

    Seperti kalau naik kereta “senja utama jogja”, tidak beli tiket dan membayar ke kondektur 1/4 harga resmi adalah dikatakan … wajar😦

  29. 29 zsheefa November 3, 2008 pukul 1:40 pm

    @uhik
    Nasi adalah termasuk tuhan yg wajib saya sembah namun tidak dengan sesungguhnya.
    Kapan Nasi saya sembah?? ketika saya lapar maka saya menyembah(membutuhkan)Nasi, namun setelah kenyang tidak lagi saya sembah artinya tidak saya sembah Nasi dengan sungguh2 (ada putusnya )dll.

    hanya satu yang saya sembah dengan sungguh2 yaitu Allah. sungguh2 artinya tidak ada putusnya karena dialah..Al Hayyun.ketahui dahulu MAKNA dari TUHAN biar tidak bias kemana2
    demikian
    -salam-

  30. 30 uhuik November 3, 2008 pukul 4:17 pm

    w
    a

    @Zsheefa

    ha ha ha
    wah ada kekurang fahaman tentang definisi sembah dari anda,mosok nasi disembah kan lama-lama jadi basi, enaknya nasi ya dimakan campur thengkleng, soto, rawon atau, sate.
    Di kethoprak atau ludruk itu dalam cerita rajanya juga disembah, tetapi tetap aja ludruk tidak lantas menjadi tuhan.
    Tuhan tidaklah identik ‘dibutuhkan’, tetapi ‘yang selalu dibutuhkan’. Logikanya, nasi kadang-kadang nggak dibutuhkan (karena udah makan burger, donat, atau ayam goreng doang) jadinya nasi bukan tuhan.

    Memang perlu diketahui makna dari Tuhan, kalau literatur islam sich ditinjau dari tauhid, jadi makna Tuhan secara, rubbubiyah, uluhiyyah, maupun tauhid asmaul husna.

    Tetapi kadang-kadang saya memang butuh melirik lama foto pada postingan komen Tuuan Zsheefa, sebab kalau menyembah nggak kelihatan kacamatanya….

    *klepaak…. (dilempar sandal)

  31. 31 almascatie November 3, 2008 pukul 7:28 pm

    wajar kalo sayah nulis commetn disini.. wajar kalo sayah anggap sayah yang paleng bener sendiri.. wajarlah kalo sayah dah lama ga maen kesini :p

    wajar – biasa hanya suatu kondisi, kondisi yang dimaknai sebagai lawan dari kondisi yang tidak wajar.. so kalo kebenaran entah agama, ataupun kebenaran yang lain selalu ada dan tidak akan pernah terkotori, kebenaran hanya bsa menjadi kabut ketika manusia turut mencampuri kebenaran tersebut dengan isi kepala mereka, mungkin saja kebenaran dapat lebih jelas sejelas telapak tangan, tapi akan lebih celaka kalo kebenaran menjadi hal yang tidak jelas..
    kebenaran selalu ada, dan penafsiran manusia terhadap kebenaran menjadikan adanya kondisi wajar dan tidak wajar:mrgreen:

  32. 32 almascatie November 3, 2008 pukul 7:33 pm

    oh iya.. sayah dah terlalu banyak bingun dengan kebeneran yang diklaim oleh semua orang, yang selalu menganggap dirinya benar..
    bagi sayah dunia itu bulat dan matahari mengelilingi bumi, air selalu mengalir dari atas ke bawah dll…adalah sebuah kebenaran mutlak dan universal yang di amin-i oleh seluruh ummat manusia tanpa perdebatan dan ngotot2 siapa yang benar…πŸ˜€

  33. 33 almascatie November 3, 2008 pukul 7:39 pm

    hetriks aja dah *moga-moga masih wajar karna lama g kesiniπŸ˜€

  34. 34 aryf November 3, 2008 pukul 8:35 pm

    liverpool kemaren kalah bung, setelah sekian lama `hetrik` kemenangan..

    *klepak…memperoleh tendengan bebas dr spanyol*

  35. 35 cK November 3, 2008 pukul 11:43 pm

    yang wajar belum tentu benar…πŸ™„

  36. 36 zsheefa November 4, 2008 pukul 9:24 am

    @uhuik
    TUHAN itu adalah Sang Pemelihara,
    ketika lapar apapun yang akan memelihara kita menjadi kenyang itulah tuhan.
    namun dalam hal ini tidak kita butuhkan(sembah)dengan sesungguhnya krn ada putusnya(setelah kenyang).
    SEMBAH yang dimaksud : PERLU / Butuh

    Yang harus kita Butuhkan(sembah)dengan sesungguhnya hanya Allah (Dzat,sifat,Asma,af’al).
    contoh.
    Al Hayyun, karena dialah yang menghidupkan jirim atau badaniah.
    kalo masih belum faham juga berarti hanya segitu rejekinye
    he..he..he
    demikian
    salam

  37. 37 CY November 4, 2008 pukul 10:23 am

    Wajar kok kamu berpendapat gitu bro… **ups** :mrgreen:

    Ehm.. mungkin analoginya seperti ini :
    Kalau dunia cuma berisi 1 juta orang gila dan 2 orang yang normal. Maka yang 2 itu yang akan disebut orang gila sedangkan yang 1 juta disebut orang normal. Gitu kan bro? hehehe…

  38. 38 Seo Indonesia Review Kontes November 4, 2008 pukul 5:52 pm

    Halo Sore… Numpang lewat dulu… Saya mengundang Anda untuk mengikuti Review Kontes…. Maaf kalau komentar tidak sesuai dengan postingan…
    Salam.

  39. 39 uhuik November 5, 2008 pukul 6:24 am

    @Zsheefa
    Memang Tuhan maha pemelihara, yang membikin kenyang juga Tuhan, sedangkan apapun yang menjadi kita kenyang adalah wasilah (biasanya makluk berbentuk makanan), jadi wasilah/perantaraan bukanlah tuhan, cuma kalau Zheefa menganggap nasi adalah tuhan ya terserah aja, dan mendefinisikan sembah=butuh ya boleh-boleh aja, kalau saya lebh condong menyembah Tuhan itu sebagai suatu kewajiban, artinya butuh gak butuh ya sembah, bete gak bete ya sembah, sembah sembahyang dengan fisik lahir dan batin
    he he he memang rejeki kita berbeda…πŸ™‚

  40. 40 tomy November 5, 2008 pukul 11:30 am

    kebohongan yang diceritakan berulang-ulang akan menjadi kebenaran

    kita semua sejak berumur 35 hari (Jawa : Selapan) sudah dididik untuk saling membenci (yang Islam Srakalan, yang Kristen dibabptis & diajarkan tentang sangkar emas kebenaran relatif, diluar itu kafir atau bidaah):mrgreen: ini adalah kewajaran dalam hidup keluarga & dinyatakan sebagai kebenaran

    manusia sungguh2 menjadi manusia saat ia lahir hingga berumur 35 hari setelah itu ia hanya menjadi komoditas yang kehilangan akar hidupnya

    Tubuh ini bukanlah milikmu, begitupun Engkau bukanlah milik tubuh ini. Bumi, Air, Udara, Api, dan Eter membentuk tubuh ini dan ke sini juga tubuh ini harus kembali. Tetapi Jiwa adalah Abadi, maka apakah gerangan Engkau ini?

  41. 41 wawan setiawan November 6, 2008 pukul 11:45 am

    semua yang ditulis di blog ini dan komennya adalah benar
    yang salah hanya orang yang sekarang berada di penjara. Kalau mau membuktikan tanya saja “apa sih salahmu?”

    Relativitas Menjadi Absolut
    http://alexarussia.blog.friendster.com/2008/11/relativitas-menjadi-absolut/

    Sistem dasar berpikir manusia adalah lingkaran. Lingkaran itu memutar sehingga dua ujungnya berdekatan.
    Genius sangat dekat dengan gila. Titik A dan B yang kontradiksi sebenarnya berhimpitan.

    Lingkaran ini mengakibatkan sistem berpikir manusia sebenarnya subyektive. Karena subyektive maka manusia membutuhkan suatu ukuran untuk mengobyektifkan suatu obyek sehingga bisa dikomunikasikan dengan pihak lain.

    Untuk itu maka perlu memutuskan titik awal dan titik akhir dari lingkaran itu.
    Titik awal dan titik akhir tersebut adalah range/ukuran yang diambil dari sebagian lingkaran sistem berpikir manusia
    Ketika kita mengambil titik awal dan titik akhir itu, maka relativitas menjadi absolut, subyektive menjadi obyektive.

    Orang gila adalah orang yang selalu mengambil titik awal dan akhir yang berbeda dari kesepakatan mayoritas

    Berbeda pendapat terjadi karena perbedaan titik awal dan akhir (range/ukuran) dari orang yang kita ajak bicara dan kita.

  42. 42 pengembarajiwa November 16, 2008 pukul 1:52 pm

    Wah….. sepertinya ada yang lagi debat tentang sembah menyembah nih…..

    Gini aja dah….. menurut si rahasia dalam kekosongan, bahwa :

    Belum sempurna ibadahmu, sebelum mengetahui :


    siapa yang menyembah dan siapa yang di sembah….

    Siapa yang memuji dan siapa yang di puji….

    Siapa yang mengikuti dan siapa yang di ikuti….

    Siapa yang mencintai dan siapa yang di cintai…..

  43. 43 rider_isha November 30, 2008 pukul 7:57 am

    bukan membenarkan yang biasa, tapi membiasakan yang benar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Oktober 2008
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: