Tuhan Yang Pemalu

“Tuhan itu pemalu ya?”

“Heh?!!! Kok kamu bisa berpandangan begitu. Hati-hati kamu bisa dituduh telah menghujat Tuhan. “

“Waduh, bukan niat menghujat. Hanya saja itulah yang terlintas dipikiran ketika Pak Haji dan Om Pendeta sebelah rumah sama-sama menjelaskan bahwa Tuhan itu tidak dapat dilihat. “

“Lah, tidak dapat dilihat bukan berarti karena malu kan?”

“Yah, jika buat manusia sih memang benar. Tapi ini kan Tuhan yang katanya maha-maha. Seharusnnya jika Tuhan memang ingin dilihat ya tentu Dia bisa membuat Dia terlihat. Pasti tahu caranyalah. Maka ketika Tuhan ternyata tidak dapat dilihat maka itu hanya bisa berarti bahwa Tuhan memang tidak mau dilihat. Dan salah satu alasan yang terpikir oleh saya adalah Tuhan itu malu jika dilihat. Yang belum saya tahu kenapa Tuhan malu dilihat ya?”

“Malu kan cuma salah satu alasan saja. Bisa jadi Tuhan tidak mau dilihat demi keselamatan yang melihat. Manusia bisa jadi tidak tahan jika melihat Tuhan. Contohnya Nabi Musa tuh. “

“Ah, tetap saja jika Tuhan mau maka manusia tentu bisa dan tahan melihatNya. Semuanya tergantung mau tidaknya Tuhan. Toh segala sesuatu mungkin bagi Dia bukan? “

” … “

33 Responses to “Tuhan Yang Pemalu”


  1. 1 Catshade November 23, 2008 pukul 11:14 am

    Tapi zaman dulu Tuhan sering hadir, bicara langsung, bahkan menunjukkan mujizatNya dengan leluasa… kenapa di zaman sekarang nggak ya?๐Ÿ˜•

    Btw, Nabi Musa belum apa-apa. Nabi Abraham bahkan pernah sempat bergulat(!) dengan Tuhan. 8)

  2. 2 zal November 23, 2008 pukul 11:19 am

    ::he…he..si penjaga toko aja sebel, kalo kita cuma ngeliat-ngeliat aja Dan,๐Ÿ™‚

  3. 3 advent mardani November 23, 2008 pukul 7:10 pm

    sebenarnya Tuhan itu ada dimana mana ,segala ciptaannya adalah bukti bahwa Tuhan ada ,cuma manusia kadang tidak menggunakan suara hati,tetapi sering menggunakan logika.

  4. 4 danalingga November 23, 2008 pukul 7:22 pm

    @Catshade

    Nah, itu dia. Jangan-jangan karena manusia jaman sekarang adalah manusia buta.

    Eh, nabi Abraham menang nggak tuh?

    @zal

    Makanya jangan diliat liat aja zal.๐Ÿ˜›
    Tapi kalo tidak diliat dulu, tentu tidak membeli bukan?

    @advent mardani

    Weh, berarti bisa dilihat dunk?

  5. 5 mualap November 23, 2008 pukul 8:26 pm

    Menurut saya Dan klo yg punya nama Tuhan itu bisa dilihat nanti Dia gak Maha Suci lagi dong……… aku jujur suka semua artikel2mu danalingga membuka pikiran tentang konsep tuhan…..

  6. 6 frozen November 23, 2008 pukul 10:26 pm

    Hmm… Yang (Maha) Pemalu ya…
    Memang. Kalau dalam Islam (dan ini masih menjadi spekulasi), Tuhan itu memiliki sifat dominan mu’annats (feminin). Kita lihat saja predikat Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang disandang(kan kepada)-Nya. Itu sifat-sifat feminin. Jadi Pemalu masuk kategori ini.
    .
    Tapi tunggu sebentar, Mas Dan. Kalau adjektif Pemalu ini disandang atau disandangkan hanya karena Tuhan ogah dilihat (lalu Ia malu), kok sepertinya kekanak-kanakan ya? Dalam perspektif saya (ya, kita berbagi perspektif saja), bahwa kemungkinan kenapa (hakikat) Tuhan tidak bisa dilihat atau terlihat, adalah lantaran Ia di luar “sini”, ditambah lagi, alat untuk mendeteksi, melihat, dan merasakan Tuhan, tidak berfungsi lebih optimal (sebagai mana seharusnya).
    .
    Saya enggan sekali menggunakan analogi di sini, tapi apa boleh buat. Izinkan sekali ini.
    .
    Angin, ia tak bisa dilihat, namun bisa dirasakan >> maka komponen indera perasa yang masih berfungsi, adalah keniscayaan.
    Amoeba, bakteri, dan makhluk mikro lainnya, tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, kecuali menggunakan alat bantu khusus semisal mikroskop, itu pun dengan pembesaran berkali-kali lipat >> komponen indera penglihat yang masih awas dibantu dengan alat sekunder yang juga masih bisa bekerja optimal, menjadi keniscayaan.
    .
    Nah, sekarang Tuhan. Masalah bercabang di sini. Ada yang menganggap Tuhan itu hanya sebatas konsep, ada pula yang ngotot beranggapan bahwa Tuhan itu adalah sosok/person, ada pula yang beranggapan bahwa Tuhan itu lebur dalam segenap keteraturan alam raya (pantehisme). Jika saya amati, Mas Dana masuk dalam kategori kedua, bahwa Tuhan itu harus berwujud Person (ini mayoritas, dan saya pun masih beranggapan demikian, walau semuanya masih tanda tanya). Tapi oke, kita ambil dugaan bahwa Tuhan itu adalah “sosok”. Titik. Nah, pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana keadaan komponen-komponen primer yang kita miliki agar bisa menangkap pancaran Tuhan sekaligus melihat dan merasakannya?. Jika ada Siti Jenang, pasti beliau akan menyinggung soal “rasa”, dan “rasa” ini bertalian erat dengan kemampuan hati, di mana titik tekannya, adalah terbukanya hati pada sesuatu yang kasat mata. Maka, satu pertanyaan ini yang mesti dan pasti muncul ke permukaan; yakni seberapa bening kualitas hati kita untuk mencapai area tertinggi sebuah pengetahuan yang invisible itu. Ini bisa kita kaji lebih dalam lagi.
    .
    Yap. Postingan Anda ini mengingatkan saya lagi pada “Danalingga” yang dulu. Postingan yang jika dibaca sekilas, nampak sepele. Namun jika ditelaah lebih jauh, ini adalah sebuah wacana yang cukup menarik untuk diperbincangkan (meski jujur, saya tidak tahu apa manfaatnya dalam kehidupan praksis).
    .
    Salam,

  7. 7 sitijenang November 23, 2008 pukul 10:42 pm

    @ frozen
    yak apa iki nyinggung-nyinggung ingsun?:mrgreen:
    Tuhan dalam hal ini pasif ngkali… soalnya menurut ceritanya kan kalo kita mendekat, Dia berlari. mungkin kalo kita pengen banget ketemu/melihat, Dia jangan-jangan (secara perlahan-lahan mungkin) bakal menampakkan diri. lha kalo kalo kita diem berarti kan Dia nungguin aja barangkali.

  8. 8 petak November 24, 2008 pukul 9:31 am

    Betul semua tergantung dengan mau tidaknya Tuhan
    Tapi apa pantas kita melihat Dya
    bukannya ga pede ato apa
    terlalu sombong khan lebih parah

  9. 9 tomy November 24, 2008 pukul 11:25 am

    dalam sufi ada istilah SIRRULLAH, DZATULLAH, SIFATULLAH, SAMPURNANING APNGAL (AF’AL), NURWUJUD … yang dua terakhir populernya
    UJUDULLAH, NUR MUHAMMAD
    Tuhan mewujud dalam segala seperti juga segalanya adalah wujud Tuhan, *mungkin ini pandangan sesat … namun bisa sebagai pengayaan wawasan*
    orang2 dahulu bisa berkomunikasi aktif dg Tuhan bahkan Abraham bisa bergelut dengan Tuhan, dalam nyayian Katolik malah ada syair berikut : KECAPLAH BETAPA SEDAPNYA TUHAN.
    ya..bila Tuhan ada dalam segala & dihayati dengan turut meng-ada bersamaNya ternyata Dia tak pernah menyembunyikan diri..Dia selalu menyapa.

  10. 10 uhuik November 24, 2008 pukul 11:30 am

    Melihat Tuhan, bisa aja tapi memang belum waktunya aja bisa melihat Tuhan. kalau qurb/kedekatan dengan Tuhan dah optimal, mungkin kite-kite ini bisa dapat izin melihat Tuhan, seperti janjiNYA itu”Mereka melihat Tuhannya jelas laksana melihat bulan purnama”,

    Mencium bau surga aja belum kesampaian apalagi melihat Tuhan.

  11. 11 Ade November 24, 2008 pukul 1:55 pm

    *puyeng*
    oot aja
    kapan ktmuan lagi dan
    lama ga sua neh

  12. 12 akokow November 24, 2008 pukul 2:16 pm

    ya, mungkin dia menganggap manusia tidak layak untuk melihat dirinya :p

  13. 13 illuminationis November 24, 2008 pukul 3:39 pm

    bisa kok lihat Tu(h)an, tapi harus merem

  14. 14 daeng limpo November 24, 2008 pukul 3:43 pm

    katanya sih “Tuhan punya rencana”

  15. 15 lovepassword November 24, 2008 pukul 4:26 pm

    Mungkin kita ini lupa bahwa kita pernah melihat Tuhan

  16. 16 darnia November 24, 2008 pukul 5:39 pm

    Kediaman Tuhan adalah keharusan, karena kelemahan hati manusia
    (Syaikh Rumi dari buku This Longing)

  17. 17 danalingga November 24, 2008 pukul 9:34 pm

    @mualap

    Ah, kesucian macam apa yang hanya karena dilihat lalu hilang.

    @frozen

    Njrit, lebih panjang dari artikelnya.

    Yah, mungkin kamu benar. Cuma melihat kan tidak harus pakai mata. Rasa itu salah satu cara melihat menurut saya.

    @sitijenang

    Sesuai prasangka hambanya?:mrgreen:

    @petak

    Pantas tidaknya juga tergantung Tuhan sepertinya.๐Ÿ˜‰

    @tomy

    Nah, itu dia. Ada apa dengan orang jaman sekarang sehingga tidak bisa seperti orang jaman dulu ya?

    @uhuik

    Hem, ternyata memang bisa dilihat.

    @Ade

    Ke wetiga yuk.

    @akokow

    Kalo sudah begitu, manusia bisa apa selain nurut.

    @illuminationis

    Hem, melihat tanpa mata.

    @daeng limpo

    Yup, katanya sih gitu.

    @lovepassword

    Sepertinya sih. *mengingat ngingat*

    @darnia

    Ah, ternyata karena manusia.

  18. 18 frozen November 24, 2008 pukul 10:17 pm

    Njrit, lebih panjang dari artikelnya.

    …๐Ÿ˜•
    maafken Mas, saya juga baru nyadar
    lain kali nggak lagi deh u_u
    *itu jg kalau nggak gatal*:mrgreen:

  19. 19 illuminationis November 24, 2008 pukul 10:57 pm

    @ dana yup, yg mau dilihat ga bisa dimasukin kategori namarupa sih… kalo mau lihat cewe cakep kan beda sarannya: buka mata lebar-lebar๐Ÿ˜€

  20. 20 Rita November 25, 2008 pukul 5:02 am

    Hehehe….. speechlesss…:D

  21. 21 dr.Adhika November 25, 2008 pukul 10:09 am

    tidak dapat dilihat bukan berarti tidak ada, seperti bakteri, virus, dan mikroorganisme lain. Tuhan malu untuk dilihat seperti kasus ujian sekolah. jawaban soal ujian itu tidak akan diperlihatkan kepada siswa, agar si siswa ngerjain ujian dengan bekerja keras. setelah selesai ujian baru diperlihatkan jawabannya.siswa yang bekerja keras akan dapat nilai bagus, sedang yang ga kerja keras dapat nilai buruk. seperti itulah pencarian Tuhan, Tuhan akan menampakkan dirinya ketika kita bekerja keras dalam usaha pencarianNYA. bila kita kerja keras akan tampak semua kebenaran yang selama ini masih disembunyikan, tapi jika tidak kerja keras, kebenaran akan terus tersembunyi.

    kita bicara tentang proses, bila Tuhan langsung menampakkan dirinya maka manusia tidak akan melalui tahapan proses yang akan membentuknya menjadi insan kamil.

    suatu proses pencarian Tuhan

  22. 22 tomy November 25, 2008 pukul 10:46 am

    Nah itu dia Kang, menurut saya orang jaman kini punya masalah kekacauan berpikir dalam menghayati Tuhan.๐Ÿ˜€
    Tuhan yang dihayati sepanjang sejarah perjalanan hidup manusia dalam berbagai macam budaya tidak seperti Tuhan yang didoktrinkan dalam pelajaran agama sekarang yang seakan Tuhan adalah suatu sosok yang bersembunyi di langit lapis ketujuh. Yang untuk bertemu denganNya kita harus dalam keadaan yang sungguh suci lebih dulu.
    Kita terlalu banyak memberikan syarat pada hidup kita sendiri.. sehingga untuk bisa meRASA & menghayati untuk kita SUNGGUH HIDUP saja kita tak bisa lagi karena telah terperangkap dalam segala macam persyaratan tadi.
    Dalam mistik Jawa ada istilah RASA SEJATI yaitu RASANING URIP, pemahaman, penyadaran & pencerahan bahwa kita ini hidup. HIDUP inilah yang dalam pegelaran wayang diibaratkan sebagai blencong atau sinar lampu, kalau tiada blencong, geber/layar tak bisa dipasang, dalang tak bisa memainkan wayang, gamelan tak mungkin ditabuh.
    Nah inilah kekacauan pikir itu, manusia jaman sekarang tak mampu untuk kembali pada keberadaan diri, kembali pada RASA URIP itu, lalu mengapa mencari manunggaling kawula gusti? Bahasa Jawanya TANGEH LAMUN, MUSTAHIL UNTUK DICAPAI
    Namung semanten atur kawula menawi wonten lepat nyuwun pangapunten :mrgreen

  23. 23 mujahidahwanita November 25, 2008 pukul 12:21 pm

    Apakah kita terlebih dahulu harus bisa melihat Tuhan, setelah itu kita percaya dan Yaqin akan adanya Tuhan.

    ataukah kita tidak bisa melihat Tuhan Tetapi kita Yagin dan percaya bahwa Tuhan itu ada dan Maha Nyata.

    Saya mungkin tidak bisa melihat Tuhan melalu Mata Zahir , Tetapi saya Yaqin dan percaya kalau Tuhan selalu senantiasa melihat Saya

    Salam

  24. 24 unknown entry November 25, 2008 pukul 2:40 pm

    ktanya sih:
    yang mengenal dirinya adalah yg mengenal Tuhannya

  25. 25 suamimalas November 25, 2008 pukul 4:40 pm

    saya sering kesulitan mencari pulpen waktu sibuk melakukan sesuatu…padahal pas keadaannya tenang tuh pulpen ada di depan mata dan gak kemana-mana…

    mungkin kasusnya sama Tuhannya sih ada…sayanya ajah yang sibuk nyariin….

    “Tuhannya mana!!! Tuhannya mana!!! Perasaan tadi ditaruh sini deh!?!?!?”

  26. 26 alan November 25, 2008 pukul 6:14 pm

    hehehe…. iya, manusia mengidealkan tuhan, merefleksi pada diri manusia itu sendiri. Pencitraan tuhan adalah pencitraan manusia itu. Manusia menjadi “citra Allah” sebagai doktrin Katholik. Tapi di lain pihak beberapa dari Teolog Protestan, masih belum menerima kalo pencitraan Allah bdihubungkan pencitraan manusia. (CMIIW, bandingkan antara Karl Barth – Karl Rahner).
    Hindu, mencitrakan Allah sebgai Wisnu, yang berperan sebgai sungguh2 manusia. Baik sebagai seorang pengembala, Raja, Panglima perang, dll.
    Untuk Islam sendiri, saya tidak tahu….๐Ÿ™‚

    Bagi saya sendiri, Dia itu memang pemalu koq. Kayak cewek perawan gitu….hehex3

  27. 27 Alex November 27, 2008 pukul 6:03 pm

    Bro, aku baru aja dapat sms dari Tuhan.
    Dia bilang udah nyobain segala cara ( paling ekstrim, katanya udah berdiri mengangkat tangan di depan kamu, sambil menggapai2 ), tapi kamu nggak juga ngeliat Dia.
    Akhirnya Dia coba ngasi kamu cara baru,
    – Coba kamu merem, santaikan seluruh tubuh dan pikiranmu.
    – Setelah benar2 santai, tersenyumlah setulus2nya ( supaya otakmu tidak berpikir lagi).
    – Sentuh tengah2 dada kamu dengan satu jari.
    Dia bilang sih itu cara melihat dengan ‘mata batin’.
    Aku sih nggak ngerti apa maksudnya, tapi kamu coba aja deh. Aku cuma nyapaikan sms Nya aja.
    Ok bro . .

  28. 28 sufimuda November 28, 2008 pukul 5:25 pm

    mmm… Tiap saat saya jumpa Tuhan dan saling berpandangan dengan mesra, Tuhan tidak malu justru saya yang sering malu en tersipu๐Ÿ˜‰

  29. 29 danalingga November 29, 2008 pukul 8:33 am

    @dr.Adhika

    ya, ya, mungkin hanya belum terlihat saja.

    @tomy

    Betul kang, kebanyakan kita ternyata bertuhankan imajinasi yang dibentuk dari cerita-cerita turun temurun yang disebut agama itu.

    @mujahidahwanita

    Yah, melihat kan tidak perlu dengan mata zahir. Cuma jika sama sekali tidak pernah melihat, jangan jangan keyakinanmu itu hanyalah pada sebuah imajinasi saja.

    @unknown entry

    Sepertinya benar begitu.

    @suamimalas

    Memangnya situ naruh Tuhan dimana?

    @alan

    Jangan jangan kamu tokoh dialog itu?๐Ÿ˜›

    @Alex

    Terimakasih atas smsnya. Lain kali bilang agar Tuhan langsung sms ke saya saja.

    @sufimuda

    Berarti sudah ketemu. Kalo yang ngomong di artikel kondisinya belum ketemu, jadi berimajinasi kalo Tuhan itu pemalu. Entah benar atau tidak.

  30. 30 joesatch yang legendaris November 29, 2008 pukul 9:00 am

    ndak seru, oom, kalo tuhan itu keliatan. bisa2 ndak ada maksiat lagi di dunia ini. mau ngamar sama orang yang baru kenalan aja masak sambil diliatin sama tuhan? bisa2 malah nggak jadi berekspresi๐Ÿ˜ˆ

    saya suka kemaksiatan soale. jadi ada kerjaan buat menginsyapkan orang, kekekeke…

  31. 31 danalingga Desember 1, 2008 pukul 9:49 pm

    Oh, begitu rupanya. Ternyata memang Tuhan punya rencana sendiri.

  32. 32 goddess Desember 27, 2008 pukul 2:39 pm

    *baca post ttg diri sendiri*
    *tersipu*
    Duh, gak nyangka sebegitu ngebetnya kamu pengen liat saya,
    bikin saya makin malu aja.
    *ngumpet lagi*

  33. 33 Deva Februari 26, 2009 pukul 10:27 pm

    sebelum kita ada dalam tubuh ini kita malah sudah bersatu dengan Tuhan, karena tubuh ini dan seabrek nafsu kita yang jadi tabir akan wajahNya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

November 2008
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: