Perjalanan

Jenar, saat itu sudah memasuki usia pensiun dan memang sudah pensiun. Hidup buat Jenar saat itu bukan kerja lagi, melainkan untuk dinikmati. Alasan menikmati hidup itulah , sehingga punya keinginan untuk jalan-jalan keliling kota. Jalan-jalan tanpa ada beban. Hanya menuruti kata hati. Juga ingin yang seakan memang terus mendesak untuk melaksanakan sebuah perjalanan. Perjalanan yang mungkin saat ujung hidup semakin mendekat. Untuk dinikmati.

Seorang teman dekat bersikeras untuk menemani. Walau Jenar sebenarnya sudah menolak karena ingin menikmati perjalanan dalam kesendirian. Berjalan dengan diri sendiri. Namun akhirnya dia membolehkan juga, karena si teman tampaknya memang sangat ingin ikut. “Hem… mungkin menang sudah harus begini.” Suara dalam kepala Jenar menggema seakan wahyu. Akhirnya walau dengan rasa enggan, dia mengijinkan juga si teman menemani.

Mulailah perjalanan Jenar bersama seorang teman. Sebuah perjalanan yang menggoreskan salah satu lagi kisah hidup Jenar. Mungkin akan menjadi perjalanan terakhir. Perjalanan di ujung hidup. Cerita ini pada senja merah yang sedang bercengkrama dengan bumi. Binar-binar mentari terasa sejuk menghangatkan.

Pengalaman perjalanan dimulai. Seperti sudah ada skenario sebelumnya. Saat sedang melintas di jalan protokol yang asri dengan pohon-pohon rindang menaungi di kanan kiri. Terlihat sebuah gereja kuno, menyebarkan aroma mistis yang tidak terjelaskan. Dalamnya sedang dilakukan kebaktian. Terdengar nyanyi pujian kepadaNya. Tiba-tiba saja, tanpa peringatan apa-apa,Jenar membelokkan mobil mengarah ke halaman gereja tersebut.

Sang teman yang katanya adalah seorang muslim sejati, mulai menjadi bertanya-tanya. Sang teman tahu benar bahwa Jenar juga seorang muslim. “Jadi ngapain ke gereja?” resahnya yang tidak di ungkapkan. Dia merasa harus berbaik-sangka saja ” Ah, paling Jenar hanya ke halaman saja untuk menumpang parkir di situ.” Namun alangkah kagetnya, seperti melihat sang izrail berdiri di hadapan hendak mencabut nyawanya, setelah menyadari bahwa Jenar ternyata malah memasuki gereja. Teman tersebut menjadi sangat kebingungan.

Dalam kebingungan tersebut dia memutuskan menunggu di luar karena dirinya tidak akan pernah mengijinkan dirinya untuk memasuki tempat ibadah kaum kafir. Apalagi ketika ibadah sedang di lakukan. Itu sama saja mengakui ajaran mereka yang sangat bertentangan dengan Islam yang dia ketahui semenjak dari kecil. Saat itu, sungguh dia merasa si Jenar itu sangat telah tersesat sekali. Apalagi ketika ternyata Jenar setelah waktu lama, tidak keluar-keluar juga. Bukankah berarti Jenar mengikuti ibadah kaum kafir itu? Kepalanya mulai berdenyut tidak karuan.

Setelah sekian saat si teman menikmati segala pikiran yang bergolak liar akibat kesesatan Jenar. Sungguh membuat kepalanya merasakan pusing tujuh keliling. Jenar akhirnya keluar bersama para umat kristiani. Ibadah telah selesai. Ibadah umat Kristen. Tapi ada Jenar diantara mereka. Semua keluar dengan senyum cerah dan damai. Tampak Jenar berjalan dengan santai. Menikmati aura kedamaian yang tersebar di udara.

Melihat semua itu. Ingin sekali sang teman menceramahi Jenar. Menyadarkannya betapa kesesatannya harus diakhiri saat itu juga. Tapi keinginan tersebut masih bisa di tahannya karena dia masih merasa waras dengan tidak memulai sebuah keributan di depan gereja. Di tengah umat kristiani. Apalagi ini menyangkut mereka. Dia memutuskan untuk menyampaikan pendapatnya nanti saja saat mereka berdua saat pulang ke rumah. Maka dengan muka yang menyiratkan rasa penasaran, dia kembali ke mobil. Mengikuti Jenar yang hanya tersenyum damai. Melangkah ringan menuju mobil. Tanpa beban.

Setengah jam kemudian. Tiba-tiba Jenar kembali membelokkan mobil. Kali ini sang teman bahkan lebih kaget lagi. Betapa tidak, ternyata Jenar mengarahkan mobil ke halaman sebuah Vihara. Tempat ibadah kaum yang bahkan lebih kafir lagi menurut sang teman. Kaum pemuja patung. Kaum yang tidak mengenal Tuhan sama sekali. Sedikitpun tidak. Kaum yang pandangannya sangat bertentangan dengan dogma-dogma dalam agamanya.

Sang teman hanya mengurut dada. Tanpa sempat mencegah. Jenar masuk ke tempat ibadah tersebut. Sebuah Vihara tua . Juga menyebar aroma mistis yang sama seperti gereja tua sebelumnya. Tidak seperti di gereja tadi, karena penasaran maka kali ini sang teman memberanikan diri mengintip ke dalam. Rasa kesedihan, kemarahan, dan keheranan serasa bercampur menari-nari dalam emosinya ketika dia mendapati Jenar tampak sedang khusyuk berdoa di depan patung Buddha.

“Ah, sungguh telah tersesat temanku ini ” batinnya nelangsa. Pedih hatinya membayangkan siksa neraka yang sungguh mengerikan. Neraka menurut cerita yang dia dengar sejak kecil. Menakut-nakutinya ketika hendak berbuat sesuatu yang dianggap bertentangan dengan Islam. ” Kasihan Jenar jika begini terus. Pasti sudah menjadi penghuni neraka. Akan kusadarkan. Apalagi sekarang kan sudah di masa tua, sungguh sayang jika masuk neraka jahanam itu. ” tekadnya dalam hati.

Setengah jam kemudian Jenar keluar. Sang teman sudah siap memberondong dengan nasehat-nasehat. Namun ketika melihat kali ini senyum damai Jenar telah di sertai dengan wajah bercahaya lembut. Ada semacam dorongan di hati si teman yang mencegahnya. “Nanti saja memberikan pandangannya akan segala tindakan sesat ini.” Pikirnya kemudian. Maka seperti dejavu. Dia kembali mengikut langkah Jenar yang tampak ringan tanpa beban menuju mobil.

Setelah kurang-lebih satu jam berlalu. Selama itu pula sang teman tenggelam dalam kesibukan pikirannya. Memikirkan bagaimana cara menasehati Jenar. Yang dalam pikirnya sungguh telah jatuh ke jalan yang sesat. Tiba-tiba mobil telah berhenti di halaman sebuah Pura yang tampak megah dalam balutan keklasikannya. Lagi-lagi menyebar aroma mistis seperti kedua rumah ibadah sebelumnya. Sang temanpun tersadar dari pikirannya yang melang-lang buana. Jenar membuka pintu mobil dan turun. Sang teman kali inipun tidak sempat untuk mencegah Jenar memasuki Pura tersebut. Atau memang dia sudah tidak berniat mencegah?

Sang teman tampak tidak peduli atau mungkin tidak merasa akan aura mistis tersebut. Bagi dia. Pura adalah tempat ibadah para pemuja dewa-dewa yang hanyalah dongeng buatan manusia. Hasil imajinasi. Tentu saja para pemuja dewa tersebut jelas-jelas kafir. Tidak ada keraguan. Kembali sang teman melihat bagaimana Jenar berdoa di dalam Pura. Di depan patung entah apa. Air mata menetes di pipi sang teman, ” Sungguh menyedihkan. Temanku ternyata telah tersesat sedemikian jauhnya. Padahal saat ini telah di usia senja yang sebentar lagi pasti akan menghadap Tuhan dan mempertanggungjawabkan kesesatannya ini”. Tekadnya diperkuat kembali, ” Akan kusadarkan Jenar dari kesesatannya!”

Jenar keluar setengah jam kemudian, dengan senyum damai, wajah bercahaya, dan kebahagiaan terpancar . Sang teman yang dengan tekadnya untuk menyadarkan Jenar, langsung memeberondong tentang bagaimana tersesatnya Jenar. Sesat karena beribadah dan berdoa di tempat ibadah orang-orang kafir. Yang sudah pasti akan di laknat Allah, dan di tempatkan di neraka jahanam paling dasar. Dan meniscayakan agar Jenar segera bertobat. Disodorkannya berbagai dalil tanpa ampun.

Dengan senyum di bibir, Jenar menenangkan teman yang tampak kalap.

“Teman yang sangat kukasihi. Terimakasih atas kekhawatiranmu, dan usahamu untuk menunjukkan mana jalan yang tidak sesat. Semua itu menunjukkan bahwa kau memang seorang teman. “

Si teman tampak terharu.

“Tapi teman, kau katakan aku telah masuk ke Gereja, Vihara, dan Pura. Bahkan kau mengatakan aku telah melakukan ibadah mereka. Padahal menurut kesadaranku aku tidak pernah ke Gereja, Vihara, dan Pura. Apalagi beribadah sesuai cara penganutnya. Tidak mungkin kulakukan semua itu teman. “

“Tapi aku lihat sendiri kau melakukannya. Apa mungkin saat itu kau kerasukan? Atau mungkin terhipnotis? ” tanya sang teman. Teringat salah satu adegan sinetron islami yang sering ditontonnya. Atau mungkin ingatan dari pola-pola pemurtadan yang selama ini di tanam dalam dirinya, sedari kecil.

“Ah teman kau ada-ada saja, tidak mungkin saya melakukan tindakan kafir begitu di ujung usia saja. Tidak mungkin itu teman. Sebab jika begitu sama saja saya memastikan tempat di neraka jika begitu.”

“Lah , aku melihat sendiri Nar. Kau memasuki gereja, vihara, dan pura. Dan tidak berhenti cuma memasuki. Malahan kau beribadat di dalamnya. Sungguh sesat. Jadi akidahmu sepertinya harus diluruskan. ” Jelas temannya dalam rasa prihatin karena menganggap kemungkinan Jenar terasuki Jin kafir, atau mungkin malah sudah gila.

“Hehehe… Sabar dulu teman. Dengarkan dulu penjelasan saya.” seloroh Jenar sambil cengengesan. ” Begini, ketika kau lihat saya sedang memasuki gereja. Maka sebenarnya saya melihat Allah di pintu gereja. Dia mengundang saya untuk mengunjungi salah satu rumahNya. Ketika kau menganggap saya sedang turut ibadah kaum kafir. Sebenarnya saat itu saya sedang dalam suasana suka cita yang tiada taranya karena Allah berkenan berdialog. Setelah selesai berdialog, tampaknya saya memahami sebuah makna yang mendamaikan resahnya jiwa . Allahpun menjanjikan akan mengundang saya ke rumahnya yang lain, demi mengalami pemaknaan yang lain lagi. “

“Dan teman, ketika kau melihat aku memasuki vihara. Maka sebenarnya dalam kesadaran saya saat itu begitu cepatnya Allah melaksanakan janjinya . Tampak Dia di depan pintu tersenyum, mengajak saya segera menghampiri. Dan ketika kau lihat saya berdoa, maka saat itulah saya sedang berdialog denganNya. Berusaha untuk memahami pemaknaan selanjutnya , yang sedang dijelaskan secara langsung. Saat itu saya memahami makna tentang cahaya yang memabukkkan teman. Bukankah dalam kitab agama kita begitu penting akan cahaya ini? Dalam ayat an nuur kalo tidak salah. Dan saat itu aku di janjikan akan mengalami pemaknaan yang lain lagi di rumahNya yang lain teman, masih dalam pengaruh rasa damai dan mabuk cahaya aku melangkah melanjutkan ke langkah selanjutnya. “

“Dan terakhir teman, ketika kau melihat aku sedang memasuki Pura. Maka dalam kesadaranku saat itu, Allah ternyata memenuhi janjinya secepat yang janji pertama. Dan berdiri di depan pintu menyambutku yang sudah sangat penasaran akan janji pemaknaan kali ini. Maka ketika kau lihat saya sedang berdoa di dalam, maka sesungguhnya saat itu kembali saya berdialog denganNya. Dan akhirnya memahamai tentang kebahagiaan sejati teman.”

“Dan setelah ketiga pemaknaan dari Dia yang maha memaknai, maka sepertinya saya sudah siap untuk kembali kepadaNya, teman. Pulang ke rumah sejati. ”

Sang teman kehilangan kata-kata. Hanya memandang wajah Jenar yang dihiasi senyum damai, wajah bercahaya , dan kebahagiaan terpancar.

Desir angin menghantar kembali
Anak manusia yang senantiasa merindu
Kekasih sejati yang menanti
Mereka kembali ke asal

Maka Kembalilah wahai
Jiwa-jiwa yang tenang
Jangan kau tunda lagi.
Karena memang sudah tidak perlu.
Segeralah!

22 Responses to “Perjalanan”


  1. 1 Daeng Limpo Desember 18, 2008 pukul 2:28 pm

    masih banyak rangkaian puisi yang belum sempurna kurangkai, namun setelah membaca puisimu kutemukan sebuah tempat perhentianku sebagai penutup.

  2. 2 unknown entry Desember 18, 2008 pukul 5:06 pm

    memang menyejukan y dia itu?

  3. 3 zal Desember 18, 2008 pukul 7:59 pm

    ::fuuh..macam sedang nongkrong di simpang pasar brastagi di sore hari…alamaak…sedap kali untainnya dan…

  4. 4 Islam Indie Desember 18, 2008 pukul 8:47 pm

    namanya bukan jenar, tapi dia –entah mimpi entah nyata yang tak ada bedanya– berjalan-jalan seperti setengah melayang dari satu rumah ibadah ke satu rumah ibadah lainnya. ah, hening. bening. dingin. semua orang terlihat baik dan taat beribadah..

    rasanya indah, rasanya damai..
    sampai kesadarannya tiba, tangannya berusaha meraih pegangan agar tak lagi melayang. ia inget seorang teman yg bisa diajak jalan-jalan ke tempat-tempat itu. e, malah di suruh duduk dan menunggu teman itu. ah, kenapa tak di hubungi saja teman itu? begitu pikirnya. tapi katanya duduk saja tunggu di sini. maka dia menunggu temannya tiba di sana, sambil mengamati orang-orang yg beribadah. hatinya tenang. asyik mengamati semua yang beribadah dengan ringan.

    namanya bukan jenar. berjalan setengah melayang dari satu rumah ibadah ke satu rumah ibadah lainnya. dan kemudian terduduk mengamati kesibukan ibadah itu, menanti temannya tiba. teman berbagi, tentang sebuah perjalanan…

    namanya bukan jenar. siapakah dia?

  5. 5 Haris Suryanegara Desember 18, 2008 pukul 11:47 pm

    Nah, itulah yang saya agak sayangkan dari umat beragama. Ketika agama ada untuk mendamaikan, yang terjadi justru kadang berbeda.🙂

  6. 6 tren di bandung Desember 20, 2008 pukul 11:55 am

    orang yang mengikuti orang kebanyakan,
    umumnya selalu tidak jauh orang kebanyakan

    tapi,
    seseorang yang berani berjalan sendirian
    kemungkinan besar akan mendapati dirinya
    berada di tempat yang
    belum pernah di datangi orang lain

    dunia ini terus meluas dan harus terus meluas
    kalau tidak meluas maka akan menyempit
    sekarang sudah mulai terasa sempit khan
    maka perlu mereka yang menemukan tempat baru itu

    ibarat matahari
    ketika mereka sampai maka menyinari segala sesuatu
    yang sebelumnya gelap menjadi nampak nyata dan jelas

    selamat menemukan tempat-tempat kedamaian baru itu
    dan kalau sudah sampai kirim surat ke kita yah…

  7. 7 zsheefa Desember 20, 2008 pukul 2:22 pm

    yang dialami jenar itu mah sah2 saja bahkan bisa saja keesokan senja dia beribadah dikeempat tempat dalam satu waktu yang bersamaan..!!! why not??
    salam

  8. 8 illuminationis Desember 20, 2008 pukul 7:21 pm

    dogma dan neraka itu apa tho?

  9. 9 frozen Desember 21, 2008 pukul 12:17 pm

    Wah… ini… setidak-tidaknya menyinggung Passing Over, nih😀
    Pengembaraan spiritual ke jantung agama lain.
    .
    Tapi… kalau itu benar passing over, mana adegan “coming back”-nya Jenar ya…😕
    .
    Jika endingnya ditambah dengan kembali ke Islam (secara fisik ia masuk ke mesjid dan keluar dalam keadaan cerah pula, bakal sempurna tuh kayaknya pengembaraan spiritualnya Jenar).

  10. 10 sitijenang Desember 21, 2008 pukul 9:53 pm

    sangkan paraning dumadi?😎

  11. 11 godamn Desember 21, 2008 pukul 10:38 pm

    Sebuah perjalanan….
    ya sebuah perjalanan dari diri yang suci..
    untuk melihat, mendengar, mencium, meraba, dan merasai diri..

    Dalam biji tidaklah terlihat akar, batang, daun, kembang, buah.
    semua terjabar hanya dalam waktu..
    tanpa kelemahan tak ada kekuatan…
    tanpa kegelapan tak nampak cahaya..
    tanpa kefanaan tak terbuktikan yang wujud..
    tanpa mayapada tak terjabar semua kehendak sang kuasa…

    untuk itulah Adam, sang ketiadaan tercipta.
    Untuk menanam benih kehendak
    untuk menanam biji kuasa…
    Untuk menyemai cinta
    Sang Iblis tak kuasa
    Sang malaikat tak berdaya
    Hanya sang kekasih yang sanggup menanggung derita…
    menenun benang rasa diantara kasih sayang dan angkara murka
    menjadi sebuah mahakarya

    Maulana berkata kepadaku,
    ketenangan dalam gejolak adalah irama
    temukanlah iramanya anakku… dan menarilah.
    biarlah walau masih kaku dan terpatah-patah
    Kau hanya perlu tenang dan menemukan iramanya

    Suatu saat nanti…
    Tak perlu kau maki orang yang tak bisa menari,
    mereka telah menari,
    mereka hanya belum menemukan iramanya,
    Bila sanggup ajarkanlah,
    bila tidak tinggalkanlah,
    biarlah aku yang akan mengajar mereka bersama sang Mustafa.
    karena Mustafa telah berkata…
    Maafkan mereka ya tuhanku,
    mereka berbuat seperti itu karna mereka tidak tahu,
    aku akan selalu membimbing mereka
    sepanjang masa.

    menarilah saudaraku… bersamaku….
    dalam irama yang sama,
    suatu tarian akan selaras
    walau dalam gerakan berbeda…
    mahakarya biarlah hanya bagi Dia
    bagi kita hanya asyik menari bersamaNya

    Dia hanya ingin kita menari,
    dalam irama semangat dan cinta
    bersama Maulana, Mustafa, Musa dan Isa
    bersama Sidharta dan Arjuna
    bersamaku…
    bersamaNya
    dengan namaNya
    dalam kuasaNya

    tak perlu dirisaukan kata aku, engkau, dia, kita dan mereka
    semua kata itu hanya terpakai jika kita bicara…
    saat ini hanya ada kita…
    dalam kita,
    sungguh tiada pernah akan kulihat engkau,
    tiada pernah akan aku memberi maupun menyakiti,
    selain kepada diriku sendiri…

    itulah yang kau rasa,
    kepedihan mereka adalah kepedihanmu…
    kebahagian mereka adalah kebahagiaanmu…
    sungguh tak akan ingin engkau melukai dirimu sendiri…
    yang kau inginkan hanyalah rasa bahagia…
    dalam kita…
    bersamaNya.

    Dia sungguh di sini saudaraku….
    Dia tak pernah pergi, Dia selalu di sini.
    Janganlah percaya ilusi,
    Kita tak pernah pergi,
    Kita tak perlu kembali,
    Sungguh Dia di sini
    bersama kita…
    untuk menari bersama,
    supaya terjabar seluruh kehendak, kuasa dan cinta…

  12. 12 Uhuik Desember 22, 2008 pukul 7:42 am

    Ketika kubaca blog pada sekuen judul ini, kulihat ulil absar abdalla seolah yang mempostingnya…

  13. 16 berita politik Oktober 24, 2014 pukul 12:53 am

    sangat jelas banget tulisannya

  14. 20 berita otomotif Oktober 24, 2014 pukul 1:30 am

    perjalanan singkat tapi capeeee

  15. 21 film terbaru Oktober 24, 2014 pukul 1:39 am

    perjalanan yg menyenangkan yaaaa

  16. 22 berita hiburan Oktober 24, 2014 pukul 1:47 am

    perjalanannya udah smpe mana gan ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Desember 2008
S S R K J S M
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: