Nenek

…bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu… dan bisa jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal itu baik bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.

Perubahan telah banyak kualami dalam hidup ini. Terutama setelah berusaha dengan jujur menapaki jalan spiritual. Berusaha jujur mengikuti apa kata hati.

Dalam perenungan. Saya jadi teringat tentang nenek saya. Yang termasuk salah seorang dukun besar di daerah asal saya. Jangan salah, nenek saya iu sekarang sudah beragama. Padahal dulu juga sudah beragama sih, cuma agama yang tidak diakui pemerintah. Kalo yang sekarang sih agama yang diakui.

Walau, diriku yang sekarang merasa geli kok agama mesti ada yang diakui pemerintah segala. Bukan harusnya diakui Tuhan ya? Tapi sudahlah, saya sedang tidak membahas tentang hal itu. Kali ini saya sedang membahas cara saya memandang nenek saya yang dukun besar itu.

Jika diri saya yang dulu. Sangat pasti bakal memandang sebelah mata kepada nenek saya itu. Dia adalah dukun. Yang bermain main dengan jin. Pasti masuk neraka itu. Tapi diri saya yang sekarang memandang positif saja. Bahwa itulah jalannya nenek saya untuk berTuhan. Dan soal jin-jin itu, saya rasa tidak ada salahnya bermain dengan mereka. Sama saja bermain dengan anjing, kucing, manusia, yang semua mahluk ciptaan Tuhan.

Jadi mengapa Jin menjadi pengecualian? Toh yang penting jangan menuhankan Jin itu. Itu saja, dah bereslah sudah. Dan kalo saya renungkan, betapa nenek saya itu sepertinya berTuhan juga. BerTuhan dalam artian dia mempercayai bahwa ada sesuatu kekuatan yang maha besar, yang tidak akan bisa dilawan dengan segala ilmunya dia. Cuma nenek tidak menyebutnya Tuhan atau Allah seperti sebutan agama-agama yang diakui pemerintah itu.

Toh bedanya cuma di sebutan saja. Apalah arti sebuah sebutan. Yang penting kan telah merasakan kehadiranNya. Rasanya itu sudah lebih dari cukup. Kalau dilihat orang-orang yang mengaku beragama, yang mengutuk dukun-dukun, kok rasanya malah kelihatannya tidak menyadari kehadiran Tuhan. Hingga dengan santainya mengajak untuk membunuh manusia lain. Meluluh lantakkan kehidupan masyarakat dengan memicu perang. Menilap uang sedekah. Mencueki orang yang butuh pertolongan.

Rasanya kok jadi lebih berTuhan nenek saya yang dukun itu. Ketika dia selalu menolong orang tanpa pamrih. Ketika dia menyadari segala sesuatu yang terjadi pada dirinya adalah karena sebab yang dilakukannya. Ketika menyadari bahwa segala sesuatu itu sudah ada hukumnya. Hukum dari sesuatu yang maha sakti. Yang tidak dia beri nama.

Nenek, salam hormat dari cucumu yang sempat memandang rendah dirimu. Tapi kini kusadari itulah jalanmu berTuhan. Semoga label agama yang sekarang tidak menghilangkan keberTuhananmu itu. Melainkan menyempurnakannya. Semoga saya, yang selalu kau sapa lembut sebagai Jenar, juga bisa berTuhan dalam tingkah laku, seperti dirimu.

20 Responses to “Nenek”


  1. 1 ichan Januari 20, 2009 pukul 7:11 pm

    salam buat neneknya ya jenar..😀
    shalom alaykhem

  2. 2 ichan Januari 20, 2009 pukul 7:16 pm

    …bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu… dan bisa jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal itu baik bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.

    padahal itu jelas mengandung makna untuk saling toleransi, jelas Tuhan mempertegas bahwa apa yg Ia maksud belum tentu sama dengan yg kita maksud maka hargailah persepsi tiap-tiap orang.. ya tapi memang setiap tafsir selalu jadi pedang bermata dua tergantung siapa dan apa kepentingan tafsir tsb.

  3. 3 tomy Januari 21, 2009 pukul 7:35 am

    Banyak hal kita bisa belajar dari nenek sebagai seorang pelayan, pelayan bagi sesamanya manusia yang butuh konsultasi permasalahan hidup, pelayan bagi sesama makhluk Tuhan yang sering dicurigai manusia *jin*, pelayan bagi semesta dengan menjaga keselarasan alam.
    Ah bukankah itu praktek keagamaan yang nyata

  4. 4 tomy Januari 21, 2009 pukul 9:26 am

    Maaf Kang Dana biar tidak menimbulkan salah persepsi, nenek sebagai pelayan bukan berarti menghambakan diri, namun sebagai bentuk kekuatan pribadi yang merdeka & memegang otoritas penuh atas hidupnya yang telah dianugrahkan oleh Tuhan untuk menjadi partnerNya
    Maaf sekali lagi sok tau tentang nenek

  5. 5 Burem Januari 21, 2009 pukul 10:35 am

    memang idealnya urusan agama itu adalah urusan pribadi dengan sembahannya. salam buat nenek

  6. 6 hastu Januari 22, 2009 pukul 12:31 am

    surat al kafiruun ayat terakhir pan juga udeh ngejelasin,tho,mas?
    cuman ya saya tetep pada keyakinan saya bahwa agama saya yang benar (bukan paling benar, kalo bilang paling benar berati agama lain juga benar padahal menurut saya yang benar itu ya agama saya. bener secara hakekat dan syariat) dan juga saya tentu saja harus patuh bin nurut terhadap apa yang dilarang ataupun diperintahkan oleh agama saya yang benar itu misalnya gak boleh ‘maen-maen’ dengan jin, apalagi kalo sampe minta bantuannya dengan mbakar kemenyan, mandi kembang tujuh rupa dsb dsb
    tapi bukan berarti pula saya berhak menghina,merendahkan agama lain. Mau nyembah patung, mau nyembah jin, ato gak nyembah apap-apapun ya terserahlah…dan saya berlaku seperti ini juga atas perintah agama saya yang benar itu lho,mas.

    menurutku beragama itu bukan sekedar melulu di hakekat tapi syariatnya juga wajib kale..:P kalo melulu hakekat mah,tuh para pelacur enak,dwonk *lho?maksute*

    soal ngaku beragama tapi nilep uang sedekah,ya gak bijak juga kalo trus nyalahin agamanya,tho,mas *eh, tadi sampeyan bilang gituh ga yah*

  7. 7 alan Januari 22, 2009 pukul 8:00 am

    Rasionalitas masa modern ini ditandai dengan hal2 yang malah irasional. Orang2 tradisional mengakui kekuasaan yang lebih besar dari dirinya sebgai kuasa adikodrati dianggap sabagai musrik, nyeleweng dari agama, dan cap2 lain yang malah menyudutkan.

    Tiada sebuah pemahaman secara mendalam, hal2 ini pada tingkatan praktis akan semakin berat apabila di tunggangi oleh kepentingan2 lain. Sebagai contoh adalah disisihkan dari komunitas hidupnya, contoh lain yg real adalah pembantai dukun2 santet di Banyuwangi.

    Bukan hanya itu saja. Penanganan masalah2 spiritual di era sekarang ini sangatlah praktis formalis. Mengacu pada ajuran/petunjuk cara2 formal agama. Seperti sebuah reduksi dari kekayaan spiritual yang maha kaya. Karena kalo memakai cara2 ini bisa dicap irasional, dan tidak bisa di pertanggungjawabkan. Kalo kita mau bertanya, bukankah agama2 formal sekarang inipun berawal dari hal2 mistik yang tidak bisa ditangkap oleh pertanggungjawaban akal budi dan indera ? Lha kenapa kita harus menutup mata pada penangganan2 yang di anggap mistik dan irasional ?

    sekedar share.

    alan

  8. 8 aryf Januari 22, 2009 pukul 1:01 pm

    ah kaw sekarang makin bijak aja nak!

    wakakaka..^^V

  9. 9 alex© Januari 23, 2009 pukul 10:31 pm

    Bicara perihal agama itu mesti diakui pemerintah, saya juga merasa “risih” dengan kolom agama di KTP. Seringan mudharat juga itu. Kalo lagi konflik SARA, yang beda agama bisa digorok😦

  10. 10 CY Januari 24, 2009 pukul 11:32 am

    Seperti yg saya pernah tulis, kalo oknumnya masih nyuri uang sedekah dan mengutuk2 atau menggorok orang itu berarti statusnya “tidak beragama”. Jadi agama itu adalah sebutan setelah kita melihat perilakunya dan bukan sebaliknya. Karena itu agama tidak bisa di label begitu saja di KTP.

  11. 11 abdul Januari 24, 2009 pukul 5:53 pm

    Bagaimana terhadap kaum nabi ibrohim yang menyembah berhala? Adakah (yang di sini) berani mengatakan bahwa : itulah cara mereka beragama/bertuhan sehingga mereka tidak bisa disalahkan?

    Bagaimana juga terhadap kaum nabi Muhamamad yang menyembah berhala? Adakah (di sini) yang berani mengatakan bahwa : itulah cara mereka bertuhan sehingga mereka tidak bisa disalahkan?

    Perlu diketahui bahwa pasti ada di antara mereka yang merasa damai dengan cara mereka betuhan. Bukti : mereka merasa terusik dengan hadirnya islam.

  12. 12 Islam Indie Januari 26, 2009 pukul 11:28 pm

    hmm, dukun?
    ibu angkat saya juga dukun..
    saya sudah pernah cerita belum (di blog) ya mas dana?

  13. 13 uhuik Januari 27, 2009 pukul 10:25 am

    Yang pinter main-main jin yaitu Nabi Sulaiman, main-main tapi benar, karena masyarakat jin dibawah kekuasaannya. Yang salah ya mohon pertolongan pada jin, salah juga jadi budaknya jin….karena harus menuruti permintaan ini itu pada jin, tapi ilmunya nabi sulaiman itu butuh tauhid yang sangat tinggi…sulit bagi orang awam, yang umum biasanya cuma negosiasi sama jin dan seringnya bangsa manusia ketipu…

    *Keterangan ini dah ada siih di AlQuran tapi, biasanya dengar kata AlQuran sama kata Muhammad pastilah udah alergi…

    *klepakk!! ditimpuk @joyo dan @qzink666

  14. 14 danalingga Januari 29, 2009 pukul 10:00 pm

    @ All

    Nenek kirim salam.😉

  15. 15 dr.Adhika Januari 30, 2009 pukul 11:33 am

    @ abdul

    mungkin memang perlu belajar dulu tentang yoga maya dan panca maya kosa. saya dulu juga beranggapan bahwa kaum yang menyembah patung pasti syirik, ternyata tidak. mereka tidak bisa menerjemahkan wujud Tuhan, jika tidak tahu Tuhan itu seperti apa…..lalu dalam menyembahNYA mereka akan mempersepsikan seperti apa? mereka bingung,…

    lalu dibikinlah patung untuk menggambarkan perwujudan Tuhan di bumi. coba tanya pada orang yang anda anggap menyembah berhala / patung. “apakah patung itu Tuhanmu?” mereka pasti bilang…..”tidak”….

  16. 16 abdul Januari 30, 2009 pukul 8:35 pm

    @ dr.Adhika

    yang saya permasalhakan kenapa waktu jaman nabi Muhammad, beliau melarang kaumnya (bahkan terjadi peperangan/persengketaan/ bahasa lainya)menyembah berhala/sejenisnya. kalau hal itu merupakan hal yang wajar bagi manusia dalam mempersepsikan tuhan, kenapa tuhan menurunkan nabi muhamad? kenapa tuhan tidak membiarkan saja?toh dengan demikian mereka juga dianggap bertuhan dengan berbagai persepsi mereka.

    OK, masalah itu mungkin kalo di jaman sekarang sah-sah saja dengan dasar kebebasan (segala hal).

    Secara pribadi beranikah saudara mengatakan bahwa tindakan nabi muhamad dan nabi-nabi lainya adalah salah karena bertentangan dengan (kalo jama searang) kebebasan beragama/berkeyakinan?

  17. 17 co-that Januari 31, 2009 pukul 3:57 pm

    salam buat nenek

    damai di hati, di dunia, damai selamanya

  18. 18 stey Februari 9, 2009 pukul 1:01 pm

    salam buat neneknya..<–bingung mo komen apa..

  19. 19 godamn Februari 9, 2009 pukul 5:36 pm

    wah aku jadi terharu deh… jenar sayang banget ma neneknya… aku doain juga buat neneknya jenar moga dia berbahagia di manapun dia berada… buat jenar juga… ma temen semua…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: