Carilah Apa yang kau benci dari agama …

Pernah dulu, Jenar sangat membenci agama-agama. Terutama agama-agama yang berasal dari Timur Tengah. Jenar membenci agama-agama tersebut karena telah membuat hidupnya serasa makin sulit. Dengan segala dogma untuk bersikap rasis terhadap penganut agama yang berbeda. Mengajarkan untuk menganggap paling benar sendiri, umat lain sangat hina karena mereka pasti salah.

Mengajarkan membenci umat lain karena wajar untuk membenci yang salah. Bahkan kadang sampai menyebabkan terjadi saling bunuh mengatasnamakan ajaran agama-agama. Ditengah kebencian yang amat sangat itulah Jenar menemukan kata-kata dari seorang kakek berambut putih yang tidak sengaja dia temui :

Carilah apa yang menyebabkan kau membenci agama itu, niscaya kebencian itu akan hilang.

Berhubung Jenar memang sangat ingin mengenyahkan kebencian yang sangat menyiksa itu, maka setelah mengetahui kata-kata diatas, dia berusaha untuk memetakan kebencian yang dirasakannya. Dan ternyata hasil dari pemetaan tersebut sungguh mengejutkan. Jenar menemukan bahwa dia ternyata tidak pernah membenci agama-agama tersebut. Yang dibencinya selama ini ternyata adalah penafsiran yang dilakukan oleh para penganutnya. Yang dia benci itu adalah tindakan rasis, saling membenci dan berperang yang dilakukan atas nama agama.

Dari kesadaran tesebut, Jenar pun menjadi penasaran untuk membuktikan kebenaran pendapatnya bahwa memang dia tidak pernah membenci agama itu sendiri. Pendapat yang mulanya masih agak samar-samar dalam batinnya. Belum menjadi suatu kebenaran yang dapat diikuti. Tanya terus mengalir di kepala. Benarkah yang saya benci itu hanya tafsir atas agama? Ataukah sebenarnya ajaran agama itu sendiri?

Maka mulailah Jenar mempelajari ajaran agama-agama tersebut menurut caranya sendiri. Berusaha untuk tidak menggunakan tafsir yang menyebabkan dia menajadi membenci. Jenarpun berusaha menemukan tafsir yang tidak berlawanan dengan nuraninya. Setidaknya yang tidak membuat dia membenci.

Dan, hasilnya sungguh ajaib. Jenar sebenarnya sudah tidak percaya keajaiban. Namun untuk peristiwa itu maka hanya kata ajaiblah yang dapat menggambarkannya. Menggambarkan betapa kebencian itu sirna tanpa bekas. Jenar sadar bahwa benar yang dia benci selama ini ternyata tindakan-tindakan yang mengatasnamakan ajaran agama.

Atau dalam kata lain dia membenci tindakan yang dilakukan berdasarkan tafsir pelaku atas ajaran agama tersebut. Bukan ajaran agama itu sendiri. Setelah Jenar pelajari dengan sadar, ternyata agama-agama tersebut tidak mengajarkan tindakan yang selama ini sangat dia benci tersebut. Tindakan-tindakan yang membuat hidup itu penuh kecurigaan pada yang berbeda. Sungguh tidak nyaman hidup jadinya.

Juga Jenar menyadari satu hal ketika melihat betapa tafsirnya bisa berbeda dengan tafsir yang dibencinya selama ini, walau untuk sumber ajaran yang sama. Satu hal tersebut adalah bahwa pengertian akan suatu ajaran seringnya tidak bisa lepas dari latar belakang niat. Jika niat untuk membenci maka bencilah yang didapat. Jika niat mencinta maka cintalah didapat.

Niat mengenal Tuhan, maka Tuhan akan mengenalkan diriNya Maka ajaran agama itu ternyata sejatinya adalah semacam cermin yang senantiasa jujur memantulkan apapun yang ditangkap dari diri penggunanya. Atau dengan kata lain sebenarnya ajaran agama itu tidak lebih dari sekedar alat. Alat untuk mengenal siapa diri kita sesungguhnya.

Jenar juga berpendapat bahwa agar ajaran agama bisa efektif untuk menjadi sarana pengenal diri adalah hanya jika tidak terlalu bergantung pada tafsir orang lain. Sebaiknya menemukan tafsir buat diri sendiri. Tafsir yang bersifat sangat pribadi khusus untuk diri sendiri. Itulah hakikat agama sebagai petunjuk untuk setiap individu tanpa kecuali. Dan petunjuk itu berbeda untuk setiap individu, karena memang kebutuhan setiap individu adalah berbeda.

48 Responses to “Carilah Apa yang kau benci dari agama …”


  1. 1 abdul Februari 1, 2009 pukul 3:29 am

    Bukanya menyebarkan agama itu hakikatnya menstandarkan hidup terhadap tuntunan agama tersebut? Bukanya kalo seseorang/sekelompok orang bisanya terjadi pertengkaran/bahasa lainya itu karena perbedaan tiap individu, yang masing-masing tidak bisa di samakan?

    Kalo kita menafsirkan suatu ajaran, acuan kebenarannya apa/siapa?dan bisa dijaminkah tafsiran kita ini benar? Bagaimana kalo ada seseorang yang tidak mampu menafsirkan suatu ajaran? sedangkan Allah menciptakan kemampuan seseorang itu berbeda-beda?

  2. 2 danalingga Februari 1, 2009 pukul 10:21 am

    Bukanya menyebarkan agama itu hakikatnya menstandarkan hidup terhadap tuntunan agama tersebut?

    Mungkin di situ bedanya Jenar dengan abdul. Jenar berpendapat agama untuk manusia. Tapi abdul berpendapat manusia untuk agama.

    Entah mana yang benar.🙄

    Bukanya kalo seseorang/sekelompok orang bisanya terjadi pertengkaran/bahasa lainya itu karena perbedaan tiap individu, yang masing-masing tidak bisa di samakan?

    Tapi jika berkaitan dengan agama, maka tidak akan terjadi pertengkaran jika tidak ada usaha untuk menyeragamkan.

    Kalo kita menafsirkan suatu ajaran, acuan kebenarannya apa/siapa?dan bisa dijaminkah tafsiran kita ini benar? Bagaimana kalo ada seseorang yang tidak mampu menafsirkan suatu ajaran? sedangkan Allah menciptakan kemampuan seseorang itu berbeda-beda?

    Maka Tuhan telah salah menciptakan manusia yang tanpa kemampuan menafsirkan. Tapi memang ada manusia yang tidak bisa menafsirkan?

  3. 3 zal Februari 1, 2009 pukul 7:31 pm

    ::mantap kali sileh…inilah baru jenar namanya…

  4. 4 nury Februari 2, 2009 pukul 9:54 am

    fungsi utama agama saat ini telah melaenceng jauh dari fungsi sesungguhnya,, yaitu menjadikan mc mengenal tuhannya, dan mengenal dirinya sendiri, agama juga mengatur hub. tuhan, dgn mc, hub, mc dgn mc, mc dengan alam..
    namun kekerasan/ kerusuhan kadang sampai menyebabkan terjadi saling bunuh mengatasnamakan ajaran agama-agama, padahal aslinya berkedok politik dsb..
    untuk itu tergantung dari masing2 penganutnya untuk menafsirkan agama tsb,, walaupun memang ada penganut yang tidak mampu menafsirkannya yah karena kemampuan seseorang yang di berikan Allah itu kan berbeda2..

  5. 5 ulan Februari 2, 2009 pukul 10:02 am

    yayayayayya… menarik om..

  6. 6 knapppov Februari 2, 2009 pukul 11:12 am

    bagi-bagi pengalaman pribadi
    Dulu saya saya sangat benci, dalam ajaran saya diwajibkan beriman kepada rasul-rasul (termasuk isa, musa dll) dan kitab -kitab sebelumnya (torat (mazmur), injil (bible)dll). Ternyata setelah saya baca suatu perbandingan, di injil itu saya temukan bahwa yesus adalah anak manusia, bangsa ibrani sering menyebut bapa untuk tuhan, dan anak untuk makluknya, dan tidak dikutuk/disalib. Akhirnya saya menyadari bahwa yang dimaksud mengimani adalah percaya bahwa yesus adalah utusan Allah swt, dan tidak mati dikayu salib, dengan membawa kebenaran torat khusus untuk bani israil.
    Dan memang kenyataanya sekarang bangsa yahudi lebih menggunakan kitab talmud ciptaan para rabbi mereka, umat kristen menggunakan perjanjian baru ciptaan saulus(paulus) dengan doktrin ketuhanan yesus. Umat ahmadiyyah menggunakan tadzkirah ciptaan mirza ghulam ahmad (dan mengangkat menjadi nabi), dan syiah (yang didirikan oleh yahudi abdullah bin saba’) juga lebih mengutamakan fatwa imam khomeini dengan anggapan Alquran sekarang tidak lengkap yang lengkap quran fatimah, dan sering menangis menunggu imam mahdi dan lebih mengutamakan (kadang mempertuhankan khalifah ali).

    Secara pikiran biasa dapat dilihat perbedaan agama adalah yang disembah/ditaati.
    Ajaran tauhid mulai dari adam nuh musa isa ibrahim muhammad, menyuruh untuk menyembah Allah swt, dengan para nabi sebagai manusia utusan Allah.
    Pemikiran lain kalau ‘upgrade’ biasanya memalingkan dari menyembah Allah dan menjauhi utusannya dengan membuat aturan-aturan sendiri, kenyataannya yang terjadi biasanya mengganti kitab-kitab torat zabut injil atau alquran dengan menitikberatkan kebenaran pada pribadi orang-orang. Karena dengan tanpa pedoman kitab yang jelas para pengikut akan tergoda untuk tunduk pada petuah pemimpin, dan diajarkan harapan-harapan yang sulit untuk dipenuhi, sehingga selalu bersedih dan lemah dihadapan pemimpin sehingga mudah dikuasai.
    Menurut pendapat pribadi saya ajaran agama sekarang ada dua yaitu tauhid dan non tauhid.
    Tauhid adalah mengajarkan meyembah tuhan tanpa perantara, yang diajarkan para rasul, dan merdeka dari manusia.
    non tauhid adalah menyembah tuhan dengan perantara pemimpin agama, utusan, perantara patung dll, dan terikat dengan makluk.

    Manakah yang benar?
    tanyalah pada Tuhan….

    *sedang mengigau..

  7. 7 pengembarajiwa Februari 2, 2009 pukul 11:47 am

    Jika di renungkan dalam2, maka di balik tulisan ini terdapat Mutiara yang sangat berharga sekali dan sebagai jalan menuju kesempurnaan Hidup.

    Salam

    Pengembara Jiwa

  8. 8 Billy Koesoemadinata Februari 2, 2009 pukul 2:35 pm

    orang2 yang diberi sebuah pencerahan seperti Jenar-lah yang terkadang bisa membawa manusia menjadi benar. tapi, jika ditindaklanjutin secara salah, maka manusia menjadi sangat tidak benar. lalu? *tanyakan saja pada hati nurani…

  9. 9 omiyan Februari 3, 2009 pukul 9:35 am

    mempelajari sediri itu bagus tapi jangan sampai kita salah dalam menafsirkan yang, karena ketika sejatinya mencari kebenaran tapi salah dalam menafsirkan maka yang terjadi kita makin terjerumus.

    Suatu kebenaran dijaman sekarang adlah hal aneh dan ditentang, padahal ketika seiring berjalannya waktu akan terbukti kebenaran itu sendiri, mungkin semacam kiasan kita bisa melihat bagaimana ketika orang dalam mencari suatu kebenaran selalu mendapat rintangan dari orang lain terkadang yang ada adalah memutar balikkan keadaan yang sebenarnya.

    Sesungguhnya ketika kita mencari arti Tuhan yang sebenarnya, terutama dalam peribatan adalah Tuhan itu mutlak dimana dia berdiri sendiri tanpa harus perantara yang ada.

    Semoga senantiasa selalu diberika hidayah dalam mencari kebenaran tersebut

  10. 10 darnia Februari 3, 2009 pukul 10:19 am

    whoaaaaaaaa… si Jenar ini ceritanya kok ngeplek persis sama kayak temen saya yah😀 mungkin dia Jenar versi bule :))

    makasih sharingnya,mas Dana

  11. 11 wira jaka Februari 5, 2009 pukul 5:35 pm

    yups …… setuju sekali dengan untain “mutiara kata” yang mencerahkan ini, semoga aku tidak membenci agama lagi, juga tidak membenci orang / yang menafsirkan lagi ….

    permisi …. numpang berteduh ya ….

    salam,

  12. 12 co-that Februari 5, 2009 pukul 6:10 pm

    *belajar lagi dari mas dana*

  13. 13 Pakai Otak Dong Februari 6, 2009 pukul 8:13 pm

    Memang tidak bisa dipungkiri bahwa dari masa-ke-masa agama sering di jadikan instrumen untuk kepentingan pihak-pihak tertentu. Seolah agama menjadi pembenaran tindakan-tindakan yg hakikatnya berseberangan dengan ide agama tersebut.

    Namun jangan sampai fakta tersebut dijadikan buldoser untuk mendestruksi bangunan yg telah tersusun rapi dari rangkaian-rangkaian saling berkesenambungan dalam agama itu sendiri.

    Buldoser yg saya maksud ialah tafsir desktruktif yg tidak menggunakan refrensi dari agama itu sendiri. Mungkinkah menafsirkan Quran dari sumber-sumber non-Islami, begitupun menafsirkan Alkitab Kristiani dari sumber sekuler?

    Yang terjadi hanyalah benturan-benturan keras dan akan tercipta tafsir yg ASBUN dan ASKEL=asal keluar yang tidak berdasar dari disiplin ilmu tafsir agama tersebut.

    Seperti beberapa saat lalu, saya berkunjung ke sebuah blog dimana ia menafsirkan Quran dan Alkitab dengan refrensi filosofi humanis. Hasilnya adalah hanya buah fikiran dia yang sangat maksa dan tidak berdasar sama sekali.

    Jadi sebaiknya amalkan agama dengan hati nurani yg bersih dan jiwa yg takwa kepadaNya tanpa disertai kepentingan pribadi.

  14. 14 agiek Februari 7, 2009 pukul 10:20 am

    *nonton jenar lagi maen cs*
    😀

  15. 15 bodrox Februari 7, 2009 pukul 4:04 pm

    ya, mas jenar. Penafsiran, mungkin itu kata kuncinya. karena setelah penafsiran akan terjadi tindakan.🙂

  16. 16 abdul Februari 7, 2009 pukul 9:13 pm

    Kebanyakan orang nyleneh dari tafsir yang ada (baca : standar) dikarenakan tidak tahu al-quran (bagi yang muslim)yang mana ilmu untuk menafsirkanya : ilmu lughot, ilmu,nahwu,sharof,ilmu isytiqaq,ilmu ma’ani,ilmu bayan,ilmu badi’,ilmu qiraat, ilmu ‘aqo’id,ilmu ushul fiqih,asbabun nuzul,ilmu nasikh mansukh,ilmu fiqih,ilmu wahmi. Kalo kita belum memahami semua ilmu itu, jangan berani berlagak menafsirkan al-quran apa lagi hanya menggunakan pikiran/otak yang sangat terbatas apalagi berani men-judgement akan kebenaran hasil tafsir dari otaknya. Sungguh sombong.Hanya karena gengsi terhadap oarang yang tak sepemikiran/ulama, dan merasa cukup mapan dalam menjalankan ilmu otaknya yang sangat terbatas.

    Kalo kita sudah membaca,memahami,menghayati seluruh isi alquran dan di dalamnya tidak menemukan kebenaran atau adanya kekurangan untuk dijadikan petunjuk hidup, maka silahkan gunakan otak sendiri/hasil tafsir sendiri. namun perlu kita ketahui itu merupakan penghinaan terhadap al-quran dan tindakan menjerumuskan diri dari keangkuhan. Jangan merasa mampu itu benar,jangan merasa tenang itu benar,jangan merasa damai itu benar,jangan merasa dihormati itu benar,jangan merasa kritis itu benar,jangan merasa diam itu benar,Janagn merasa pede dekat dengan kebenaran (ALLAH). Orang jantan bukan hanya berani mengahadapi segala masalah baik secara fisik maupun mental,tapi berani menerima dan mengakui segala kesalahan dan kekurangan baik mengakui dihadapan sesama(mahluk) maupun di hadapan Allah, dan mau memperbaikinya hanya karena Allah (pula). Orang yang mencari kebenaran tidak akan sombong lari dari meminta hidayah dari Allah. Ketika dia mendapat kritik bukanya membalas kritik tapi menerima dan mengoreksinya/ muroqobah (ini hidayah Allah). Dia akan disibukan dengan hidayah kritikan itu untuk memperbaikinya.

    Allah tidak akan hina meskipun seluruh jagat raya beserta isinya dipersilahkan menghinanya. Dan Allah pun tidak mulia hanya karena seluruh ciptaanya memujinya.

    Jangan merasa diri kita benar adanya sehingga merasa tidak perlu belajar alquran. Rasa bangga bibit kesombongan memunculkan ranting gengsi sumber sifat riya yang merupakan syirik khofi (samar).

    Al-quran tidak akan bisa di tandingi dengan segala konsep dari manusia. siapapun orangnya.

    Segala apa yang terlihat,terdengar,dirasakan dan mungkin dilakukan adalah hidayah Allah yang harus dikembalikan kepadaNya untuk meminta petunjuk kebenaranya.

  17. 17 stey Februari 9, 2009 pukul 12:56 pm

    intinya lebih ke mengenal Tuhan lebih dekat ya Pak? jujur saja..saya ga pernah sekalipun terlintas untuk membenci agama lain, karena buat saya agama itu selalu baik. Cuma mungkin penterjemahan manusia terhadap suatu agama yang buat agama jadi kelihatan ga baik..CMIIW

  18. 18 godamn Februari 9, 2009 pukul 5:13 pm

    wah jenar makin yahut deh… nar ayo jawab dong komennya Pak Abdul ma Pak “Pake Otak Dong” itu…
    hihihi… (provokator datang nih… hihihi…) aku jadi pengen tau jawaban Jenar kayak gimana nanti…
    Aku tunggu deh…

  19. 19 danalingga Februari 10, 2009 pukul 7:26 pm

    @zal

    Makasih silih.

    @nury

    Yang lebih miris lagi kadang orang yan melakukan kekerasan tersebutlah yg dianggap lebih beragama.

    @ulan

    Makasih atas pujiannya.

    @knapppov

    Memang semua membingungkan jika belum mengenal Tuhan. Maka marilah berlomba lomba mengenal Tuhan terlebih dahulu biar hidup tidak bingung.

    @pengembarajiwa

    Weleh… *garuk garuk idung*

    @Billy Koesoemadinata

    Betul, orang seperti jenar memang dibutuhkan. Dan saya setuju resiko untuk orang seperti jenar adalah sangat besar, alih alih mencerahkan malah bisa menjerumuskan. Tapi rasaya resiko itu patut diambil, bukankah no pain maka no gain.

    @omiyan

    Kalo pikiran jenar mungkin daripada tidak berani melangkah sendiri karena ancaman resiko yang memang sangat berbahaya, dia memilih untuk melangkah, dengan siap menerima resiko apapun.

    @darnia

    Wedeh, di kenyataan ada toh. Padahal ini kan fiksi.😀

    @wira jaka

    Amin.

    @co-that

    *belajar dari jenar*

    @Pakai Otak Dong

    Boleh dijelaskan apa itu yang tidak islami, apa itu yang sekuler. saya kadang menemukan hal yang kita merasa tidak islami, padahal hal tersebut adalah yang lebih islami lagi. Juga sekuler, apa sih salahnya?

    @agiek

    Weleh.😛

    @bodrox

    Jenar merasa memang begitu.

    @abdul

    Jenar sih merasa standar itu hanya buatan manusia saja, bisa jadi maksud Tuhan sendiri tidak begitu. Jenar berpendapat segala ilmu manusia (ilmu lughot, ilmu,nahwu,sharof,ilmu isytiqaq,ilmu ma’ani,ilmu bayan,ilmu badi’,ilmu qiraat, ilmu ‘aqo’id,ilmu ushul fiqih,asbabun nuzul,ilmu nasikh mansukh,ilmu fiqih,ilmu wahmi) dikuasai tapi jika Tuhan tidak memahamkan maka tidak pahamlah dis. Satu ilmupun tidak dikuasai,tapi jika Tuhan memahamkannya maka pahamlah orang tersebut.

    @stey

    Intinya sih itu.

    @godamn

    Mbok ya kalo godamn punya jawaban dishare juga. Mungkin Tuhan berkenan memakai godamn sebagai utusanNya.

  20. 20 co-that Februari 10, 2009 pukul 10:35 pm

    @danalingga berarti jenar kakek guru saia🙂 trima kasih

  21. 21 godamn Februari 11, 2009 pukul 12:02 am

    whoaaah…. boro-boro jawaban… bacanya juga aku mah mumet kok…
    judul ilmunya aja banyak banget… aku mah gak tahu.. apalagi ngjawabin..
    minta ma mbak zhseefa aja deh… dia mah kan pinter bahasa arabnya juga… dalilnya juga banyak..
    eh… tadi juga aku sempet copy paste dalil dari komen dia loh.. hihihi… sory ya mbak…
    eh… arti nafs yang bener tuh artinya ” diri” yah…? apa ” jiwa” sih?

    cuma aku mah heran di tafsir Al Qur’an nggak semua kata dari Arab di-Indonesia-in,
    buktinya kata “islam, muslim, mukmin, kafir, musyrik, syukur” masih ada di situ..
    trus kalo pake akhiran “in” artinya paling cuma “orang-orang” ditambah kata2 yang itu doang… kan tanggung…
    paling “artinya” ada di catatan kaki… kenapa gak dirangkai di kalimatnya aja sekalian sih…?
    mungkin cape nulis kali yah…? di Injil juga sama.. emang kata kristen tuh dari bahasa Indonesia yah?
    kok nerjemahin teh tanggung yah…
    kayaknya di terjemahan kitab suci lain juga sama deh…
    aku mah takut nerjemahin kitab suci sendiri mah… reference-nya gak lengkap…
    kalo “national geografic” mah lain.. asyik banget deh itu mah…
    tuh kan nar…. malah jadi ngcapruk ginih… jenar sih……
    udah ah… salam….

  22. 22 abdul Februari 12, 2009 pukul 12:05 am

    @godam
    Lo jangan bilang provokator, kalo seperti itu anda tidak komitmen dalam discus ini. saya perhatiin selama ini lo selalu menonjolkan paham bahwa semua agama itu benar dalam artian juga semua ide/pemikiran juga benar tapi kenapa lo beranggapan bahwa kehadiran saya yang membawa pemikiran/ide/pendapat dianggap sebagai provokator. lo gak komit. Fikirkan itu.

    @dana
    Dan lo bilang “jika Tuhan tidak memahamkan maka tidak pahamlah dia. Satu ilmupun tidak dikuasai,tapi jika Tuhan memahamkannya maka pahamlah orang tersebut” Bagaimana kalo tuhan mem-fahamkan seseorang harus dengan cara seperti itu (harus berilmu)? Kalo lo bilang standar itu dari manusia yang dalam artian masih “boleh” diragukan sedangkan standar yang lo maksud sudah diakui oleh para ulama, bagaimana? Sedangkan juga lo sering menonjolkan maksud dipersilahkanya untuk menafsirka sendiri tanpa ilmu. Itu lebih konyol lagi dan. kalo kita berfikiran “kalo tuhan menakdirkan a maka kita a tanpa adanya propses (hukum sebab akibat) kenapa tuhan harus menciptakan ilmu?”

    Dan, cara pandang manusia itu tergantung dari kacamata yang ia pakai, kalo dia pakai kacamata hitam maka yang dia lihat akan tampak hitam, kalo yang dia pakai kacamata merah maka yang ia pandang akan tampak merah. tapi bagi orang yang memakai kacamata putih maka bijaklah ia, karena apa yang ia lihat akan tampak seperti kenyataanya. nah ilmu inilah yang mungkin sebagai kacamata putih. Tanpa ilmu kita menafsirkan sesuatu akan menurut kondisi hati kita, kita suka akan tampak baik, kita benci akan tampak buruk.

    Sorry, gw komentari pemikiran lo,
    prinsip/pemikiran lo zigzag..

    dan, kita disini bukan sharing, tapi berdebat (……….to be continued) tunggu alasanya…..

  23. 23 zal Februari 12, 2009 pukul 7:33 pm

    mas abdul : “Tanpa ilmu kita menafsirkan sesuatu akan menurut kondisi hati kita..” siapakah itu Al-‘Ilm, Siapakah Yang Memiliki sifat Ilmu…jelas tanpa Ilmu, kita engga ada apa-apanya…karena memang Al-‘Ilm, yang memahamkan dengan perantaraan kalam, dan tak ada yang melihat dan tak ada pula saksi manusia yang menyaksikan sewaktu DIA memahamkan bukan..???, jadi apa yang menyebabkan kita dapat mempercayai khotbah si Anu, Kitab Si Anu…sementara kitapun belum tentu mengenalnya…apakah memang dia berilmu atau tidak,
    bukankah “Aku lebih dekat adri urat leher” dan salah satu namaNYA AL-‘Ilm. apakah ada rasa percaya kalau DIA lebih dekat dari urat leher, carilah ILMU.., bukan tumpukan buku…bukankah begitu…???

  24. 24 abdul Februari 12, 2009 pukul 8:22 pm

    @zal
    Ok gw juga ngerti semua sifat itu dari Allah, jangankan ilmu, kesombongan juga datangnya dari Allah, sifat ilmu dari allah, sifat kaya dari allah tapi apakah hanya dengan keyakinan bahwa “Aku (Allah) lebih dekat dari urat leher” dengan sekonyong konyong sifat lebih itu muncul dengan sendirinya? tidak bukan? harus ada kasabnya. sama halnya sebuah cerita tentang sohabat yang hendak sholat yang membiarkan untanya tidak diikat cuma modal keyakinan lalu dapat “omelan” dari rosulillah untuk mengikatnya. Disini mengandung makna kasab.
    Hadis baginda nabipun cukup jelas Uthlubul ilm….. Uthlub merupakan fi’il amar. disini juga mengandung makna kasab. Bukan hanya kepasrahan dan keyakinan. Disini saya juga berbicara mencari ilmu bukan buku, yang meskipun banyak ilmu di dalam buku/kitab. Ingat memanen tanpa menanam merupakan kebodohan belaka.
    Sekarang gini deh. Anda mengenal tuhan juda ada ilmunya. Siapa/apa itu tuhan? dimana tuhan? sebagai apa/siapa tuhan? bagaimana tuhan? semua itu ada ilmunya bukan? Alquran dan hadis, dan untuk mempelajari alquran-hadis juga ada ilmunya. Bukan pakai perasaan atau modal percaya diri.
    Ada tiga hal yang harus ada pada diri kita untuk mencapai “sesuatu” ilmu ,hal dan amal.

  25. 25 godamn Februari 13, 2009 pukul 9:04 am

    @Abdul
    Maaf deh Pak… maksud aku mah bilang “provokator” tuh bukan ke Bapak kok… maksud aku tuh cuma bcandain kang Dana… kan di situ aku ngomporin kang Dana supaya jawab… jadi yang “provokator ” tuh… ya aku sendiri gitu loh… mungkin kalo di tulisan emang bisa jadi salah pengertian sih… maaf ya…. soalnya bahasannya kuanggap mulai seru… gitu loh pak…

    kalo masalah pendapat, aku nggak berhak kok ngelarang siapapun…
    yang paling bertentangan dengan pendapat aku pun, kalo itu bentuknya pendapat, aku gak berhak melarang kok, itu kan hasil pemikiran, pengalaman, ma analisa orang tersebut, justru kebebasan mengeluarkan pendapat itu yang aku hargai… dari sisi etika pun aku salah kalo seperti itu… aku kan cuma numpang komen di sini…

    kalo masalah faham atau apapun istilahnya… aku gak berpendapat semua benar kok… yang aku fahami adalah… dari setiap yang “dinamakan agama” besar di dunia yang aku kenal… dari bahasan mereka semua, dalam buku yang aku baca, website, pembicaraan mereka dll semua menunjukan satu hal… yaitu meng-esa-kan tuhan… meskipun dengan cara pembahasan dan bahasa berbeda… dan semuanya menyuruh hal (yang secara naluri dan pemikiran normal manusia) baik… dan juga melarang hal (yang secara naluri dan pemikiran normal manusia) buruk…
    jadi aku berpendapat bahwa sebenarnya hanya ada satu agama saja dari dulu… yaitu yang mengajarkan ke-esa-an Tuhan dan mengajarkan berkelakuan yang baik antar manusia… agama buatku bukanlah institusi, badan ataupun kelompok manusia… tapi adalah pedoman buat aku sendiri dalam mengenali tuhan, dan bergaul dengan anda semuanya sebagai lingkungan aku sendiri…
    dan aku juga gak mau disalahkan atas pemahamanku itu kok… jadi aku juga berusaha untuk tidak menghakimi pemahaman orang lain… kalo dalam hubungan antar orang saling mempengaruhi… menurutku itu adalah hal yang alamiah kok… kalo memaksakan itu baru lain…

    @Dana
    Kang Dana aku minta maaf juga… aku dah ngomporin, maksudnya sih cuma bcanda tadinya mah… jadi serius deh…. maaf ya…

    kalo pendapatku mengenai tafsir kitab-kitab suci….
    semua kitab2 suci yang aku tahu saling berbeda bahasa… dan sungguh aku tidak pandai semua bahasa tersebut… apalagi “rasa kata” dari bahasa2 itu… aku cuma baca terjemahannya saja… dan aku sungguh berterimakasih kepada para penerjemah tersebut… yang telah bersusahpayah mengartikan arti dari kitab2 itu… aku percaya mereka semua, mau melakukan hal itu, karena kasih sayang mereka untuk berbagi, dengan jalan mencoba mengartikan ayat demi ayat dari kitab2 yang mereka masing2 yakini sebagai kebenaran… meskipun mungkin mereka berbuat kesalahan…. jika mereka sengaja menyalahkan…. Dia akan membalasnya…. dan Dia akan memperbaikinya… dengan caraNya… dan Dia berkuasa untuk itu…

    mengenai penafsiran… menurutku tidak dapat dipungkiri… bahwa hal tersebut bersifat pribadi… dan otomatis dilakukan stiap orang pada saat menerima informasi baru… bahkan… hasil dari penafsiran orang lain sekalipun… baik dianjurkan atau dilarang tidak akan berpengaruh… itu sifat alamiah dari fikiran untuk selalu menganalisa… dalam ajaran al Qur’an yang aku fahami, hal itu dijamin oleh Allah sendiri… untuk selalu berfikir, menganalisa, dan menyeleksi setiap informasi… bahkan para sahabat rosulluloh sendiri bertindak sesuai dengan penafsirannya sendiri terhadap ucapan dan perbuatan rosululloh yang dia yakini benar, berdasarkan pengamatannya, pemikirannya dan penafsirannya terhadap sosoknya… yang telah dapat menundukan hatinya… bukan hanya ikut-ikutan…

    ada ayat yang sangat aku kagumi dari Al Qur’an…” tanpa kekhawatiran…” Dia telah menantang manusia untuk membuktikan dan menguji kebenarannya sendiri…. sesuai dengan kemampuannya, perasaannya, dan pemikirannya sendiri… sungguh ayat yang sportif, penuh percaya diri…. dan sungguh aku berkeyakinan Dia sendiri akan menuntun setiap orang yang mencoba menggalinya dengan berbagai cara… entah dengan menurunkan pemahaman langsung, memperkenalkan kepada para guru atapun para aulia, ataupun dengan cara menundukannya kepada para pemimpin kuat yang sanggup mempengaruhinya, yang telah dipilihNya dan dengan caraNya…

    Apakah anda khawatir? aku sama sekali tidak khawatir… kebenaranNya tidak akan tertutupi oleh sejuta dusta manusia sekalipun… jikapun satu jalan tertutupi dusta… jalan yang lain akan muncul…

    dan sungguh…. bagiku tidak peduli manusia memandang dengan kacamata apapun… dari berbagai sudut apapun… dengan ilmu apapun… dengan bahasa apapun… Dia akan menuntun siapapun yang berniat menemuiNya… kepadaNya… dengan caraNya… melalui ilmuNya… sesuai dengan niatnya.. dan sesuai dengan tingkat pemahamannya pada saat itu… dan Dia akan melengkapinya dengan caraNya sendiri…

    buat para penganut agama selain agamaku… aku masih berjalan… jika jalan kalian benar… aku yakin Dia akan menuntunku ke jalan kalian…. dan jika jalanku benar… kalian akan berjalan bersamaku… atau mungkin bersamaku ke jalan yang lain…. ke jalan kebaikan yang semesta dan aku yakin Dia akan menuntun kita semua… meskipun dari arah yang berbeda….

    yang dilakukan olehku hanyalah berusaha dan mencoba membersihkan niatku, berfikir seobjektif mungkin, dan selalu belajar… bagiku semesta seluruhnya adalah ayat-ayatNya… bagiku semuanya adalah guruku… bahkan anak kecil yang tadinya aku remehkan… begitu juga dengan para ulama dan pendeta dengan kebenarannya dan kesalahannya pula…. dari sejarah dan kebudayaan, dan evolusi pemikiran tentang kebenaran dan dari dusta yang telah terbuka, dari teori-teori yang telah terbukti benar maupun salah…

    jika aku salah.. aku yakin Dia akan memperingatkanku… dengan menundukan hatiku… walau mungkin dengan jalan yang menyakitkanku, menyakiti egoku… meskipun aku berharap dan berdo’a Dia tidak memperingatkanku dengan jalan menyakitkan seperti itu… aku tahu kapasitasku terbatas… semua ilmu tidak akan mungkin aku serap seluruhnya… . cuma “aku”, cuma “aku” sebagai peralatanku, cuma itulah peralatan yang telah Dia berikan kepadaku untuk menjejakiNya.. dan semua yang berakhir dengan akhiran “Nya” sebagai bacaanku dan guruku.. untuk aku pakai sebagai pedomanku sendiri dalam bertindak… semampuku…

  26. 26 CY Februari 13, 2009 pukul 4:42 pm

    @Abdul
    Numpang tanya, Nabi Muhammad itu dulu belajar selusin ilmu tafsir yg anda sebut itu darimana ya (perasaan dulu itu belum ada deh), kalau bukan ijin dari Allah utk bisa memahami lantas kenapa bisa sepandai itu? Kan, sama2 manusia…
    Jadi dalam hal ini saya setuju dgn Dana, kalau Allah menginginkan seseorang paham maka pahamlah dia. Demikian juga sebaliknya.

  27. 27 danalingga Februari 13, 2009 pukul 5:21 pm

    @abdul

    Jadi sebenarnya anda setuju tidak dengan anggapan jenar berikut:

    Jenar berpendapat segala ilmu manusia (ilmu lughot, ilmu,nahwu,sharof,ilmu isytiqaq,ilmu ma’ani,ilmu bayan,ilmu badi’,ilmu qiraat, ilmu ‘aqo’id,ilmu ushul fiqih,asbabun nuzul,ilmu nasikh mansukh,ilmu fiqih,ilmu wahmi) dikuasai tapi jika Tuhan tidak memahamkan maka tidak pahamlah dis. Satu ilmupun tidak dikuasai,tapi jika Tuhan memahamkannya maka pahamlah orang tersebut.

    Soal yang lain-lain bisa menyusul. Jenar harus tahu dulu bagai mana sikap anda terhadap pernyataannya tersebut. Baru bisa bergerak ke soal yang lain.

    @godamn

    Nggak masalah, toh provokator juga merupakan bagian dari peran.

    Mungkin perlu saya luruskan disini bahwa tafsir yang saya maksud di artikel ini adalah bukan menerjemahkan, melainkan memahami. Memahami baik dari sebelum, setelah diterjemahkan, atau dari mendengar.😀

    Dan memang selama kita punya otak pasti kita bisa memahami suatu hal. Soal dianggap pemahaman kita tidak benar, maka itu urusan orang-orang yang menganggap dia paling benar atau urusan orang yang telah mengenal Allah atau urusan Allah sendiri.:mrgreen:

  28. 28 godamn Februari 14, 2009 pukul 11:11 am

    @dana
    ya iyalah gak sama…
    cuma karena aku gak bisa bahasanya… jadi paling aku baca terjemahannya aja..
    cuma kadang aku bingung juga misalnya gini…

    terjemahan dari
    “ya ayuhal muslimun…”
    artinya itu “wahai orang-orang muslim…” atau ” wahai orang-orang yang berserah diri…” ???
    menurutku terjemahan pertama itu belum beres kok…
    kan muslim sendiri masih bahasa arab..
    disebut orang-orang islam sendiri… islam sendiri masih bahasa arab…
    mbok ya nerjemahin tuh diberesin gitu loh…
    nafsirinnya kan bisa beda.. apalagi ada istilah “orang Budha” segala…
    padahal Budha kan orang yang sudah mencapai pencerahan dan selamat juga dengan berserah diri..
    aku kira ada yang marah deh.. kalo aku nerjemahin salah satu ayat Al Qur’an.. kayak gini…
    terjemahan “ya muslimun…” artinya “wahai orang-orang budha…” apalagi ditambahin “…ber-yoga-lah..”
    kayaknya bakal ada fatwa aku halal disembelih deh… hiiiiy takut….
    padahal ayat itu kan dari Tuhan… yang esa lagi katanya… masa ngebeda-bedain…
    kayaknya hal itu terjadi juga deh pada kitab-kitab suci lainnya juga… gawat yah…

    mumet juga yah…? “tafsir” kan masih bahasa arab juga kan? hihihi..
    tapi kalo aku tulis “memaknai” nanti ada yang bilang “itu mah buat UUD 45 atuh…. ” hahaha…
    apalagi kalo “Bashor” buat Allah, Maha Melihat buat Tuhan, kalo buat aku mah… ‘matamu..’… .”
    makanya aku bilang… bacanya juga aku mah dah mumet…

    godamn mah dah kafir… iiiih….
    sapa lagi yang suka nyembunyiin… ! aku mah nggak….
    kalokurangajarmahiyasih…….hihihih……

  29. 29 danalingga Februari 14, 2009 pukul 9:52 pm

    @godamn

    Tidak diindonesiakn mungkin biar ada kesan eksklusif, kerasa arabnya Islamnya.

    Padahal jika maknanya memang sama, kenapa dibeda-bedain ya? *mikir*

  30. 30 waduw Februari 17, 2009 pukul 6:44 am

    @godam
    “ya ayuhal muslimun…”
    artinya itu “wahai orang-orang muslim…” atau ” wahai orang-orang yang berserah diri…” ???

    nafsirinnya kan bisa beda.. apalagi ada istilah “orang Budha” segala…
    padahal Budha kan orang yang sudah mencapai pencerahan dan selamat juga dengan berserah diri..
    —————-
    Cuma tanya kalau maknanya sama-sama berserah diri, dari kacamata islam artinya kan mau juga menjalankan syahadat shalat puasa zakat haji? Apakah masyarakat budha mau juga berserah dengan tatacara begitu? Lha kalau nggak mau kenapa juga merah telinga para pemikir bebas ketika masyarakat islam tidak tidak sependapat dengan yoga yang puncak tertingginya adalah Civa (Syiwa)…

    *provokator juga..

  31. 31 Haris Suryanegara Februari 17, 2009 pukul 4:44 pm

    Gagasan saudara Jenar pada paragraf-paragraf awal mirip dengan komentar saya pada sebuah postingan seorang blogger yang juga membahas masalah religi.😉

    Memang, sebenarnya ada baiknya kita mencermati secara mendalam tentang penyebab sesungguhnya kenapa sesuatu bisa terjadi, walaupun pencermatan itu sendiri tetap harus selalu dikoreksi. Minimal tidak terjebak dengan suatu doktrin yang mungkin saja keliru.😛

    Btw, maaf seandainya kalimat saya agak aneh, sulit menemukan kata-kata yang pas.. (0_o)’

  32. 32 godamn Februari 18, 2009 pukul 8:39 pm

    @dana
    kang…tuh bener kan… Dia mah adil… aku yang ngcapruk… jadi aku yang dibrondong… iya kan…?

    @waduw
    ya iyalah.. pasti gak akan mau kayaknya… makanya aku pengen juga terjemahan mereka juga sampe beres… kayaknya kalo semua kitab suci diterjemahin sampe beres… arti semuanya sama kali ya… ? di kitab-kitab itu juga banyak kali istilah sanskerta-nya… bikin mumet juga… (eh sanskerta apa india sih….? hihihi….)
    makanya kalo aku nerjemahin kayak gitu pasti deh aku diuber-uber ma setiap orang dari agama-agama itu… hihihi.. makanya itu aku nggak bikin…! takuuut….

    padahal kalo aku baca semuanya (maksudnya tuh, berikut catatan kaki atau dalam tanda kurungnya) artinya teh sama nyuruh beribadah ma berbuat baik ma orang lain…
    supaya selamat, ma mendapat ketenangan hati…

    knapa juga para pemikir bebas pada merah kupingnya yah…..? kalo gitu kan artinya dah masuk neraka…hihihi… padahal mah biarin aja yah… mo debat sampe lempar kursi juga… mo maki-makian… mo babak belur berantem… perang bunuh-bunuhan juga yah… hihihi… yang penting kan mereka hepi, berjuang untuk keyakinannya itu… kalaupun salah kan sudah ketemu langsung ma akibatnya itu kan…? kalo yang anak kecil mah kan langsung masuk surga… gak di-interogasi ma malaikat juga… langsung dapet freepass…. wah bener-bener genius deh pemikirannya si mas ini…

    makasih deh atas usulnya… ngapain juga dipikirin… biarin aja yah padahal mah…. paling juga semua masuk surga masing-masing… ada yang ke syurga, ada yang ke nirwana, ada yang ke heaven.. ada yang ketemu ma Allah.. ada yang ketemu ma Çiwa… ketemu ma Yahweh… ktemu ma Yehovah… di semua kitab-kitab itu kan bilang begitu… semua kan pasti balik ke asalnya ya…

    bener-bener pemikiran yang cemerlang deh… original cemerlang… tengkyu banget, ya Mas Waduw ya… tengkyu banget…. bener deh pencerahan mah datangnya dari mana aja… aku mah percaya banget.. kalo Dia mau nunjukin jalan mah, darimana datangnya aja bisa… guru mah siapa aja bisa, dari mana datangnya juga bisa… kondisi gimanapun juga bisa… trus beriman tidaknya seseorang mah bukan kita yang nentuin, gak bisa maksa… kita mah cuma berkewajiban menyampaikan yang kita tahu aja…

    wah aku mah jadi makin kagum ma para nabi dan rosul dulu… mereka itu kuat.. sabar… pinter lagi nerangin ma orang… pantes Dia sayang ma mereka semua… terimakasih ya para nabi.. para rosul… meski kata orang engkau semua tiada lagi.. bagiku engkau semua selalu ada… terimakasih juga ya Tuhanku… semoga Engkau selalu menyayangi kami semua…. amin…

    aku percaya juga malaikat Jibril gak nganggur… gak dipensiunin ma Dia… sampai kapanpun… malaikat Rokib ma Atid, malaikat Malik ma Ridwan, Mikail, makin sibuk aja kayaknya… apalagi Izroil mah… kalo Isrofil mah gak tau deng… mungkin cuma niup terompet kecil aja… terompet gede nya mah nanti dulu…

  33. 33 godamn Februari 18, 2009 pukul 8:57 pm

    whuaduh… aku kok malah makin ngcapruk yah….
    udah jangan didengerin deng aku mah lah… (eh mestinya dibaca ya?)
    tukang ngcapruk… tukang provokator lagih…
    bego lagih… nama tuhan aja gak tahu…
    sksd lagih ma tuhan juga…
    biarin aja lah aku mah… cuma tukang menuhin kolom komen aja kok…

  34. 34 murtado Februari 18, 2009 pukul 9:20 pm

    yang paling aku benci dari agama adalah kewajiban menyembah tuhan sampai 5 kali sehari !

  35. 35 godamn Februari 19, 2009 pukul 4:41 pm

    @murtado
    jangan dipaksain mas.. rugi.. kalo nggak mau mah ya udah aja.. palagi kalo benci mah…
    trus ngcapruk benci nyembah lagi… hihihi…
    kalo nggak niat mah palagi benci… trus dipaksain kan nyiksa diri itu mah..
    menurut mas… emang Dia kalo nggak disembah jadi peyot… gituh?
    nggak loh… tapi disembah juga Dia mah gak jadi makin hebat kok…

    emang Tuhan jadi seneng gituh kalo disembah? nggaklah…hihihi…
    palagi kalo niatnya cari muka mah…
    kita juga gak mau kok, kalo ada yang ngedeketin kita trus cari muka mah…
    palagi kalo benci ma kita…. boro-boro deh mau nemuin…
    tapi jangan sirik juga kalo ada orang gi ngobrol deket ma Dia…
    jaga privasi orang lah.. mo cari muka juga biarin aja…orang lain ini kok…

    mending jangan nyembah… coba aja skali-kali mah ngobrol gituh ma Dia..
    gak usah formil-formilan… pake protokoler segala… 5kali sehari lagi…
    tapi sopan mah harus… kita juga kan pengen disopanin ma orang teh…
    kalo mau… bilang sendiri ma Dia… “aku benci Kamu” gituh… boleh juga kok…
    terus terang.. asal jangan di depan banyak orang aja…
    asli… Dia mah gak bakal marah… paling senyum-senyum aja lihat kelakuan mas…
    itu juga kalo ngerasa Dia ada… kalo nggak mah ya diem aja atuh..
    ya iyalah…. kalo ngerasa Dia gak ada mah…sapa yang mau diajak ngomongnya juga… kan gak ada..

    cape loh tereak-tereak gak didenger orang teh…
    kayak aku dulu… nangis kenceng2 sampe 2 jam… pengen diajak nonton ma kakak…
    eh gak digubris… kan gondok… untung aja ibuku baik… mau gendong aku… sampe nangisku abis..

    tapi eh tau nggak… kalo benci tuh artinya rindu gak kesampean… hihihi…
    tapi jadi sirik ma orang…
    kayak ceritanya Setan dulu… abis cintanya dia mah egois sih…
    emang Dia tuh punya dia aja gituh… aku mah gak boleh nyembah Dia… kan egois..
    jadi aja dimarahin ma Dia…

    tapi aku kasihan juga ma setan tuh…
    kalo ketemu ma setan nanti aku bilangin… Dia mah masih sayang ma semuanya juga…
    ma Setan juga… cuma Setannya aja egois pengen miliki Allah sendirian…
    yang lain mah gak boleh… adam mah gak boleh… gak level katanya…
    adam mah sama aja kayak celengan ayam… dari tanah… katanya…
    nyebelin juga sih… ngerendahin kita-kita banget yah…

    eh Mas Murtado… kayaknya situ suka juga ma Dia juga yah…
    dah nemuin Dia juga… cuma ngerasa dicuekin… hihihi…
    pengen disayang juga ma Dia.. tapi dikasihani juga gak mau… hihihi..
    sombong juga luh… hihihi…

    mending sabar ngantri aja mas.. kayak aku…
    yang lebih patut disayang ma Dia teh banyak loh…
    biarin lah aku mah dapet emper surga juga..
    abis di neraka mah gerah.. bawaannya jadi pengen marah mulu…
    jadi sinis ma orang… capek di neraka mah… gak kuat aku mah….suwer deh…
    kalo mo ikut ngantri mah bareng aku aja deh..
    ta’ temenin… biar ada temen ngobrol…
    di sini aja… di tempat Kang Dana…

    Asli loh…. kang Dana mah baek orangnya… ngcapruk boleh… sok dewasa boleh… sok tau boleh.. sok baik boleh… teriak-teriak boleh… sinis boleh juga… pura-pura bego boleh… asli bego gak diapa-apain juga… asli gak bakal didelete komen apapun juga…
    gak tahu juga sih nanti mah…
    Jenar juga asyik orangnya… tukang ngocol juga… sok tukang protes…
    padahal mah… hehehe…. gak tahu deh… ngobrol aja sendiri….
    kalo mo ngobrol ma kang Dana aku kasih bocoran deh…
    Dia tuh sekarang lagi suka ngebahas akting… mo jadi pemain sinetron deh kayaknya…
    gak tau deh kalo mo deketin Cinta Laura mah… hihihi….

  36. 37 v1t4m1nc Februari 20, 2009 pukul 7:42 pm

    knapppov

    [quote=”knapppov”]
    Akhirnya saya menyadari bahwa yang dimaksud mengimani adalah percaya bahwa yesus adalah utusan Allah swt, [b]dan tidak mati dikayu salib,[/b] dengan membawa kebenaran torat khusus untuk bani israil. [/quote]

    Hm,…. ngga ada dasarnya.

    [quote=”knapppov”]umat kristen menggunakan perjanjian baru ciptaan saulus(paulus) dengan doktrin ketuhanan yesus.[/quote]

    Duh tambah ngawur,…

    [quote=”knapppov”]
    Ajaran tauhid mulai dari adam nuh musa isa ibrahim muhammad, menyuruh untuk menyembah Allah swt, dengan para nabi sebagai manusia utusan Allah.[/quote]

    Para nabi menyembah YHWH bukan allah swt, karena allah swt cuma tuhan untuk umat Islam

    [quote=”knapppov”]kenyataannya yang terjadi biasanya mengganti kitab-kitab torat zabut injil atau alquran dengan menitikberatkan kebenaran pada pribadi orang-orang.[/quote]

    Ya ampuunnnn,… dasarnya apa??

  37. 38 danalingga Februari 20, 2009 pukul 8:17 pm

    @Haris Suryanegara

    Rasanya memang sejalan soal paragraf awal itu.

    Ah, terjebak dalam doktrin kelirupun tidak apa apa, selalu ada peluang untuk memperbaikinya toh. Daripada malah tidak berani ngapa-ngapain.

    @godamn

    Adil menurut godamn itu mah.😛

    @murtado

    Yah, jika benci jangan lakukan. Gitu aja kok repot.

    @ndin

    semoga selamanya.

    @v1t4m1nc

    Para nabi menyembah YHWH bukan allah swt, karena allah swt cuma tuhan untuk umat Islam

    Anda malah jadi sengawur yang anda kritik.

  38. 39 godamn Februari 20, 2009 pukul 10:26 pm

    @dana
    hwahahaha…. aku maksain banget yah… :p
    ok deh… ngaku.. puyeng mikir itu mah…
    kalo dah punya jawabannya… kasih tahu aku yah….

  39. 40 knappov Februari 23, 2009 pukul 5:50 pm

    @v1t4m1nc
    dasarnya kitab perjanjian lama dan baru, tapi kalo nggak salah ketuhanan Nabi Yesus dikukuhkan lewat konsili Nicea tahun 235, dan Maryam dikukuhkan sebagai ibunda tuhan lewat konsili Ephesus tahun 431, oleh keuskupan Bizantium Timur, sedangkan wilayah barat menganut paham Unitarian alias Keesaan Allah, dan Yesus sebagai utusan Allah, sehingga para uskup yang tidak menandatangani konsili tersebut dikucilkan dan ajarannya dilarang. Dan Saulus (Paulus) mengangkat dirinya sebagai rasul.
    Itu pemahaman saya yang dirasa mungkin ngawur.

  40. 41 Deva Februari 24, 2009 pukul 1:43 pm

    wah pusing mikirin yang mbulet-mbulet sedangkan Tuhan saja tidak mbulet kok seperti melihat angka 6 dan 9 saja mngaku yang paling benar semua. Diambil semua pendapat yang benar dijadikan satu kan malah nantinya mendekati kebenaran yang mutlak, itu hanya mendekati karna yang mutlak milik Tuhan, Allah, Im yang, Yesus, Budha, Gusti Ingkang Maha Agung, Manithou yang Agung, Yahweh terserah mau menyebut apa terhadapNya terserah pemahaman masing-masing dari pada ribut cari benarnya sendiri-sendiri. Karna bagi saya Jenar adalah seorang yang moderat dalam mencari Tuhannya. makanya bebaskanlah pikiran dari semuanya kosongkanlah semuanya biar Tuhan sendiri yang mengisinya.

  41. 42 v1t4m1nc Februari 25, 2009 pukul 9:28 am

    @knappov
    Yups,… btul kamu ngawur

  42. 43 Ioanes Februari 25, 2009 pukul 10:05 pm

    Kebencian dan cinta bak dua sisi dari satu mata koin.

    Salam,
    Ioanes

  43. 45 knapppov Maret 2, 2009 pukul 3:50 pm

    @v1t4m1nc
    Yups,.. btul kamu ngawur
    ////
    siapa ya yang ngawur?
    Menurut MatiussXV-25 “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel”

    Mestinya dari kalimat itu hanya umat israel saja yang perlu, selain umat israel boleh jadi takjub terngnga melihat kemuliaan nabi(utusan) sehingga menuhankannya. Nyatanya hampir seluruh warga WASP amerika menTuhankan, padahal Isa as berdarah sama dengan kaumnya alias yahudi. Artinya WASP amerika menyembah orang Yahudi, buktinya Negara AS bertekuk lutut dikaki Yahudi israel, secara kejawen boleh jadi disebut bahwa amerika itu “kalah awu” terhadapilmu spiritual yahudi jadi kalau spiritualnya itu kalah, pastilah kalah pengaruh, karena dikabarkan nahwa nabi Isa malah hendak dibunuh oleh yahudi.., sedangkan di lain pihak menuhankannya.
    Dari disini bisa dipahami mengapa RRC Jepang Korea bisa menggilas Amerika dalam hal ekonomi, karena RRC Jepang Korea punya tuhan yang lain.
    Juga kenapa Palestina yang tanpa senjata kadang menggempur Israel yang bersenjata lengkap dan canggih karena tuhannya orang israel itu diciptakan Oleh Tuhannya orang palestina..

    Jadi ngawurnya itu kalau Meyakini Matius XV-25, atau menolaknya?
    Kalau menolaknya kenapa juga cape-cape mengajak orang untuk mengikuti kitabnya…

  44. 46 uhuik Maret 2, 2009 pukul 3:54 pm

    Aku membenci danalingga sehingga aku tiap kali harus membaca posting-postingnya.

    *benci apa kecanduah neeh..

  45. 47 abahedo November 1, 2009 pukul 10:34 pm

    aku ga komen ah.. “kosong” euy.. hahahahha..

    dari tadi aku mah cuma ketawa ketiwi.. aja sampe keluar air mata baca komen kang godamn wkakkakaka..

    tapi.. ada sedikit yg mengganggu nih..

    @abdul
    “Ok gw juga ngerti semua sifat itu dari Allah, jangankan ilmu, kesombongan juga datangnya dari Allah” yakin tuh mas kesombongan juga dari Allah??
    Allah [aku]?? atau [Allah.SWT]?? hikhsiks..
    maaf mas… saya sendiri suka terjebak dan terjerumus oleh terjemahan Al’quran ketika saya sedang mencari bukti adanya Tuhan, atau ketika mencoba mengenal Tuhan. namun semuanya jelas ketika saya membaca buku The Tao Of Islam [bukan bermaksud promosi buku lhoo.😀 ].
    ohh.. ya.. satu lagi saya pernah mendengar.. bahwa “semua kesempurnaan itu milik Tuhan dan semua kekhilafan itu milik kita manusia”

    peace ah..^_^!

  46. 48 supranoto Februari 24, 2013 pukul 7:46 am

    Ass, nun sewu numpang lewat ndoro

    Sejarah kadang meninggalkan tapak tilas, ada yang baik kadang ada yang buruk, akhir dari tilasnya kita tidak mengetahui bahwa ada penyelesian di titik baiknya itulah yang kita tidak ketahui, karena pandangan kita hanya memandang bulat-bulat, sehingga pandangan kita terjepit dan missing, kalimat yang ditinggalkan oleh si Mbah harusnya dicermati dengan baik , pasti sejarah akan terulang kembali tergantung manusianya akan meluruskan atau membelokan sejarah itu….terserah ndoro-ndoro, itu kan kalimat penggalan, tapi akhirnya ada penyelesaian kan!, tulisannya baik lho mas lingga
    Kalau saya yang bodoh ini juga pernah membuat kalimat ” Diantara pertentangan jangannlah diambil suatu kebencian, ambil saja hikmahnya dan kembali ke Akidah yang benar “
    S Mbah wali yang bijak, kadang yang namanya manusia tidak lepas dan memiliki emosi , kan emosi bisa mempengaruhi keimanan yah, tapi si mbah memiliki kunci kesabaran, itulah sosok manusia besar keilmuannya, didalam si mbah di kenal sebagai #manusia besar keilmuannya,yang masih hidup#
    Trims mas lingga saya lihat tulisan2nya sangat menari
    Wass
    Supranoto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Februari 2009
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: