Perempuan Berkalung Sorban

Belakangan ini, sempat ramai diperdebatkan tentang film Perempuan Berkalung Sorban besutan sutradara Hanung Bramantyo . Yang membuat heboh hingga ke media massa, sejauh pengamatan saya, adalah akibat Imam Besar Istiqlal yang juga Wakil Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) sangat kontra dengan film ini . Maka sungguh menarik untuk dibahas jika sudah melibatkan petinggi salah satu agama. Lebih menjual seru untuk membahasnya.

Adapun Alasan kontranya adalah bahwa film ini menjelek-jelekkan ajaran Islam. Bahwa film ini tidak sesuai dengan kenyataan. Bahwa yang membuat film tersebut tidak mengerti Islam. Begitulah kira-kira yang aku tangkap dari alasan pak Ali Mustafa Yaqub tersebut saat diperdebatkan dengan Hanung di salah satu televisi swasta. Juga seperti itulah kira-kira intinya jika dilihat pada artikel detik yang saya link sebelumnya.

Nah, rasanya untuk keberatan-keberatan pak Ali Mustafa Yaqub itu terlalu subjektif, dan kesannya hantam kromo dalam artian pokoknya film tersebut salah. Itu kesan yang saya tangkap dari segalanya pernyataan beliau. Padahal jika dilihat dari pembelaan sang sutradara, bahwa di film tersebut sama sekali tidak dimaksudkan untuk menghina Islam. Film ini hanya memaparkan bahwa dari produk (agama) yang sama bisa menghasilkan tindakan yang berbeda. Dari satu sumber ajaran yang sama, bisa menimbulkan tindakan yang bertolak belakang.

Jelas soal seperti itu sudah menjadi hal yang jamak dalam kenyataan hidup kita sehari-hari bukan? Jadi rasanya tuduhan telah menghina pesantren tidak pada tempatnya. Bukankah sudah dijelaskan oleh sang sutradara, bahwa di dalam film ada tokoh bijak dan tokoh tidak bijak yang keduanya adalah produk dari pesantren (agama) yang sama. Jika benar begitu, maka ini hanya penggambaran akan hal yang telah jamak dalam hidup kita, bahwa dengan sumber yang sama maka hasilnya bisa berbeda-beda.

Yah, tapi bisa dimaklumi juga sih keberatan pak Ali Mustafa Yaqub. Saya menganggap bahwa keberatan berkaitan dengan soal menghina Islam ini masih dalam taraf wajar. Namanya juga pendapat yang memang sangat tergantung dari sudut pandang si pemberi pendapat. Walau sebenarnya bisa saja dianggap hal tersebut adalah otokritik, atau sebuah peringatan agar umat muslim tidak terjerembab kepada kelakuan minus yang digambarkan dalam film tersebut. Tapi tentu sah juga dipandang secara berbeda, yakni menyerang ajaran Islam.

Sedangkan untuk keberatan karena film tersebut dianggap tidak sesuai kenyataan rasanya sungguh tidak dapat saya maklumi. Padahal sudah jelaskan yang dipersoalkan ini adalah sebuah film, yang diangkat pula dari sebuah novel fiksi. Jadi tidak ada kewajiban untuk menyamakan dengan kenyataan (walau terlalu naïf juga jika kita menafikan bahwa kejadian tersebut tidak mungkin terjadi). Jika harus sesuai kenyataan ya namanya bukan fiksi, melainkan sejarah. Dan rasanya sampai saat ini, film dan novel tersebut bukanlah film atau novel sejarah. Mungkin pak Ali Mustafa Yaqub lupa akan hal penting tersebut.

Untuk keberatan yang ketiga, mengenai pembuat film tidak mengerti Islam saya tidak ada komentar. Jika dari resensi yang saya baca, tidak ada hal yang menyebabkan pembuat film ini layak disebut tidak mengerti Islam. Tapi sudahlah, saya sedang tidak ada mood untuk membahas siapa yang mengerti Islam, siapa yang tidak. Bisa dalam artikel tersendiri nanti membahas hal tersebut. Sebab persoalan tersebut pasti akan panjang.

Sekedar catatan penutup dari saya. Rasanya umat muslim yang seperti pak Ali Mustafa Yaqub ini terlalu sensitif terhadap sesuatu yang kebetulan mengandung apa yang dianggap sebagai simbol Islam. Tapi bisa jadi kesensitifan pak Ali Mustafa Yaqub ini ada dasarnya juga, bahwa umat muslim Indonesia masih segitu bodohnya, sehingga akan langsung mengasiosasikan simbol Islam dengan ajaran Islam itu sendiri.Mungkin memang sudah saatnya untuk melakukan desakralisasi dari simbol-simbol tersebut.

Dan tampaknya Pak Ali Mustafa Yaqub memang terkesan menganggap umat muslim itu memang tidak akan mampu memilah mana sebenarnya ajaran Islam dan mana yang bukan dalam film tersebut. Kesanya menjadi tidak percaya akan kemampuan umat untuk menyaring informasi yang masuk kepadanya. Semoga itu hanya kekhawatiran karena kepentingan umat. Bukan karena ketakukan akan ditinggalkan jika umat ternyata sudah cukup mampu untuk memilah hal untuk dirinya sendiri. Jika benar karena ketakutan, maka sungguh merupakan sebuah tipikal khas para petinggi agama. Tipikal petinggi agama yang ternyata tidak lekang dimakan waktu.

Oke, sebelum semakin melebar, maka saya cukupkan sampai disini mengenai sedikit pandangan saya akan Pro Kontra Film Perempuan Berkalung Sorban ini. Saya mengikutinya hanya sebatas debat di televisi dan artikel di detik.com. Terus terang saya belum menonton film ini, tapi menurut akal sehat saya, maka film ini tidak mungkin separah film Fitna atau novel ayat-ayat setan . Jadi tidak perlu terlalu diributkan. Santai sajalah, ini kan cuma film yang diangkat dari novel fiksi. Lebih merupakan tontonan untuk menghibur. Tidak usah terlalu dianggap serius.

34 Responses to “Perempuan Berkalung Sorban”


  1. 1 KiMi Februari 15, 2009 pukul 10:09 am

    Saya kok jadi melihat Islam itu agama yang anti-perbedaan ya? Beda dikit aja langsung dibilangnya, “Itu tidak sesuai dengan nilai-nilai agama!” Eh bo’, lupa apa yah setiap orang itu punya pemahaman yang berbeda-beda? Setiap orang kan punya sudut pandangnya sendiri.

  2. 2 Lumiere Februari 15, 2009 pukul 1:14 pm

    …Santai sajalah…

    bukankah ‘sikap’ menunjukkan seperti apa kedewasaan keberagamaan seseorang? 8) Eh, tp saya gak bilang pak Ali gak dewasa lho ya, sungguh!

  3. 3 godamn Februari 15, 2009 pukul 5:28 pm

    @Kimi
    Mas kimi… jangan samain deh, Islam ma orang islam mah… bener deh nggak gitu…
    kalo pemahaman orang beda-beda mah, aku setuju banget….
    aku sedih.. kalo ada yang apriori ma islam tuh…
    sama juga kalo ada yang apriori ma agama lain juga…
    tapi maaf ya.. aku gak nyalahin mas kimi kok, kalo berpandangan kayak gitu…
    yah… aku kira semua ini terjadi karena pemahaman beragama itu beda-beda…

    (ngapain juga yah… aku komen kayak gini… (*mikir) gak tahulah….)

  4. 4 sitijenang Februari 15, 2009 pukul 8:06 pm

    kalo masih dalam taraf debat sih ok aja. para petinggi agama pun kayaknya gak tahu pasti apakah opininya bakal dipilih umat. fatwa juga opini tapi mungkin lebih “resmi”…

  5. 5 secondprince Februari 15, 2009 pukul 8:55 pm

    Ho ho ho tulisannya hati-hati sekali
    gaya Mas Dana yang begini memang khas banget
    saluttt😛

  6. 6 Fortynine Februari 16, 2009 pukul 12:29 am

    Saya merasa bahwasanya film tersebut malahan memberikan sedikit pelajaran agar orang Islam (terutama kaum yang terkurung dalam pesantren) bisa lebih berfikir logis dan terbuka….

  7. 7 uhuik Februari 16, 2009 pukul 10:26 am

    saya belum lihat film dan debatnya, tapi kira-kira kalau yang membahas pak hermawan kertajaya, bolehjadi itu sih bagian dari pemasaran. Pak Ali Mustafa Yaqub mewakili kelompok yang belum pernah lihat film, dan hanya dengar laporan dan mungkin dari awalnya memang nggak minat nonton film apapun , begitulah kira-kira….
    Tapi saya pikir beliau Pak Ali Mustafa Yaqub tidaklah karena takut ditingggalkan umat, karena pada dasarnya da’wah itu bukan untuk jadi ketua/pemimpin umat yang akan dijunjung-junjung tetapi untuk menyampaikan risalah Quran….
    Apakah itu suatu tantangan perfileman indonesia (aspek sinematografi, skenario, dramatisasi dll)? saya ndak bisa menjawab pasti tapi di tivi-tivi banyak sinetron yang gambarannya terlalu hiperbolis dan dramatis tragis, seperti kuburan yang keluar api dll… Banyak juga kritik.
    Tapi setelah nonton film tersebut apakah orang tidak mau masuk pesantren? Belum tentu. Di UGM dulu (1990an) mahasiswa fisipol malah sering dikejar-kejar tentara saat demonstrasi, tapi sampai sekarang tetap ada yang demo, mahasiswanya juga tetap banyak.

  8. 8 Rasyeed Februari 16, 2009 pukul 12:24 pm

    …pro dan kontra, membuat hidup lebih hidup…

    perempuan berkalung sorban? belum lihat film-nya, tapi saya sudah lihat Slumdog Millionaire.. bagus..!🙂

  9. 9 vatonie Februari 16, 2009 pukul 10:18 pm

    Perempuan Berkalung Sorban itu film biasa aja kok, (kalo menurut saya) ya sama aja kayak film-film yang lain

    Menghina agama? ah, ndak juga, cuma perasaan tu….

    Ponari lebih layak untuk dikomentari dan diberi fatwa daripada PBS

    *Ngeblog sambil jadi PBS: Pria Berkalung Sarung :D*

    Salam kenal pak….

  10. 10 oddworld Februari 17, 2009 pukul 9:14 pm

    Mas Dana nggak tertarik main lagi ke MyQ ? Ada pertukaran ide yang lumayan menarik terkait PBS.🙂

    Secara umum Hanung mulai berani mendekati suatu persoalan dari berbagai sudut pandang, sayang penyelesaian masalah masih semodel sinetron Indonesia. Kalau diubah sedikit lagi dengan ending yang sedikit lebih terbuka mungkin lebih bagus.

    Satu hal yang sudah saya perkirakan akan menjadi sumber kritikan adalah ketika bunda Annisa mencegah usaha untuk merajam Annisa dan Chudori dengan ‘meminjam’ perkataan Isa AS ,’Yang berhak melempar batu untuk merajam adalah mereka yang sama sekali tak pernah berbuat dosa’
    Pembenaran saya mungkin bunda Annisa pernah membaca Alkitab, atau membaca kitab tafsir yang memuat kisah itu, dan menemukan relevansi keadaan yang dihadapi Annisa dan Chudori (yang diancam untuk dirajam) dengan ayat dalam Alkitab tsb. Sayang tidak ada adegan yang memberi hint ke arah itu. Sehingga sebagian orang dapat pula berpendapat bahwa ini merupakan usaha membandingkan hukum Islam dengan ayat dalam Alkitab.

  11. 11 Rindu Februari 18, 2009 pukul 8:35 am

    akhirnya film yang saya perankan dibahas juga disini …🙂 haih !!

  12. 12 iman brotoseno Februari 18, 2009 pukul 11:41 am

    Masyarakat kita masih belum bisa menerima sebuah kritik sosial apalagi berbungkus tafsir agama..masalah gender masih issue sensitif di Islam, walau Islam tidak menunjukan keberpihakan. Selainitu masalah budaya yang sering dicampur adukan dengan Islam membuat menjadi tambah ruyam..

  13. 13 Abuya Alex© Februari 19, 2009 pukul 10:42 am

    Walah… ternyata Dana juga nonton tho?😀

    Saya nggak sampai ke ahli dari MUI itu nontonnya, cuma sampai Ridwan Saidi versus Hanung. Dan kesan saya sama sepertimu, Dan.
    Jemu…

    Hanung benar: memangnya para kyai itu maksum? Bersih dari dosa?

    Dan lagi Hanung benar: pesantren memang properti Islam. Tapi apakah semua pesantren 100% Islami? Hei hei… berita pelecehan seksual bukannya tidak ada dilakukan di pesantren.

    Di Aceh sendiri memang tak seperti di film itu, tapi bahwa masih ada yang menutup diri, memang benar. Lha… saya saja sempat ngerasain pecutan rotan di kaki cuma karena main sepak bola. Alasannya? “Main sepak bola itu musyrik. Sama dengan menendang kepala cucu nabi di padang Karbala!”.

    Ya, ya…. pemecut rotan itu memang cuma oknum saja😕
    *sigh*

  14. 14 Abuya Alex© Februari 19, 2009 pukul 10:47 am

    Satu lagi:

    Hanung itu bukannya juga menyutradarai film Ayat-ayat Cinta yang konon Islami™ itu? Lha… kok jadi macam panas setahun lekang dihapus hujan sehari? Kemana sanjungan Islami buat Hanung dulu itu?😛

  15. 15 Ando-kun Februari 20, 2009 pukul 1:32 am

    Seandainya judul filmnya ” Perempuan berkalung salib” tentu yang ribut juri piala Oscar.

    NB. Maksudnya film DOUBT yang dibintangi Meryl Streep sbg perempuan berkalung salib.

  16. 16 Lambang Februari 20, 2009 pukul 4:46 pm

    Mas Dana,

    Miyabi ikut main di film itu apa ngga ? Kalau ada, pingin juga nonton film itu. Siapa tahu dapat pencerahan baru …🙂

    Salam.

  17. 17 danalingga Februari 20, 2009 pukul 8:08 pm

    @KiMi

    Takutnya gambaran seperti ini akan semakin banyak jika umat Islam tidak mau mengkoreksi diri.

    @Lumiere

    Apakah kamu sudah dewasa?

    @sitijenang

    Semoga cuman sampai debat saja, tidak sampai memaksa.

    @secondprince

    Iya, hati hati biar tidak perlu membahas hal-hal diluar maksud artikel.:mrgreen:

    @Fortynine

    Berarti memang dari mana kita hendak menilai.

    @uhuik

    Semoga benar karena bukan takut.

    @Rasyeed

    Asal jangan sampai memaksa saja sih.

    @vatonie

    Nah itu dia, ini hanya sebuah film. Jangan terlalu berstandar tinggi.

    @oddworld

    Wah, saya sudah jarang ke MyQ sejak beberapa ruang diskusi dihilangkan.

    Oh iya, mengenai peminjaman kata Isa AS ini saya lebih cenderung mengganggap jika memang Beliau sudah membaca Alkitab, dan merasa bahwa kondisi saat itu tepat seperti kondisi yang dihadapi Nabi Isa saat mengucapkan kata legendaris tersebut. Tafi jika pembelaan ini dipakai dalam MyQ maka sepertinya akan menjadi bulan-bulanan deh.😉

    @Rindu

    Halah!😛

    @iman brotoseno

    Yah, semoga semakin sering film yang begini akan semakin dewasa juga Indonesia ini.

    @Abuya Alex©

    Ini yang lain lagi bro, masih di TV one sih. Oh iya, yang debat itu juga saya nonton, cuma sambil lalu aja sih.

    Yup, intinya sih menurut aku film ini berpesan jangan terlalu silau sama label.

    Iya, jasanya pada AAC ternyata telah luntur.😛

    @Ando-kun

    Weh, saya belon nonton.

    @Lambang

    Miyabi maen pilem yang laen.

  18. 18 Lumiere Februari 20, 2009 pukul 8:24 pm

    Apakah kamu sudah dewasa? kata Om saya sih… “setengah mateng”:mrgreen: telor kale… *kabur biar gak perlu menjelaskan hal2 diluar maksud*😛

  19. 20 linusfans Februari 25, 2009 pukul 3:43 pm

    salam kenal, semoga usaha Anda sukses..

    Jika berkenan berkunjung ke blog linus fans.
    Sudah tahu Linus Airways?
    Perusahaan penerbangan baru yang menerbangi beberapa wilayah di Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.

    Saat ini dari Jakarta – Palembang-Batam-Pekanbaru-Batam-Medan.(PP),
    Jakarta-Tanjung Pandan-Jakarta-Pangkalan Bun-Semarang- Pangkalan Bun- Jakarta.
    Untuk info lebih lanjut 021. 6220 3755

    Dalam waktu dekat ini akan membuka Route baru Bandung-Palembang (PP) akan sangat menyenangkan jika Anda mau menyebarkan informasi ini ke segenap rekan Anda.

    Semoga persahabatan kita bisa berlanjut ke dalam bentuk kerja sama yang saling menguntungkan.
    Sukses selalu buat Anda.

    e-mail: linus.fans@yahoo.com
    htpp://linusfans.wordpress.com
    http://www.linusairways.co.id

  20. 23 edratna Maret 2, 2009 pukul 10:28 am

    Ahh saya suka film itu…berani menayangkan hal, yang belum tentu semua orang berani. Dan saya tak melihat seperti yang diributkan itu…

  21. 25 watonist Maret 2, 2009 pukul 3:30 pm

    Dan tampaknya Pak Ali Mustafa Yaqub memang terkesan menganggap umat muslim itu memang tidak akan mampu memilah mana sebenarnya ajaran Islam dan mana yang bukan dalam film tersebut. Kesanya menjadi tidak percaya akan kemampuan umat untuk menyaring informasi yang masuk kepadanya.

    saya pun terus terang masih meragukan kemampuan (sebagian besar) masyarakat kita dalam memilah informasi, Dan. sama seperti komentar seorang teman Katolik saya menanggapi munculnya TDVC nya Dan Brown, “sebenarnya sih nggak ada masalah apa-apa, hanya saja sebagian besar masyarakat kita kan masih sulit untuk memilah informasi”.

    btw, emang film-nya kayak apa sih ??

    • 26 danalingga Maret 2, 2009 pukul 8:01 pm

      Rasanya terlalu berlebihan kekhawatiranmu itu ton. Ini film biasa, dimana bukan sulit untuk mencerna mana tokoh panutan mana yang bukan. Dan setahu saya rakyat Indonesia tidak terlalu bodoh untuk menentukan mana tokoh panutan dan mana yang bukan dalam film tersebut.

      Tapi entahlah, jika memang rakyat Indonesia sebodoh itu.🙄

  22. 27 watonist Maret 2, 2009 pukul 9:08 pm

    @Danalingga
    bukan bodoh sih Dan … toh bodoh sendiri adalah sesuatu yang relatif.

    tapi sikap gampang silaunya itu yang mengkhawatirkan … meskipun nggak bisa sepenuhnya disalahkan.

    kalau pake bersorban … wuahh, orang alim
    kalau pake peci … wuahh, orang sholeh
    kalau pake jas … wuahh, orang elit
    kalau pake dasi … wuahh, orang profesional
    kalau pake mobil … wuahh, orang kaya, mesti seneng hidupnya
    kalau titelnya berjejer … wuahh, orang pintar (bukan dukun lho maksudnya😀 )
    dst.

  23. 28 uhuik Maret 3, 2009 pukul 6:25 pm

    ikut ngomel:

    tapi sikap gampang silaunya itu yang mengkhawatirkan … meskipun nggak bisa sepenuhnya disalahkan.
    —-
    mosok masyarakat indonesia gampang silau, tuh banyak penggemar pilem india tapi nggak ada yang niru-niru nari, sebelum makan joged, sebelum tidur joged, sebelum berkelahi joged….

    *asbun

  24. 29 sigid Maret 10, 2009 pukul 5:12 pm

    Mungkin ndak dari uraian di paragraf 9 tadi, pak Ali sendiri sebenarnya ndak yakin alasan dia itu yang mana😀

  25. 30 anonim November 11, 2009 pukul 8:16 am

    ya ………….
    kalo ada yg mengkritisi b’arti msh ada yg prihatin dgn kondisi moral bangsa ini. benar ga???

  26. 31 yaman Mei 14, 2010 pukul 11:01 pm

    keren abis tulisan nya mas ajarin bikin bog bagus donk

  27. 32 fhytri Mei 24, 2010 pukul 8:26 pm

    arapa mak wanita itu selalu dikatakn lemah????
    wanita gag semuanya lemah

  28. 33 juni September 18, 2010 pukul 11:29 am

    sebaiknya agar nggak jadi omong ngalor ngidul ujungnya saling tuding ini itu , kalau mau ngomong pahami dulu apa yang akan di omongkan agar paham apa yang akan di omonngkan (dibicarakan) kok kayaknya yang omong itu sok ngerti ujung ujungnya kata orang jawa saukur njeplak.

  29. 34 Ayay September 4, 2011 pukul 2:30 pm

    Waah. pantes, nih blog penganut penyatuan agama.. anak buah anand krisna, anak buah dajjal sai baba.. misinya mengaburkan pemahaman beragama. hati-hati..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Februari 2009
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: