Posts Tagged 'dialog'

Muslim

“Kamu itu muslim bukan?”

“Tergantung defenisi muslim itu apa.”

“Hem… maksudnya? “

“Begini, jika defenisi muslim adalah berlabel Islam di KTP jelas aku bukan muslim.

“Lantas, emang ada defenisi lainnya?

“Tentu ada defenisi lainnya. Defenisi yang menyatakan bahwa muslim itu adalah orang yang telah berserah diri kepada Allah.”

“Lantas bagaimana jika menurut defenisi ini, apa kamu muslim?”

“Ehem… begini … jika memakai defenisi ini maka aku belum muslim. ” *nyengir kuda*

“Wa..ladalah… muter-muter ternyata Cuma mau bilang bahwa kamu bukan muslim saja. ” *melet*

“Kekekekekeke…. “

Iklan

Tuhan Yang Pemalu

“Tuhan itu pemalu ya?”

“Heh?!!! Kok kamu bisa berpandangan begitu. Hati-hati kamu bisa dituduh telah menghujat Tuhan. “

“Waduh, bukan niat menghujat. Hanya saja itulah yang terlintas dipikiran ketika Pak Haji dan Om Pendeta sebelah rumah sama-sama menjelaskan bahwa Tuhan itu tidak dapat dilihat. “

“Lah, tidak dapat dilihat bukan berarti karena malu kan?”

“Yah, jika buat manusia sih memang benar. Tapi ini kan Tuhan yang katanya maha-maha. Seharusnnya jika Tuhan memang ingin dilihat ya tentu Dia bisa membuat Dia terlihat. Pasti tahu caranyalah. Maka ketika Tuhan ternyata tidak dapat dilihat maka itu hanya bisa berarti bahwa Tuhan memang tidak mau dilihat. Dan salah satu alasan yang terpikir oleh saya adalah Tuhan itu malu jika dilihat. Yang belum saya tahu kenapa Tuhan malu dilihat ya?”

“Malu kan cuma salah satu alasan saja. Bisa jadi Tuhan tidak mau dilihat demi keselamatan yang melihat. Manusia bisa jadi tidak tahan jika melihat Tuhan. Contohnya Nabi Musa tuh. “

“Ah, tetap saja jika Tuhan mau maka manusia tentu bisa dan tahan melihatNya. Semuanya tergantung mau tidaknya Tuhan. Toh segala sesuatu mungkin bagi Dia bukan? “

” … “

Seandainya Saja …

Sebuah ruangan lembab dan pengap. Lumayan seram dengan lampu teplok yang hanya sanggup memberikaan cahaya remang-remang. Terjadilah dialog antara dua anak manusia yang kebetulan jadi pemimpin umat yang ngaku beragama. Orang pertama adalah orang yang mewakili orang lebih banyak. Jadi otomatis merasa bahwa yang diwakilinyalah agama sebenarnya. Orang kedua adalah pemimpin umat yang ternyata memiliki tafsir berbeda dengan yang diwakili oleh orang pertama. Berhubung umat orang kedua lebih sedikit dan tafsiran mereka juga lebih baru, maka otomatis orang pertama yang memiliki kedudukan lebih kuat. Maka dialog ini lebih kepada penasehatan dari orang pertama kepada orang kedua agar segera bertobat. Sebuah dialog yang wajar.

nikmati dialog yang wajar ituh …


Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Desember 2017
S S R K J S M
« Mei    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.