Atas dasar Ilmu Sejarah (Dalil Sam’i), dipercayai oleh umat Islam bahwa diterimanya Al-Qur’an oleh NABI MUHAMMAD SAW terjadi secara berangsur-angsur selama 23 tahun. Yang terbagi dalam 2 periode, yaitu Periode Mekkah (surat Makkiyyah) 13 tahun, dan periode Madinah (surat Madaniyah) dalam kurun waktu 10 tahun
Penulisan Al-Qur’an dan perkembangannya
Penulisan (pencatatan dalam bentuk teks) Al-Qur’an sudah dimulai sejak zaman NABI MUHAMMAD SAW. Kemudian transformasinya menjadi teks yang dijumpai saat ini selesai dilakukan pada zaman khalifah Utsman bin Affan.
A. Pengumpulan Al-Qur’an di masa Rasullulah SAW
Pada masa ketika NABI MUHAMMAD SAW masih hidup, terdapat beberapa orang (hafiz) yang ditunjuk untuk menuliskan Al Qur’an yakni :
1. Zaid bin Tsabit
Kekuatan daya ingat Zaid bin Tsabit telah membuatnya diangkat penulis wahyu dan surat-surat Muhammad semasa hidupnya, dan menjadikannya tokoh yang terkemuka diantara para sahabat lainnya. Pada zaman kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, Zaid bin Tsabit adalah salah seorang yang diamanahkan untuk mengumpulkan dan menuliskan kembali AL-QURAN dalam satu mushaf.
2. Ali bin Abi Talib
Ketika NABI MUHAMMAD SAW menerima wahyu, Ali adalah lelaki pertama yang mempercayai wahyu tesebut atau orang ke 2 yang percaya setelah Khadijah istri Nabi sendiri. Pada usia remaja setelah wahyu turun, Ali banyak belajar langsung dari Nabi SAW karena sebagai anak asuh, berkesempatan selalu dekat dengan Nabi hal ini berkelanjutan hingga beliau menjadi menantu Nabi. Hal inilah yang menjadi bukti bagi sebagian kaum Sufi bahwa ada pelajaran-pelajaran tertentu masalah ruhani yang diajarkan Nabi khusus kepada beliau tapi tidak kepada sahabat-sahabat yang lain.
3. Muawiyah bin Abu Sufyan
Bergelar Muawiyah I adalah khalifah pertama dari Bani Umayyah. Ia diakui sebagai khalifah sejak Hasan bin Ali, berbai’at padanya.
4. Ubay bin Kaab
Ubay merupakan salah seorang penulis bagi Nabi Muhammad. Ubay diriwayatkan memiliki suatu mushaf khusus susunannya sendiri. Ubay juga adalah anggota kelompok penasehat (mushawarah) yang dibentuk oleh khalifah Abu Bakr sebagai tempat bertanya atas berbagai permasalahan. Dewan tersebut terdiri dari Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Muadz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Kaab sendiri. Setelah menjadi khalifah, Umar bin Khattab kemudian juga meminta nasehat dari kelompok yang sama, khususnya kepada Utsman, Ubay dan Zaid bin Tsabit.
Sahabat yang lain juga kerap menuliskan wahyu tersebut walau tidak diperintahkan. Media penulisan yang digunakan saat itu berupa pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Di samping itu banyak juga sahabat-sahabat langsung menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an setelah wahyu diturunkan.
B. Pengumpulan Al-Qur’an di masa Khulafaur Rasyidin
1. Pada masa pemerintahan Abu Bakar
Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, terjadi perang Ridda yang mengakibatkan tewasnya beberapa penghafal Al-Qur’an dalam jumlah yang signifikan. Umar bin Khattab yang khawatir akan keadaan tersebut, meminta kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan seluruh tulisan Al-Qur’an yang saat itu tersebar di antara para sahabat. Abu Bakar lantas memerintahkan Zaid bin Tsabit sebagai koordinator pelaksaan tugas tersebut. Setelah pekerjaan tersebut selesai dan Al-Qur’an tersusun secara rapi dalam satu mushaf, hasilnya diserahkan kepada Abu Bakar. Abu Bakar menyimpan mushaf tersebut hingga wafatnya kemudian mushaf tersebut berpindah kepada Umar sebagai khalifah penerusnya, selanjutnya mushaf dipegang oleh anaknya yakni Hafsah yang juga istri NABI MUHAMMAD SAW.
2. Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan
Pada masa pemerintahan khalifah ke-3 yakni Utsman bin Affan, terdapat keragaman dalam cara pembacaan Al-Qur’an (qira’at) yang disebabkan oleh adanya perbedaan dialek (lahjah) antar suku yang berasal dari daerah berbeda-beda. Hal ini menimbulkan “kekhawatiran” Utsman sehingga ia mengambil kebijakan untuk membuat sebuah mushaf standar (menyalin mushaf yang dipegang Hafsah) yang ditulis dengan sebuah jenis penulisan yang baku. Standar tersebut, yang kemudian dikenal dengan istilah cara penulisan (rasam) Utsmani yang digunakan hingga saat ini. Bersamaan dengan standarisasi ini, seluruh mushaf yang berbeda dengan standar yang dihasilkan diperintahkan untuk dimusnahkan (dibakar). Dengan proses ini Utsman berhasil mencegah bahaya laten terjadinya perselisihan di antara umat Islam di masa depan dalam penulisan dan pembacaan Al-Qur’an.
Menurut Syaikh Manna’ Al-Qaththan dalam Mahabits fi ‘Ulum Al Qur’an, keterangan ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Utsman telah disepakati oleh para sahabat. Demikianlah selanjutnya Utsman mengirim utusan kepada Hafsah untuk meminjam mushaf Abu Bakar yang ada padanya. Lalu Utsman memanggil Zaid bin Tsabit Al-Anshari dan tiga orang Quraish, yaitu Abdullah bin Az-Zubair, Said bin Al-Ash dan Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam. Ia memerintahkan mereka agar menyalin dan memperbanyak mushaf, dan jika ada perbedaan antara Zaid dengan ketiga orang Quraish tersebut, hendaklah ditulis dalam bahasa Quraish karena Al Qur’an turun dalam dialek bahasa mereka. Setelah mengembalikan lembaran-lembaran asli kepada Hafsah, ia mengirimkan tujuh buah mushaf, yaitu ke Mekkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah, dan sebuah ditahan di Madinah (mushaf al-Imam).
Upaya penerjemahan dan penafsiran Al Qur’an
Upaya-upaya untuk mengetahui isi dan maksud Al Qur’an telah menghasilkan proses penerjemahan (literal) dan penafsiran (lebih dalam, mengupas makna) dalam berbagai bahasa. Namun demikian hasil usaha tersebut dianggap sebatas usaha manusia dan bukan usaha untuk menduplikasi atau menggantikan teks yang asli dalam bahasa Arab. Kedudukan terjemahan dan tafsir yang dihasilkan tidak sama dengan Al-Qur’an itu sendiri.
Terjemahan Al-Qur’an adalah hasil usaha penerjemahan secara literal teks Al-Qur’an yang tidak dibarengi dengan usaha interpretasi lebih jauh. Terjemahan secara literal tidak boleh dianggap sebagai arti sesungguhnya dari Al-Qur’an. Sebab Al-Qur’an menggunakan suatu lafazh dengan berbagai gaya dan untuk suatu maksud yang bervariasi; terkadang untuk arti hakiki, terkadang pula untuk arti majazi (kiasan) atau arti dan maksud lainnya.
*Taken from Wikipedia
Pembahasan
DALIL AQLI (atas dasar dalil sam’i) :
Kitab Majazi yang selesai di”buku”kan ( bentuk lembaran yang berisi text ) dimasa kekhalifahan Ustman bin Affan, tentu saja tidak pernah dilihat, dibaca atau di pegang oleh NABI MUHAMMAD SAW. Karena kitab ini selesai di susun 7 tahun setelah meninggalnya NABI MUHAMMAD SAW.
Maka AQAL tidak dapat membantah bahwa “KITAB” yang dibaca, yang difahamkan NABI MUHAMMAD SAW atau yang disebut atau dimaksud dalam QS. Al Baqarah : 2, bukanlah “Kitab” yang sama dengan kitab yang popular atau dikenal sekarang ( Kitab Mazaji).
DALIL NAS ( Dari Al Qur’an Majazi ) :
Al Qur’an Majazi, yang banyak beredar sekarang ( di toko-toko buku, bahkan banyak yang dilengkapi “tafsir”nya )… ibarat “resensi” atau hasil bacaan “QUR’AN” ( Kitab yang “nyata” / terang ), yang dibahasakan melalui mulut NABI MUHAMMAD SAW.
…. Sungguh keberadaannya (Kitab Mazaji) adalah sebagai “rambu - rambu petunjuk“, yang menunjukan, yang menyatakan “ada”nya Haqiqat “QUR’AN” yang menjadi sumber atau bacaannya NABI MUHAMMAD SAW.
A. Dalil AQLI,
sesuatu yang disebut / dinamai pasti ada “objek”nya, maka Al Qur’an Majazi sendiri menyebutkan adanya “objek” ( QUR’AN ) yang menjadi bacaan NABI MUHAMMMAD SAW. Diantaranya :
1. AL QUR’ANUL MAJID.
QS. Qaaf : 1
2. AL QUR’ANUL ADZIM
QS. Al Hijr : 87
3. AL QUR’ANUL KARIM
QS. Al Waqiah : 77
4. AL QUR’ANUL HAKIM
QS. Yaasiin : 2
Bacaan atau “QUR’AN” inilah yang pada awal keNABIannya Muhammad, diperintahkan oleh Allah SWT untuk … “IQRA…!!!”. Dan banyak sekali “rambu-rambu” yang disebutkan dalam Al Qur’an Mazaji, yang menunjukan sifat-sifat dari “QUR’AN” yang merupakan bacaan NABI MUHAMMAD SAW. Berikut adalah “Tafsir” Al Qur’an Mazaji yang memaparkan sifat - sifat dari QUR’AN tersebut :
- (Rabb) Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan AL-QURAN. (QS. Ar Rahmaan : 1 - 2).
- Yang mengajar (manusia) dengan perantaran KALAM. (QS. Al Alaq : 4).
- Maka apakah mereka tidak memperhatikan AL-QURAN? Kalau kiranya AL-QURAN itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. An Nissa:82).
- Tidaklah mungkin AL-QURAN ini dibuat oleh selain Allah; … (QS. Yunus : 37).
- Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat Kitab yang nyata. Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa AL-QURAN dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya*. (QS. Yusuf : 1 - 2). *Menunjukan FAHAM sebagai tujuan dari bahasa.
- Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentu AL-QURAN itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah… (QS. Ar Ra’d :31).
- Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca AL-QURAN sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan. (QS. ThaaHa : 114)
- Sesungguhnya ayat-ayat-Ku (AL-QURAN) selalu dibacakan kepada kamu sekalian, maka kamu selalu berpaling ke belakang, (QS. Al Mu’minuun : 66).
- Berkatalah Rasul: Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan AL-QURAN ini sesuatu yang tidak diacuhkan. (QS. Al Furqaan : 30).
- Kalau sekiranya kami menurunkan AL-QURAN ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (QS. AL Hasyr : 21).
- Dan sesungguhnya AL-QURAN itu benar-benar kebenaran yang diyakini. (QS. Al Haaqqah : 51).
- AL-QURAN itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan, (QS. Yaasiin : 69)
- Sebenarnya, AL-QURAN itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim. (QS. Al Ankabut : 49)
- Maka apakah mereka tidak memperhatikan AL-QURAN ataukah hati mereka terkunci? (QS. Muhammad : 24)
Tafsir dari hasil bacaan NABI yang tersebut diatas, memaparkan sifat-sifat QUR’AN yang menjadi sumber bacaan NABI MUHAMMAD SAW, yang dipakai sebagai landasan IMAN. IMAN yang kokoh dianugerahkan kepada manusia yang beruntung, yang dipertemukan (sehingga menjadi nyata / terang), yang di IDRO kan dengan apa-apa yang di IMAN i nya, sehingga dapat menjelaskan (dengan dasar ILMU), me RASA kan dan ter FAHAM kan.
QUR’AN yang nyata, tidak samar, jelas, terang benderang, yang terkandung dalam pribadi RASULULLAH, yang hanya bisa dibaca atau diamati dengan “mata hati” yang jernih yang sarat akan ILMU dan menempat pada RASA, bukan dengan indera mata.
Atau dengan kata lain, sifat-sifat QUR’AN yang tersebut diatas adalah merupakan tafsir dari “hasil bacaan” dari pengamatan NABI MUHAMMAD SAW (melalui mata hatinya) yang diFAHAMkan oleh ALLAH (melalui KALAM) terhadap “objek” (yang disebut QUR’AN).
Adapun perbedaan Tafsir dengan Kalam, kurang lebihnya adalah :
- Tafsir : Ketemu kalimat atau pernyataan tetapi tidak ketemu / mengenal objek yang dikalimatkan. ( *ibarat rambu penunjuk, sedangkan tujuan tidak ada disana ).
- Kalam : Ketemu dengan kenyataan objek dan sudah pasti ketemu dengan pernyataan atau kalimatnya. ( * KALAM itu tidak berbunyi dan tidak berhuruf ).
NABI MUHAMMAD SAW difahamkan akan “6 perkara IMAN” (termasuk kitab atau QUR’AN) melalui KALAM bukan melalui TAFSIR. Sehingga 6 perkara IMAN ini menjadi nyata pada nya.
QUR’AN adalah objek yang nyata (dalam faham NABI MUHAMMAD SAW), yang tunggal dengan kalimatnya, tidak terpisah, bagaikan zat dengan sifatnya. Contoh : Didalam RASA, gula adalah objek dan dalam kalimat : gula itu manis. Manis adalah kalam gula.
Saliknya NABI MUHAMMAD SAW dalam menetapkan IMAN (6 rukun IMAN) adalah dengan “bertemu” dengan “objek” yang di IMAN-i secara nyata, jelas, tidak samar. Kenyataan, kebenaran (bukan yang palsu) yang HAQ. Setelah beliau “ketemu”, me-rasa-kan dan faham sehingga dapat menjelaskan, menguraikannya melalui ILMU yang dihadapkan dengan dalil (bukti,kenyataan yang tidak terbantahkan) kepada para sahabat dan umatnya. Dengan demikian nyatalah sifat Sidiq, Amanah, Fathonah dan Tabligh yang melekat padanya.
Begitu pula dengan orang-orang / kaum ( yang mengaku umat NABI MUHAMMAD SAW ), seharusnya mengikuti dan mempunyai pola fikir (didalam saliknya) yang sama dengan beliau. NABI MUHAMMAD SAW telah membimbing umatnya agar ketemu dengan sumber bacaan “QUR’AN” yang sama dengan bacaannya, sehingga “QUR’AN” ini lah dapat menjadi landasan IMAN ( bukan dari tafsir ).
B. DALIL NAS ,
Hadist Nabi yang bermakna :
“Aku wariskan kepada ummatku 2 perkara. Yang apabila ummatku berpegang kepada 2 perkara itu, maka jaminan selamat akan diperolehnya. 2 perkara itu adalah “QUR’AN” (bacaan) dan “HADIST” (faktanya).
Makna sesungguhnya :
2 perkara tersebut objek (nyatanya) adalah Pribadi RASULULLAH dan Perbuatan Pribadi RASULULLAH, NABI MUHAMMAD SAW menunjuk kepada Pribadi nya sebagai “QUR’AN” yang HIDUP dan meliputi perbuatannya. Objek nyata ini yang selanjutnya menjadi dasar “Syahadat” (penyaksian yang nyata, terang). Mengenai hadist ini banyak ulama yang menunjuk kepada lembaran kertas berbentuk buku yang bertuliskan huruf bahasa arab / kitab Mazaji dan kepada cerita Hadist (bukan Hadist), sehingga menyesatkan ummat karena mustahil ummat akan sampai kepada “Syahadat”.
Mengenai kedudukan “tafsir” yang dipandang sebagai QUR’AN (oleh mayoritas umat yang mengaku umat NABI MUHAMMAD SAW), maka pandangan ini adalah keliru. Pandangan yang keliru akan melahirkan AKHLAQ yang keliru. AKHLAQ bukanlah moral. Ahklaq adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya yang Haq. Dengan menempatkan “TAFSIR” sebagai kitab suci / pedoman hidup, adalah bertentangan dengan misi yang diemban NABI MUHAMMAD SAW, sebagai penyempurna AKHLAQ. Maka dudukanlah QUR’AN dengan AHKLAQUL KARIMAH.
TAFSIR ibarat rambu penunjuk yang hanya untuk dibaca dan dilewati, bukan sebagai tujuan suatu perjalanan, sedangkan QUR’AN adalah tujuan yang hendak dicapai.
Inilah masalah yang sangat mendasar dan terbukti, bahwa “tafsir” yang di IMAN-i sebagai kitab suci lah yang menjadi sumber perdebatan, perpecahan, kekacauan dan pertikaian. Padahal bila “objek yang nyata” (QUR’AN) yang ditemukan, dijamin tidak akan ada bantahan karena yang diamati adalah objek yang nyata.
Sesungguhnya penerimaan “wahyu” (melalui hantaran malaikat Jibril as.) oleh NABI MUHAMMAD SAW adalah melalui “bahasa” kalam, “bahasa” yang tidak berbunyi dan tidak berhuruf, sehingga NABI MUHAMMAD SAW terFAHAMkan . TerFAHAMkan atas “objek tanpa batas” yang diamati oleh mata hatinya. “FAHAM” inilah yang dibahasakan dengan media bahasa arab ( menjadi terbatas ) oleh NABI MUHAMMAD SAW kepada para sahabatnya. Penyampaian FAHAM ini disampaikan oleh NABI MUHAMMAD SAW kepada para sahabatnya disertai dengan penjelasannya sehingga para sahabat IDRO dengan RASA dan FAHAM tersebut.
C. DALIL FI’IL ( Bukti perbuatan / peristiwa ):
Ketika “mata hati” membaca atau mengamati objek (tanpa batas, dalam RASA), “IMAN” maka terserap FAHAM, yang kurang lebih bila dibahasakan (menjadi terbatas, pasti ada distorsi, bias):
- 1. Alif laam miim. ( tetaplah menjadi sir ).
- 2. Itu kitab (menunjuk kepada objek QUR’AN) tidak ada keraguan sedikitpun bagi nya ( bagi QUR’AN, semuanya nyata, jelas); petunjuk kepada keTAQWAan. (QUR’AN sebagai petunjuk TAQWA, melalui IMAN).
- 3. Yang IMAN dengan yang GAIB (kedudukan IMAN dalam GAIB) dan dia (IMAN sebagai objek) mendirikan Shalat (IMAN yang Shalat atau Shalat sebagai perbuatan IMAN) dan dari apa-apa (IMAN yang diuraikan dalam 6 perkara Rukun IMAN) yang telah direzekikan (6 Rukun IMAN) sebagai anugerah ( pemberian ).
- 4. Dan dia, IMAN (dengan 6 perkaranya) dan dengan apa-apa yang diturunkan (kedudukannya menjadi diFAHAMkan) dalam keadaan kini dan apa-apa yang diturunkan dalam keadaan sebelumnya, dan dengan akhirat (ALLAH & RASUL) yang diyakini. (memaparkan mengenai kondisi IMAN, yang idro (FAHAM dalam RASA) dengan DIA yang WUJUD, yang AWAL & yang AKHIR).
- 5. Yang demikian atas anugerah petunjuk dari RAB nya (Yang Maha Pemelihara IMAN dengan 6 rukunnya), dan demikian pula baginya (pada IMAN) keberuntungan. (memaparkan IMAN yang selalu disertai keberuntungan, kedudukan “keberuntungan” ada pada IMAN).
Hasil bacaan NABI MUHAMMAD SAW, ketika mengamati objek “IMAN”, terucap dari mulutnya dalam media bahasa arab ( QS. Al Baqarah 1 - 5 ) :
Dan oleh ahli TAFSIR (atas dasar ILMU tafsir), hasil bacaan atau pernyataan ( dalam bahasa Arab ) tersebut di atas, ditafsirkan (tanpa ketemu objek yang disebutkan) dan “disebutkan” kembali menjadi :
- Alif laam miim.
- Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,
- (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,
- Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
- Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb-nya,dan merekalah orang-orang yang beruntung.
Sungguh terlihat adanya perbedaan makna.
Penutup
Saat ini, TAFSIR merupakan “objek” yang sarat dengan perdebatan… yang diakibatkan dari perkembangan nalar manusia dari pengamatannya terhadap suatu “pernyataan” tanpa ketemu dengan objeknya. Perkembangan nalar yang liar, tanpa aqidah, yang menghasilkan pengkondisian atau meyakin-yakinkan IMAN. Faktanya, selami saja www.danalingga.wordpress.com , disana ada kenyatan perdebatan “TAFSIR” yang pasti di temukan.
KITAB yang NYATA, JELAS, TERANG, TIDAK SAMAR hanya berlaku bagi “siapa” yang beruntung yang dipertemukan dengan ILMU dan RASA hingga terFAHAMkan akan objek yang dibaca atau diamati. Dialah yang dianugerahi landasan yang HAQ, landasan IMAN yang kokoh.
Dan sebaliknya, KITAB yang NYATA, JELAS, TERANG, TIDAK SAMAR tidak berlaku manusia yang menganggap atau mendudukan TAFSIR sebagai landasan IMAN, karena tidak dipertemukan dengan objek yang diamati, sehingga akan melahirkan AKHLAQ yang keliru.
Tanpa mengecilkan peranan para ahli TAFSIR dalam memperkaya khasanah AGAMA, semoga paparan yang sederhana ini mampu menyampaikan sebersit FAHAM yang menyatakan bahwa :
“Ternyata… Mayoritas umat (yang mengaku…) ISLAM, pada saat ini… berpedoman kepada “KITAB” (yang katanya suci…) yang BERBEDA dengan “KITAB SUCI”nya Nabi Muhammad SAW”.
INA LILLAHI WA INA ILLAIHI RAJI’UN
ALHAMDULILLAHI RABBIL’ALAMIIN
|
Baitul Makmur, 14 Mei 2008
Abah Dedhot |
DIsclaimer :
Tulisan ini adalah karya abah dedhot, salah seorang yang sering komen diblog ini. Dan abah berkenan membagikan pemahamannya, dan menitipkannya untuk diposting di blog saya ini. Jadi ini bukan tulisan saya, saya hanya berperan sebagai pemosting dan sedikit mengedit. Semoga dapat dipahami.




Begini nih untungnya klu NGANTRINYA mulai pagi, DAPAFET ANTRIAN ” PERTAMAX ” heks..heks…
Halah…halah…
Kok Postingan kali ini JUDULNYA mirip-mirip sama dengan postingan saya yah Kang, Al QURAN SEJATI kira-kira sama gak yah dengan ISLAM SEJATI yang tak tulis kariyan.wordpress.com/2008/05/16/islam-sejati/..??.
Ahhhg…TULISAN Kang Dana ( titipan dari seorang sahabat dari Bandung )ini, bener-bener mengingatkan saya pada perjalanan panjang yang MELELAHKAN dalam MEMAHAMI ISI yang TERSIRAT dari yang TERSURAT tentang teks book Al Quran selama ini. Sepertinya kita-kita ini harus betul-betul MERENUNGI ayat QS.Al WAQIAH 77 - 79. Disana ada PERSYARATAN dalam MEMAHAMI yang TERSIRAT hingga apa yang kita BACA ( IKRO’ ) tadi bisa MENYENTUH dan terfahamkan MAKNANYA dari yang TERSURAT tentang teks book Kitab Suci yang kita baca. Hanya hamba-hamba yang telah DISUCIKAN, kiranya yang mampu MEMAKNAI isi kandungan AL QURAN SEJATI yakni ” QALAM ILLAHI ” di dalam dada masing-masing manusia. Karena SEJATINYA Al QUR’AN itu sudah ada di dalam DIRI setiap manusia.
Kalimat penutup bener-bener MENOHOK, MENELANJANGI diri saya. Hingga saya TERSUNGKUR dalam MEMAHAMI perkataan ” IKUTILAH/CONTOHLAH AKU ” begitu kata Nabi-Nabi yang banyak tertulis dalam sebuah HADIST.
Ahhhg…kiranya BUKAN PENAMPAKAN LUARNYA yang semestinya kita IKUTI atau kita CONTOH, melainkan sebuah SIKAP PENELADANAN akan AKU yang tersembunyi pada badan JASAD KASARNYA Nabi-Nabi itulah yang harus kita TELADANI. Untuk MEMAHAMI Al QUR’AN SEJATI kita harus MENAIKKAN derajat SPIRITUALITAS sang DIRI pada level Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad dan manusia-manusia pencerah lain yang lebih duhulu daripada kita dalam menerima QALAM ILLAHI…!!
Mbungkuk-mbungkuk…Salaman dulu sama yang bikin KOSEP Al Qur’an Sejati.
Situ yakin dengan statement ituh….???
Menarik Sekali, saya mencoba memberi sedikit pandangan pribadi saya.
(1)AL Qur’an sejati adalah untuk manusia “sejati”, untuk mencapai tingkat tersebut setiap manusia telah diberi potensi oleh Allah SWT. Hanya hal ini juga tidak dapat kita atau saya pungkiri, bahwa “tidak semua” manusia sanggup mencapainya. Mungkin sama dengan kalau saya katakan bahwa semua manusia punya bakat menjadi pemimpin tetapi ada yang bisa mengembangkannya atau menggalinya dan ada yang sama sekali tidak memanfaatkannya.
(2)Jadi mungkin ada yang hanya sampai membaca apa yang tertulis bukan yang ada “didalam diri”, tetapi saya berfikir untuk tidak menyalahkan mereka. Karena itulah yang mereka yakini. Saya menganggap diri saya dan mereka sedang menjalani proses…pencarian “Tuhan” dengan metode yang berbeda.
(3)Jika saya ibaratkan sebuah buah, maka antara kulit, isi dan biji adalah saling melengkapi. Jika ada durian tak berkulit tentu isinya akan dirubungi semut, jika durian tanpa isi lalu apa yang akan dinikmati, dan jika durian tanpa biji lalu bagaimana kemudian akan makan durian lagi (regenerasi).
tetapi mungkin ini hanya pemaparan saya yang dangkal.
—salam—
gila, ini dipostign semalem yah?? hebat banget.. lagi cape2 posting yg lengkap dan berat..
btw kemaren makasih yah taksinya
kebernran datang dari segala arah
kirain gak jadi diupload.. katanya masih mikir-mikir..
@ ridu : emang kemaren ada bagi-bagi ongkos taksi juga ?
Waduh… mabuk bacanya Dan, mesti pelan2 dicerna nih yg panjang2 gini
Kenapa Alif laam miim harus tetaplah menjadi sir? Apa manfaatnya bila tidak dapat di artikan oleh manusia?
jadi malu dengan ilmu sedikit yang saya punya
jadi harus mau banyak belajar
Oh iya bah, boleh lebih dijelaskan lagi yang dimaksud dengan akidah di tulisan ini?
*merasa aneh karena menanya diblog sendiri*
@daeng fatah
alif lam mim yang nggak sirr nehh:
alif terucap di bibir
laaam terucap di dinding mulut atas/lidah
miiim terucam di dada
so..perasaannya seperti jalannya makanan,
jadi Mulai albaqarah dst adalah penjelasan total seluruh surat al fatihan yang harus dimakan oleh ruhani, artinya alquran adalah makanan ruhani.
cara makan ya dimasukkan, dikunyah-kunyah/dirasakan sampai lembut samapai kerasa manisnya, baru ditelan/ dipahami.
gitu loooh, tafsir aeng beeng versi wong yukja iki…
Artinya Alquran itu perlu dicerna/dipahami agar supaya bermanfaat. Makin sempurna cerna/pahammnya temtunya makin baik. Tapi kalau asal telan ngawur tidak sesuai porsinya bisa bikin pikiran sakit alian/bingung…
sekian dab.
ralat
tertulis terucam yang benar terucap
……..alfatihan………..alfatihah
……..samapai………….sampai
……..alian……………alias
/**numpang OOT**/
pulang langsung posting???
ya ampyun…
panjang, dan berat …
Perkembangan nalar yang liar, tanpa aqidah, yang menghasilkan pengkondisian atau meyakin-yakinkan IMAN.
@….Kang Dana,
Apa kira-kira gak seperti ini maksud Abah Dhedhot.
Contoh paling sederhana saja yah. Kita kan sering mengucapkan kalimat ” Aku berlidung kepada Allah, dari godaan Syetan yang terkutuk “.
Apa yah PAS dan TEPAT kalau cuman kalimat itu hanya terucap melalui bibir saja, lantas si Syetan akan LARI LINTANG PUKANG…??. Mestinya kan kalimat tersebut harus DIPAHAMI dulu yang TERSURAT. Jadi TIDAK asal YAKIN doang tanpa ada PERJUANGAN MERISET kandungan kalimat tersebut. Ingat Dan, dalam kalimat tersebut ada kata KERJA ” BERLINDUNG ” PERINTAH untuk melakukan sesuatu. Seperti apa BERLINDUNG…?? Kepada siapa BERLINDUNG…??.
Analognya begini, saya ganti dengan ” Aku berlidung di bawah PAYUNG dari Guyuran air hujan yang deras “. Tujuannya supaya gak kehujanan kan…??
Kira-kira neh, kehujanan gak kalau kita cuman mengucap doang…?? dan YAKIN doang MERASA sudah berlindung di bawah payung, tanpa melakukan sesuatu…??. Coba saja kalau gak KLUMUS ( basah kuyub )
Nah kata kerja BERLINDUNG tadi kan ternyata harus ada perbuatan yang kudu kita lakoni to Kang…??
Pertama, kita musti punya payung dulu ( klu gak punya yah..pinjem tetangga bolehlah..he..he..).
Kedua, Kita harus memegang payung dan kemudian membukanya.
Ketiga, Kita harus bener-bener berteduh di bawah payung tadi.
Baru deh…yang namanya air hujan gak mengguyur kita.
Lah…dengan begitu kan kita gak lagi LIAR dalam berakidah. IMAN ( percaya ) gak asal NDREMIMIL dimulut doang, tapi memerlukan PERJUANGAN dan pembuktian…Bagaimana kita bisa tahu bahwa API itu PANAS kalau gak pernah KESULUT Api Rokok..?? Apa cukup IMAN doang…?? Yatafakkarun ( berfikir, merenung ) ini yang selalu diperintahkan Tuhan dalam banyak Ayat.
Halah..halah…
Kok jadi saya yang USIL sih Dan…
Ndheprok…mana KOPINYA Dan, kering neh tenggorokan, ngomong terus
Wow! Ditebalkan?!
Eh, saya shock karena itu seperti pengetahuan baru. Menakju… eh, tunggu dulu….
Ya jelas tidak akan samalah. Dalam Islam tafsiran bukanlah Quran sendiri. Di pesantren tradisional kelas kampung saya saja santrinya juga diajarkan begini
Ouch! Ditebalkan lagi? Itu penegasan mutlak? Ahai… siapa pula kiranya yang setegas itu berkata tidak boleh itu??
Oh, Wikipedia. Validitas Wikipedia memang sudah melampaui kitab. Salut saya. Wikipedia ternyata bisa mendefinisikan secara mutlak apa yang boleh dan apa yang tidak boleh.
*sembah sujud wikipedia*
Hmm… Ya.. Ya… Menarik. Tapi… Akal siapa dulu ini? Akalnya si abah dedhot? Akal saya? Atau akal muslim-muslim lainnya?
Akal-akalan, mungkin?Kalau akal saya
yang bisa akal-akalanmembantah, nah lho? Gmana itu? Soalnya bagi saya masuk akal itu Quran yang sama dengan yang dibaca oleh Rasulullah Shalallahualaihi Wassalam. Dalam rentang tujuh tahun itu ada banyak hafizh yang masih tersisa. Dan Rasulullah sendiri menjamin, bahwa mukmin tidak akan bersepakat dalam kebathilan.Kecualai kalau akal yang akal-akalan ini mempelintir Rasulullah yang tadinya dijadikan pondasi TISDAK PERNAH MELIHAT QURAN TERSEBUT. Lha… beliau tidak melihat tapi beliau kasih jaminan begitu, gimana donk? Ada penelitiankah bahwa kadar keimanan para sahabat pupus hanya dalam selang 7 tahun?
Lagipula… 7 Tahun setelah meninggalnya Nabi Muhammad. Berapa persentasi kepastian bahwa itu Quran sudah terdistorsi? Ini pertanyaan balik pada Abah Dedhot. Jika jawabannya relatif, everything is useless. Ini cuma akan berujung pada mei-mei-an saja. Maybe yes and maybe no.
Ini kesimpulan darimana pulak lagi datangnya? Dalam metodologi penelitian, ada analisa, ada bukti dan baru kesimpulan. Apa tidak terlalu muncrat begitu saja?
….
Besok saya sambung deh. Sudah larut. Bisa telat subuh saya.
Tapi..
Hadist itu benar. Tapi dipelintir. Sori… ini pendapat saya.
Kalau memang kata HADIST berarti fakta, maka apa itu fakta? Perbuatan? Apa itu perbuatan? Amal ibadahkah? Seperti apa? Shalat? Shalat apa?… Panjang…
Hadist memang enak dipakai. Siapa saja berhak menggunakannya sesuai penafsiran sendiri. Tinggal sekip-sekip saja, crop dan beri definisi baru. Wah… organisasi beragama ini memang menarik. Ternayta Abah Dhedot pemain di organisasi agama juga.
Tapi….
Tapi…
Ada aturan lagi?
Bingung saya. Si Abah Dhedot ini apa juga tidak menafsirkan dengan nalar? Kalau tidak, dia pakai apa? Hati? Standar hatinya seperti apa? …
Apa itu nalar yang liar? Dari sudut mana nalar itu dilihat liar atau tidak? Aoa itu aqidah, Abah? Apa itu Iman?
Nalar siapa? Bagaimana bentuk nalarnya? Apa batasan suatu nalar dikatakan liar atau tidak?
Tebalin juga ah
Ini versi original Si Abah Dedhot
Shalat. Ternyata itu syarat dalam agama Islam, bahkan meski dilakukan oleh si IMAN itu sekalipun.
Pertanyaannya: IMAN itu shalatnya gimana? Rasulullah ada tata tertib shalatnya yang diikuti para sahabat, tabi’n dan tabi’ tabi’in dengan variasi yang berbeda dan diterima dalam khazanah Islam. Naaah… Bagaimanakah cara shalat si Iman?
Tidak ada ritual? Ndak ikut Rasulullah donk. Ada ritual? Ritualnya gimana? Pake wudhu juga? Pake takbir juga?
Saya tertarik mau tahu cara IMAN itu shalat.
apalah yang hendak dikabarkan, tentang Qur’an sejati, sedang pada tiap kaum ada rasul yang membawa Al Haq, dibacakan pada pandang, dari diri sendiri,
terhubung kuat jika khusuk, dan suci pandang
apa pandangan pada kaum, adalah kumpulan diluar diri sendiri
sedang diri ini adalah kumpulan-kumpulan, berbagai ragam laku dan keinginan
tidakkah dirasa sang pemberontak, hendak menguasai…
mendekamkan sang kamil, sebagai budak pemuas nafsu
apalah daya sang kamil yang harus patuh pada sunatullah
yang hanya terbebas dengan keikhlasan yang tulus tanpa putus
taklah terbaca apapun tentang qur’an sejati yang dibacakan
jika sang kamilpun tak dipercaya, mendekam tersedu sepanjang waktu…
duhai sadarkah diri, jika sang kamil adalah pangeran pembebas kebutaan…
membawa dari kegelapan menuju terang benderang
tidakkah terlihat gugus bintang, semakin rendah semakin sedikit, sedang diujung sana berkumpul dan menerangi…
tak ada yang dapat dikabari tentang qur’an sejati, jika sang kamil tak jua dipercaya
@Santri Gundhul
Oh, jadi maksudnya jangan dimulut doank. Harus dilakukan dalam tindakan nyata kehidupan sehari-hari juga. *manggut-manggut*
@zal
Kamil itu apa ya?
Karena itu… memperlajari Al-Qur’an tidak boleh main-main
Harus dengan niatan ikhlas… dan membuka hati untuk selalu diberiNYA petunjuk…. dan juga harus mau dikritik… walaupun pedas kritik itu… karena siapa tahu memang apa yang diakatakn benar… kita aja yang gak nyadar…
Hmmm
Baru pertama buka nih…
klik balik ya…
http://maaini.wordpress.com
Mungkin hal ini yang selama ini kekurangan kita. Memandang para Nabi itu bagai Tuhan sendiri, sehingga kita merasa tidak akan bisa mencapai yang mereka capai. Terus terang doktrin bahwa saya hanya manusia biasa yang tidak mungkin mencapai level spiritual para nabi itu telah ditanam dari sejak kecil. Dan hanya diajarkan untuk manut aja kepada cerita pengalaman beliau-beliau itu tanpa perlu mengalaminya sendiri.
menurut saya, yang mesti manusia lakukan adalah menghargai apapun pemikiran seseorang terhadap kitabnya, tuhan-Nya atau whatever ….
dan sesuatu yang murni menurut saya hanya dipahami oleh yang murni, manusia hanya bisa berupaya memahami tersebut, karena manusia tidaklah murni tidaklah sempurna, hanya bisa berupaya (alias mentafsir)…. dan bahkan abu dhedot yang menulis pendapat ttng Al-qur’an sejati pun, tafsirannya menurut saya tidak sejati
namun walaupun begitu beliau sudah berupaya, so layaknya dihargai walaupun mungkin ada yang berbeda pendapat, dengan begitu dunia akan aman dan tidak ada lagi yg namanya berantem, aksi anarkis dan pemaksaan pendapat
ah sayangnya dunia ini tidak sempurna, jd berantem kan selalu ada terus he he…..
so mari kita berantem (loh)
mohon dimangapkan kalo ngelantur ^_^
Salam
“Ternyata… Mayoritas umat (yang mengaku…) ISLAM, pada saat ini… berpedoman kepada “KITAB” (yang katanya suci…) yang BERBEDA dengan “KITAB SUCI”nya Nabi Muhammad SAW”.
Jujur saya bingung dengan statement tsb, sekefahaman saya, Alloh akan selalu menjaga kesucian, keabsahan dan keaslian kandungan Al Quran hingga akhir jaman.
@asal tafsir
Kalau demikian maka saudara juga harus menjelaskan pula mengenai
Alif lam mim saad di al a’raf
alif lam ra di yunus, hud, yusuf
alif lam mim ra di ra’d
kaf ha ya ain shaad di maryam
taha di taha
ta sin mim di syu’ra
ta sin di an naml
ya sin di yasin
shad di shad
ha mim di mukminun, hamim, syura
ain sin qaf di syura
qaf di qaf
nun di kalam
apa tafsir bukan sir dari ayat2 ini?
@…Kang Daeng…
Siipp…Siiipp…
Dari dulu saya juga PENASARAN dengan Ayat-ayat pembuka seperti apa yang Kang Daeng sampaikan tadi.
Aneh…sungguh ANEH…
Ini ada FIRMAN kok TEREJMAHANNYA ” Hanya ALLAH yang TAHU “. Lah terus untuk apa Ayat ini ditulis/diturunkan….??? Apa hanya khusus Tuhan saja. LAlu apa MANFAATNYA buat kita-kita kalau gak tahu…??.
Bingung saya…??
( Balik baju…biar gak bingung ).
@…Kang Dana,…
Begitulah…penyampaian dan penyebaran AGAMA memang syarat dengan DOKTRIN ” Pengebirian, Pemasungan, Pengkerdilan ” kreatifitas BERPIKIR Umat manusia. Apakah ini SALAH…??? Gak–gak bisa kita menjustifikasi demikian. Disinilah memang diperlukan sejauh mana kita bisa dan mampu untuk MENGEKSPLORASI BATIN. Dengan demikian kita dalam mengkonsumsi AJARAN ( AGAMA tidak dengan cara DOGMA ) Lah caranya…?? yah dengan MENELADANI para manusia2 PENCERAH seperti Nabi-Nabi tadi. Lakunya…?? Banyak Ayat-ayat yang menyuruh kita untuk ” BERDZIKIR ” dengan menyebut-nyebut ASMA-NYA ( ini sebagai PANCINGAN dan PEMICUNYA saja ).
Apakah mereka2 dengan secara tiba-tiba menerima QALAM ILLAHI tersebut..?? Lihat saja, Misalne Musa ( di Bukit Tursina ), Isa ( di bukit GALGOTA ) dan Muhammad ( di Gua HIRA ) serta manusia-manusia PENCERAH lainnya. Puluhan tahun mereka-mereka itu melakukan KONTEMPLASI, PERENUNGAN, MEDITASI, MANEKUNG, TIRAKAT dll. Karena dengan HENING dan HENENG serta MENGOSONGKAN PITA-PITA SUARA HATI itulah FIRMAN TUHAN yang TANPA SUARA, TIDAK BERHURUF dan TANPA LAFADZ sekalipun akan dapat TEREKAM dengan JELAS.
Jadi untuk MEMAHAMI Kitab-kitab Suci yang dikenalkan mereka kita harus berada pada LEVEL ( tingkatan ) SPIRITUALITAS seperti mereka, atau jika gak bisa yah minim dibawahnyalah.
Sesungguhnya yang MEMAHAMI Kitab-Kitab yang katanya SUCI selama ini, yah Ibrahim ( Zabur ), Musa ( Thaurat ), Isa ( Injil ) dan Muhammad ( Al Qur’an ) sendiri.
Dan, yang MENGETAHUI tentang TUHAN yah TUHAN itu sendiri.
Jadi…?? Sumonggo,
Mau memahami Kitab Suci yang berupa TULISAN yang KERING, TERBATAS dan MATI itu sebatas AKAL dan PIKIRAN kita dengan jalan MEMBACA dan MENGHAFAL saja…???, ataukah MENGHIDUPKAN Kitab Suci yang sudah ada di dalam DIRI masing-masing hingga sanggup MENGELUARKAN ENERGI Kalimah-Nya..??.
Bukankah…HIDUP adalah PILIHAN…??
KESIMPULAN : Yang bisa MEMAHAMI tentang POSTINGAN Kang Dana ( QURAN SEJATI ) yah Abah Dhedhot sendiri….!!. Karena itu semua adalah sebuah ungkapan RASA abah Dhedhot sendiri.
NGGEBRAK MEJA….Muaaaaha..ha..ha…
Syetan Gudhul Kabuuuuuuuuuuuuurrrr……
Jika begitu mbah gundhul, mari nantikan paparan dari abah dhedhot sendiri. Mana tahu rasa ini bisa tersambung dengan rasanya.
ayo ayo dipilih2
mau terjemahannya Yusuf Ali boleh, mau terjemahannya Muhammad Pickthall juga boleh. Atau Dr. Moshin atau Indonesian…
Dipilih2…
Betewe…
Saya dulu pernah dengar berita tentang ditemukannya “mushaf asli” Quran yang tersembunyi di satu mesjid tua di Arab sana.
Ada yang tahu berita ini ndak?
Itu sempat bikin saya goyah juga lho. Cuma… beritanya itu simpang-siur sih
Ilmu dan pemahaman saya tambah lagi nich, hebat banget artikelnya sangat berat dan multi intepretasi. Pasti yang nulis orang pintar, orang pintar pasti minum ………….
http://economatic.wordpress.com/
::Daeng Fattah, siiip, yang ngakunya atheis, ternyata, mengenali posisi-posisi AQ dengan sangat cermat…kayaknya perlu jadi atheis dulu nih…
, tapi sungguh saya ta’jub daeng…
mungkin bisa dibaca dengan cara :
1. Allah Pada asma disini ada panggilan, ada pendengaran
2. Allah Pada Af’al disini ada pengelihatan ada perbuatan
3. Allah pada sifat. disini ada pengenalan dan pemahaman/rasa
jika disebut coba didengar
jika dilihat, pandang pada bentuk
jika dikenal, fahami dengan kalam
bagi seorang kawan dekat, daeng boleh dipanggil dengan heh..engga…jika daeng membolehkan diri daeng, coba saja memanggilNYA dengan cara SDSA, jika perlu ngga usah pake apapun bahkan engga usah pake apa-apa..hanya benamkan niat, jika menganggapNYA dekat, yah gimanalah kalau berbicara dekat, kalau jauh…wadoh…gimana mau akrab, jika jauh…, lha dulu waktu pacar saya (sekarang sdh jadi isteri) selesai kuliah kembali ke kota asalnya, si Play Boy cap kampret ini, pasang strategi harus di greetings every day, habis kalau engga gitu…yah..namanya juga jauh…
::Dan, kamil…???, katanya sih sang paripurna…, si cerdas yang di tanam hidup-hidup, si utama yang diperbudak dan dizhalimi… sidana yang lain…
Tambah ilmu saja saya ini….terimakasih atas pencerahannya
wah, berat nih mas dana..
saya mah memilih memiliki qur’an sejati di dalam hati aja deh.. sebuah internalisasi nilai dari pergulatan hidup menuju kebaikan, ciee….
untuk abah dhedhot .. dan anda sebagai pemostingannya ..
anda apakah sudah hapal al qur’an ..?? apakah sudah hapal hadits ..??
apakah anda lebih baik dari para imam seperti imam bukhari .. muslim, atau 4 imam madzhab .. sehingga anda menafsirkan sesuai dengan akal anda ..?? naudzubillah ..
@titin
Bukan begitu, hal ini jelas bukan soal mana yang lebih hebat. ( Lagian mereka-mereka itu manusia biasa sama seperti kita-kita ini kan? ). Tapi memang seperti tulisan inilah yang dipahamkan kepada abah dhedhot. Saya sendiri belum sepenuhnya paham akan tulisan ini, masih mencoba menyambung rasa dengan abah. Sebab tulisan ini memang sepenuhnya rasanya penulis.
Tentang Rahasia :
(1) Sir (rahasia)……….apakah jika semua orang mengetahuinya masih dapatkah dikatakan rahasia?……..dan jika tidak dapat diartikan lalu apa manfaatnya……? karena rahasia ini hanya dapat dimaknai oleh manusia yang dekat dengan Tuhannya.
(2) Jika rasa atau rahasia telah keluar dari bibir anda…maka berarti anda telah membuka rahasia….dan tentu akhirnya bukan rahasia lagi.
Tentang Al-Qur’an Sejati atau Muslim Sejati
(1) Jika anda menyatakan klaim sepihak tentang muslim sejati berarti tidak ada bedanya dengan yang dituduh sebagai golongan mayoritas….
(2) Jika benar Tuhan ada didalam diri, maka DIA tidak akan keluar dari sebuah ucapan atau perkataan manusia, namun DIA tetap menjadi rahasia. Karena Jika telah terucap berarti mengingkari “manusia adalah rahasiaku dan AKU adalah rahasia manusia”, demikian yang terjadi pada AL HALLAJ, SITI JENAR, beliau berdua karena sudah menyatu tanpa sadar menyatakan ANA AL HAQQ, maka berlaku hukum sir tersebut. Apakah kemudian Tuhan kejam…..tidak…..karena demikianlah yang namanya rahasia….beliau berdua kembali kesisi Allah…agar rahasiaNYA tetap terjamin.
Semua pemaparan saya diatas sekedar berbagi, dan silahkan anda debat.
—salam—
pengelana sesat
eh ini bukan tulisan dana? sempet kaget juga, nulis panjang dan berat begini.
Bukan chik, saya sih nggak setelaten ini.
Duh panjangnya ini tulisan …. kapan katamnya yah? baca dulu deh, nanti balik lagi baru comment
namanya ya tafsir asal-asalan.
Itu semuan getaran bunyi huruf yang mengandung makna yang terasakan.
Bandingkan dengan OOOOm (apa yang tergetar dan rasa apa yang muncul?)
alif laam raaa– Quran setelah dibaca diucapkan juga perlu disampaikan dengan citarasa.
Gampangnya saja- semua huruf itu menggetarkan bibir, lidah, dada kepala (ain), mata-telinga (yaaa-siiin). yang pada intinya menggetarkan panca indera, otak, hati, dan rasa. Artinya AlQuran itu untuk semua hal tadi. Jadi untuk memahami alquran tidak boleh hanya rasio saja, rasa saja, logika saja, pendengaran saja,mata saja. Harus mencerna alquran dengan semua yang mampu untuk mencerna.
Begitulah tafsir sederhana saya, yang belum tentu diterima dan belum tentu benar. karena tafsir ini hanyalah menyangkut bunyi yang menggetarkan alat-alat indera manusia.
..hanya baca paragraf terakhir..
lagi pusing ga mudeng.. nanti ajah ngebahasnya
saya ikut mengamini saja
Aduh…, *KAGET BANGET* Kenapa jadi begini…??? Abah kira mas dana cuma mengambilnya sebagai referensi, ngga taunya digelar abiss… Jadi untaian kalimat yang indah diterima hati dari mas dana, ngga bisa Abah saksikan… Wah… Punten pisan mas Dana, … Abah (yang bikin gara-gara & ngelunjak ini) permisi, numpang sebentar mesti nyamar sebagai tuan rumah dulu yah… Ehm Nasib.…
@Boss Om senang
Abah ‘Ainul Yaqin, setelah diperlihatkan, diperdengarkan dan diperjalankan malang melintang dikehidupan, dilayar kaca, di radio, di Koran – majalah… dsb. terutama di blognya mas dana ini…
@Pak Daenglimpo
1. Betul pak daeng, Abah juga sependapat. Bila diamati dari Sifat Maha Kuasa & SIfat Maha Adil NYA, semua (tanpa kecuali) “makhluq yang paling sempurna” ini dianugerahi NYA potensi untuk eling.
2. Iya, padahal banyak sekali rambu-rambu dari Al Qur’an (majazi) untuk menemukannya. Mustahil DIA menciptakan sesuatu yang tidak bisa dipergunakan. QUR’AN bukan dicari tapi harus ditemukan, karena dia “barang / objek” yang “ada”.
3. Setuju juga… Yang manfaat pastilah ‘isi’ nya, sedangkan kulitnya… menunjukan identitasnya sebagai buah duren.
@Mas Rudy Rusyadi
Setuju, kemanapun KAU bepaling disitulah wajah NYA.
@Pak Daeng Fattah
Wah, pak daeng… Bisa kita prediksikan, kalo Alif Laam Miim yang merupakan symbol huruf-huruf arab ini di tafsir kan… ehm, ngga kebayang seperti apakah keadaan ummat. Rangkaian huruf yang membentuk kata, rangkaian kata yang membentuk kalimat, kalimat yang terFAHAMkan dalam bahasa arab… PUN, dan kemudian di TAFSIRkan (oleh ahlinya atas dasar ILMUnya), menghasilkan… banyak sekali perdebatan, hingga….??? Apalagi kalo menTAFSIRkan symbol-simbol “itu”…
@mas realylife
Wah… memang “malu” adalah sebagian dari IMAN. Tapi dari namanya… sudah menemukan sejati “sang HIDUP”… selamat yaa…
@mas dana
Mungkin nanti dibawah bisa terpaparkan… punten yaa mas, jadi kenal sama perasaan aneh.
@mas suprie
Panjang… memang, kalo berat…??? Berapa TON…???
@mas Santri G
Nyata bener… “Laa nufariqu bayina ahadimmirrasullih..”, setuju boss…
@ Pak Alex
AGAMA abah bukan yang seperti itu…, tapi AGAMA yang WUJUD dalam yang diFAHAMkan olehNYA.
Sekilas pengamatan akan citra mu (melalui Comment nya), abah sangat takjub (dengan mengenyampingkan dominasi nafs Amarah yang tersirat). Serentetan pertanyaan atas dasar pola fikir, yang begitu haus dalam mencari DALIL (DALIL adalah kenyataan atau fakta yang tidak terbantahkan). Setiap detil yang terkupas menuntut DALIL. Begitu teliti… Inilah yang menjadi bahan baku / dasar “salik” para ‘alim. Ibarat “cerita” Nabi Ibrahim AS, dalam kemelut untuk menemukan Tuhan nya, setiap detil dari “yang terhampar” menuntut keterFAHAMkan terhadapnya, Beliau selalu menolak …”katanya…”, hanya menerima sumber yang MURNI, AL HAQ.
Terpancar juga dari Comment nya, AKIDAH kokoh sebagai jantung yang mengalirkan denyutan kata yang tegas, sebagai “harga mati”. HINA nya Abah, para pemuka, para tokoh, para Profesor, para Kyai atau segala MAKHLUQ adalah kepastian, begitu juga HINA nya dirimu. BODOH nya Abah, para pemuka, para tokoh, para Profesor, para Kyai atau segala MAKHLUQ adalah kepastian, begitu juga BODOH nya dirimu. Sehingga sejati mu yang menuntut AL HAQ, dengan menolak segala yang RELATIF dan yang PALSU. Menolak segala pernyataan dari seluruh MAKHLUQ, menyambut sapa akan kehadiran WUJUD AL HAQ melalui ILMUNYA. Tepat kan pak…???
- Penyaduran WIKIPEDIA yang dilakukan, hanya sebagai referensi dari sumber yang mudah diperolehnya… tinggal copy paste ajah. Sedangkan keMUTLAQan yang disimpulkan pak Alex, itu hanyalah pra sangka. Mustahil sifat MUTLAQ menempat pada makhluq. Sebenarnya alasan penyaduran ini pak Alex juga terFAHAMkan, dengan maksud hanya untuk memaparkan sejarah lahirnya AL QUR’AN Mazaji saja.
- QUR’AN, maknanya “bacaan”. “diri” Abah mustahil dapat membaca QUR’AN, hanya pribadi RASULULLAH lah yang terFAHAMkan akan “bacaan” itu. “Bacaan” yang tidak berhuruf, tidak berbunyi, tidak berlafadz, tidak berupa lembaran-lembaran kertas bertuliskan susunan huruf, kata dan kalimat. “Bacaan” yang terFAHAMkannya berangsur-angsur, (tidak sekaligus) selama 23 tahun. “Bacaan” yang amat “berat”, sehingga gunungpun akan luluh lantak bila menerimanya. QUR’AN (bacaan RASULULLAH) INILAH YANG DIJAMIN ORIGINAL nya (QADIM), mustahil terDISTORSI, dan TIDAK DILIPUTI WAKTU. Bukan bacaan yang bisa “khatam” dalam 1 bulan (biasanya kalo bulan puasa). Setelah RASULULLAH terFAHAMkan akan “bacaan” itu, dalam “cerita”nya, terdengarlah bunyi kata-kata yang terangkai menjadi kalimat (dalam bahasa arab) dari mulut NABI MUHAMMAD SAW. dan diperDENGARkan oleh “Sang Pendengaran” kepada para sahabatnya. Yang terdengar oleh para sahabat adalah AL QUR’AN yang bermakna “hasil bacaan”. Al Qur’an ini yang dihafalkan oleh para hafidz, tetapi pada “zaman itu” kalimat yang terdengar oleh para sahabat disertai dengan penjelasan akan WUJUD, uraian ILMU berikut RASA sampai kepada FAHAM nya RASULULLAH.
- QUR’AN adalah pengetahuan, pengetahuan adalah perbuatan ILMU (sifat NYA). Pengetahuan itu objek yang abstrak (gaib). Objek abstrak hanya dapat dikenali oleh indera yang abstrak juga. AQAL adalah indera abstrak yang dianugerahkan NYA kepada manusia, untuk dapat menerima keberuntungan dalam rupa ILMUNYA. Paculah AQAL ini sederas mungkin sampai menembus segala yang diliputiNYA, hingga kemanapun KAU berpaling disitulah wajah NYA. TAPI… dibutuhkan pijakan, landasan, pengendali AQAL agar senantiasa tertuju kepada sasarannya (tidak liar). Sang pengendali ini bergelar AKIDAH, yang berasal dari AQO’ID yang bermakna “harga mati” (ngga bisa ditawar-tawar lagi…!!!). AKIDAH adalah citra dari WUJUD ; Laa ilaha ilallah, Ina lillahi wa ina illaihi raji’un, Laa ta’siru ilallah dan Laa haula walaa quwwata ila billah. Lekatkanlah AKIDAH sebagai pengendali AQAL.
- Tidak ada Metode Penelitian atas dasar Ilmu Pengetahuan apapun (objek terbatas) yang bisa mengungkapkan RASA (objek tanpa batas). Kedudukan IMAN dalam RASA, RASA adalah GAIB. IMAN, ngga ada alat ukurnya. Al Qur’an (Kitab Mazaji) pun hanya memaparkan sifat-sifat IMAN, karena mustahil Kitab Mazaji menghadirkan WUJUD nya.
- QUR’AN sebagai sumber bacaan RASULULLAH lah YANG DIJAMIN ORIGINAL nya (QADIM), mustahil terDISTORSI, karena TIDAK DILIPUTI RUANG & WAKTU, begitulah ADANYA.
Justru… Bila Al Qur’an (Kitab Mazaji) yang dijatuhi jaminan itu, maka… APA yang mendasari “kekhawatiran” para sahabat saat itu sehingga dibentuk “majelis” atas dasar “kesepakatan” para sahabat untuk mengumpulkan dan membukukannya..? Apakah “kekhawatiran”ini layak muncul di hati para sahabat bila “ada” jaminan dari MUHAMMADARRASULULLAH..? Para sahabat terFAHAMkan betul dengan sifat AMANAH nya RASULULLAH yang mustahil KHIANAT.
- Pak Alex, kesimpulan Abah mengenai kedudukan Al Qur’an (Kitab Mazaji) memang terlalu “dini” pengungkapannya, tanpa paparan latar belakang / dasar yang jelas dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Karena diFAHAMkannya kepada Abah melalui perjalanan panjang, sehingga keterbatasan Abah yang tidak mampu untuk menguraikannya disini.
- Secara bahasa “HADIST” adalah perbuatan, bila bicara makna maka HADIST bermakna perbuatan / perkataan NABI MUHAMMAD SAW yang nyata teramati (fakta / kenyataan) oleh para sahabat. Perbuatan / perkataan ini sebagai penjelasan dari QUR’AN yang terFAHAMkan oleh RASULULLAH, sehingga QUR’AN ini begitu nyata dalam pengamatan para sahabat.
- Wah… Pak Alex, Abah bukan pemain di organisasi itu… kenyataannya, ngga ada yang mau terima Abah . Jadi pernyataan pak Alex mah… hanya pra sangka, belum kenal sama Abah kok sudah menyimpulkan…???
- Abah bukan penafsir, apalagi ahli TAFSIR, Abah ngga punya dasar Ilmu Tafsir. Yang Abah ungkapkan hasil dari yang diFAHAMkanNYA melalui yang diperlihatkanNYA dan yang diperdengarkanNYA atas sesuatu “Objek”.
- Nalar adalah perbuatan AQAL. AQAL adalah penerang (nur) yang membedakan manusia dengan Makhluq NYA yang lain. Hubungan AQAL-nalar-AKIDAH sepertinya sudah cukup terpapar.
- IMAN yang dimaksud, adalah keyakinan yang diperoleh melalui ILMU (NYA), ‘AIN (BASHAR NYA), dan RASA (AL HAQ). Sehingga terFAHAMkan akan objek yang di IMAN i.
- Yang diFAHAMkanNYA kepada Abah… mengenai IMAN & SHALAT di sini
Kalo IMAN ngga SHALAT, itu namanya sembahyang, menyembah bayang-bayang, apa yang di bayangkan, di imajinasikan, “itu” yang disembah.
WUIH… *nyelem lagi*
@Mas zal
Sahabat Abah… Indahnya untaian kata-kata mas zal, mengingatkan akan keindahan kalam.
@Mba yanti
Abah setuju banget… dalam zona “itu” mah mesti apik, teliti & waspada banget. Semua Pola fikir & pandangan yang menempat pada MAHKLUQ adalah perbuatan sang MAHA PENCIPTA yang mencipta milyar an pola fikir & pandangan yang berbeda-beda tersebut… WUIHH. Segala puji bagiNYA yang menyampaikan RASA “nyaman” kapada Abah… atas perbedaan, atas ciptaanNYA yang manunggal dengan zdat, sifat dan asmanya. Tapi setelah berguru sama Pak Alex, Abah hanya mau menerima “apapun” dari AL HAQ, bukan dari yang lain / makhluk yang relatif. Harap Maklum…
@Mas Adit
Betul Mas… Mustahil Tanpa DISTORSI, dari yang “tanpa batas” menjadi “terbatas”. Setiap bunyi yang bermakna (aksi)… pasti ada pro & kontra (reaksi). Pasti rame… kalo ngga rame, bukan kehidupan namanya…
@mba nenyok
Abah yang terbatas, bodoh, hina ini… sudah mencoba (perasaan abah) menguraikan maksudnya diatas. Semoga tersambung RASAnya…
@mas Santri G & Mas Dana
Bisa-bisa masuk angin…. Nih
Para Sahabatku… semoga sudah sampai RASA nya… Abah udah telanjang banget nih…
@Pak Alex
Itukan baru “katanya..”, yang nyebar “gossip”, Abah & semua makhluk itu Jahlun, dhoif & Dzolim… jangan dipercaya… mesti disaksikan sendiri.
@Pak economatic
Yang nulis seorang yang BODOH… tangannya hanya diGERAKan untuk menulis dari yang diFAHAMkannya. Peace laah
@tintin
Abah sudah mengaku BODOH, sama bodohnya sama yang disebutkan tintin… yang hebat hanya Yang Maha Melindungi… ngga ada yang lain, sudah dipersaksikan kah…???
@Mas Joyo
ngga pake Cuma deh… pernyataan Abah serius.
Sahabat Abah (boleh..??), dari yang diperlihatkan kepada abah… Andai Abah jadi juri / Hakim Mas Joyo termasuk dalam kriteria “pewarisnya” BIG BOSS. Bacaan nya mas joyo sama dengan yang dibaca beliau… Cuma…???
salam
@Pak Alex
. Yang mengenai SHALAT & IMAN, ada di blognya mas Zal, di sini :
Wah, Maaf… Abah ngga ngerti cara nge link (belum ada yang ngajarin)
http://bengak.wordpress.com/2008/01/11/masih-tentang-shalat-yang-akan-dipertanyakan-pertama-kali-itu%e2%80%a6/#comment-339
salam
@ abahdhedot
Wahh… saya ingin berguru tadinya, bagaimana cara mengamati citra itu, sehingga mengendus nafs Amarah yang tersirat. Tapi sayangnya, kemarin itu saya mengetiknya itu sambil isep rokok dan cengar-cengir.
Ternyata pengamatan seseorang bisa keliru meski ia merasa benar, dan pengamatan yang dirasa salah bisa saja benar, bukan? Wonderful…
Tidak tepat 100%. Tidak ada yang pernah tepat 100% hingga apa yang TEPAT bagi satu bisa TEPAT bagi yang lain. Benar juga kan, Pak? Buktinya, anda memanggil saya PAK, sementara usia saya masih 26 tahun dan belum lagi menjadi PAK bagi siapapun. Ini dari sudut pandang saya di koordinat Aceh ini
Hanya saja… saya membenarkan apa yang anda katakan, jika saja kata-katanya bisa lebih mudah dipahami dan tidak mblibet. Karena, sebagus apapun makna, adalah lebih bagus jika didakwahkan dengan kata-kata yang lebih tegas dan bisa dipahami. Kata-kata bersayap cuma akan menghasilkan penafsiran yang bersayap dan terbang melebar kemana-mana. Saya mempercayai pernyataan saya ini, sebagai naluri hati yang saya percayai merupakan fitrah dari Allah yang menghembuskan kehidupan pada saya di bumi ini.
Jika sebuah WIKIPEDIA bisa disadur dan menjadi pembenar sebagai referensi menurut Abah, tidakkah hal yang sama juga menjadi hak bagi yang lain untuk TIDAK meletakkan WIKIPEDIA sebagai referensi? Tidakkah orang muslim seperti saya juga berhak menolak referensi rakitan manusia untuk apa yang saya anggap sebagai referensi dari Illahi? Saya harap jawabannya YA. Jika tidak, sungguh pantas WIKIPEDIA dijadikan kitab suci tersendiri sebagai sumber referensi tervalid di bumi.
Karena apa? Dalam masyarakat muslim mayoritas, sejarah lahirnya Qur’an memiliki referensi tersendiri yang berurutan dan tidak dikumpulkan dalam sebuah server milik WIKIPEDIA. WIKIPEDIA boleh saja membuat entry dengan judul BIGOTRY untuk sikap muslim begini, tapi apapun ceritanya, nash-nash yang ada beserta manuskrip sejarah yang masih disimpan dalam bentuk lembaran-lembaran yang diawetkan, masih otentik dan memiliki kelayakan yang boleh dipegang.
Mungkin Abah bisa berargumen tentang distorsi sejarah. Argumen yang sama juga bisa dipertanyakan pada referensi WIKIPEDIA tersebut. Siapa bisa jamin 1000% pasti bahwa referensi itu benar adanya. Tidak ada jaminan sevalid itu juga.
Jalur dari Nabi - Sahabat - Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in hingga ke para Imam-imam dan sejarahwan muslim, dengan segala kelemahan subjektifitasnya, tetap memiliki referensi historis tersendiri. Analogi saya, itu sama jika anda mendengar sejarah kemerdekaan Indonesia dari Mohammad Hatta, misalnya. Kemungkinan besar, akan lebih dipercaya daripada mendengarnya dari bocah 12 tahun yang cuma mengumpulkan data dari sana-sini.
Analogi saya masuk akal, tidak? Ini jika bicara batas-batas logika lho.
Maaf, kritik sedikit ini: Tolong ditulis lebih rapi komentarnya, Abah. Jadi saya tidak susah membaca dan - sebagai penghujjah anda - mencari-cari celah pada argumen anda. Argumen sebagai sesama makhluk yang mencari kebenaran, bukan?
Nah, let me speak:
Makna Qur’an itu bacaan, darimana Abah dapatkan? Makna kata ataukah memang ada KATA-KATA yang jelas tertera yang mengatakan demikian? Meski saya bisa menyetujui Qur’an itu adalah “bacaan”, tapi jangan dimakna-maknakan sendiri dulu sebelum definisi BACAAN itu jelas dan mudah diterima.
Karena apa, Qur’an diturunkan sebagai penuntun umat, bukan melulu untuk satu orang bernama Muhammad. Jika memang cuma untuk Beliau saja diturunkan, dan CUMA Beliau yang boleh membaca dan memahami yang dipertegas Firman Illahi bahwa memang demikian, saya akan jadi orang pertama yang membuang Quran dari rak tertinggi di kamar saya.
Tapi kenyataannya Qur’an itu dibacakan Rasulullah dan dan menyebar ke penjuru bumi. Kenapa Allah tidak mencegahnya? Kenapa Allah membiarkan Qur’an begitu mudah untuk dicetak ulang dan dibaca bahkan oleh petani di kampung sekalipun? Karena memang - IMHO - Qur’an itu penuntun umat muslim. Hanya umat muslim saja dulu yang saya tekankan (lagian apa mau umat agama lain dituntun oleh Quran? :lol )
Jika penafsiran Abah berasal dari Surah pertama yang berbunyi Iqra… wah, itu persepsi Abah yang bermain dengan kata. Jika bermain dengan kata, tidak akan ada titik temu. Karena manusia memiliki logika dan pikiran serta kecerdasan yang berpatok pada standar-standar bernama realita yang disepakati, mari kembali pada satu hal saja dulu: Apa arti Iqra secara kata? (Bukan secara MAKNA yang bisa mblibet-membingungkan itu).
Bacaan tidak berhuruf dan berbunyi? Benarkah?
Lantas bacaan apa yang dibacakan oleh Hafsah adik Umar bin Khattab ketika Umar berniat membunuh mereka karena mendengar mereka masuk Islam? Komik?
Kenapa saya tertawa? Karena saat itu Rasullullah masih hidup dan ayat-ayat yang turun sudah mulai dicatat perlahan-lahan. Jika memang pemikiran Abah benar, seharusnya Beliau menegaskan tidak-bolehnya Qur’an ditulis dan dibaca demikian.
Masalah Qur’an turun berangsur-angsur, karena Qur’an bukan sekedar dogma-dogma berisi variabel-variabel ketauhidan belaka. Bukan melulu bicara tentang surga dan neraka. Tapi juga catatan sejarah dan untuk memperjelas kondisi sekitar zaman itu. Dan itu adalah berkenaan dengan umat dan bukan Muhammad itu sendiri.
Kenapa demikian saya katakan?
Mari berpikir logis: Jika Quran hanya untuk Muhammad atau malah rakitan Muhammad, kenapa tidak ada kejadian besar yang dialaminya secara pribadi dan cukup pantas untuk dimasukkannya ke dalam Qur’an. Kejadian macam apa?
Saya sebut dua saja:
1. Meninggalnya Khatijah dan Abu Thalib yang dikenal dengan tahun duka cita.
Apakah ada ayat Quran yang menyebut-nyebut nama Abu Thalib dan Khatdjah untuk memperjelas bahwa Quran hanya untuk Muhammad saja? Tidak. Silakan dicari.
2. Meninggalnya putra laki-lakinya.
Adakah disebut dalam Qur’an? Tidak ada. Tak ada nama Ibrahim bin Muhammad sebiji pun. Malah yang ada teguran ketika terjadi gerhana yang dikaitkan dengan kematian putra Rasulullah.
Maka jelas bagi muslim-muslim pada umumnya bahwa Muhamamd adalah manusia yang diberi tugas kerasulan dan Quran adalah BACAAN yang memang dibaca secara harfiah karena salah satunya adanya sejarah dan pencantuman bahwa Muhammad adalah Rasul yang menjadi gerbang Quran itu menyebar.
”Dan Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sunggah telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Maka apakah kalau dia wafat atau dibunuh, kamu akan surut ke belakang (murtad). Barangsiapa surut ke belakang, maka ia tidak akan memudaratkan Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.
Ayat tersebut dibacakan oleh Abu Bakar ketika Umar tak percaya dengan wafatnya Rasullullah. Itu surah Ali Imran ayat 144.
Nah, pertanyaan saya: Jika BACA itu menurut definisi Abah, maka apakah Abu Bakar tidak melakukan BACA juga saat menyampaikan ayat tersebut? Tidakkah itu dari Quran yang sama?
Masalah gunung berat menerima “BACAAN” tersebut, anda memandangnya secara hakikat atau bagaimana?
Karena memiliki, memahami dan mengamalkan Quran itu bukan sekedar urusan BACA-MEMBACA belaka. Bukan sekedar dengung-dengung di surau belaka. Ini bicara tentang AMANAH. Bukan KATA-KATA yang tercantum di sana.
Wajar jika dikatakan gunung menolak, karena beban memiliki Quran dan mengamalkannya itu memang sangat berat. Ada banyak perintah shalat dalan Quran, tapi lebih banyak muslim yang melalaikan shalat, bahkan saya sendiri.
Lebih parah lagi, ada yang malah mengatakan shalat itu tdak perlu tapi mengaku muslim. Apa itu tidak mengingkari amanah namanya?
Qur’an itu berat karena seperti aturan konstitusi. Bukan buat penenang hati para sufi yang mengucil di gunung belaka. Bukan BACA dna BACA saja. Kalo benar demikian, mungkin Abah bisa memberi tahu kenapa ada perintah untuk Puasa dan Zakat di Quran? Jika bukan untuk DIBACA, darimana muslim akan tahu ada perintah demikian? Jika Qur’an bukan HURUF dan BUNYI, darimana bisa dipahami kata-kata yang lugas tentang kewajiban demikian di dalam Quran?
Apakah Allah itu lupa bahwa umat muslim semua tidak seintelek Abah dan saya sehingga begitu sederhana dan polos menjalani perintah dalam Quran? Apakah Allah lupa memberikan peringatan bahwa Quran itu tidak boleh dicetak dan disebarkan dalam sejarah karena takut didistorsi oleh waktu dan manusia?
Adalah Tuhan yang aneh yang memaksakan bahwa pikiran-Nya harus dipahami tanpa boleh dibaca. Tuhan begini ini, IMO, pantas dimasukkan dalam kotak sampah khayalan.
Tapi…
Tapi…
Allah yang saya yakini, bukanlah Tuhan yang mewartakan kehendak-Nya dalam bahasa alien. Dalam bahasa planet lain yang tidak dimengerti. Tapi dalam bahasa bumi, sehingga teranglah fitrah manusia untuk menyadari keberadaan-Nya karena kitab yang bisa dipahami.
Jadi, ya… mohon didefinisikan ulang apa itu KATA, apa itu MAKNA, apa itu BAHASA, bahkan apa itu TUHAN menurut rata-rata kecerdasan umum yang bisa baca-tulis.
Metode pemikiran filsafati ala tasawuf seringsekali membuat umat bingung, Abah. IMAN yang SHALAt dan segala macamnya itu cuma Rasul, para sufi dan Abah yang bisa memahami. Umat? Dengan nash-nash yang ada tidak terlalu bodoh untuk memahami bahwa Shalat itu dengan fisik dan dengan hati. Bukan meditasi atas nama IMAN belaka. Ornag muslim yang paham apa itu Iman?
Atau mungkin umat seperti saya memang bodoh di mata para tercerahkan?
Jika demikian, pencerahan sehingga bisa mendefinisikan Quran asli dan tidak itu, mohon ditulis ulang dalam bahasa sederhana yang membumi dan bukan bahasa yang membingungkan, Abah. Saya ini benar lebih bodoh dari Abah dalam hal ini.
Yang lain akan saya komentari belakangan, namun saya ingin bertanya yang terakhir: Apa itu Iman? Apa itu Islam? Dan, apa itu Ihsan?
Dalam Islam, 3 hal itu adalah pilar utama seorang mukmin.
Dengan kebodohan saya dari literatur yang tak sevalid Wikipedia saya hanya tahu bahwa:
Iman adalah Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.
Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau.
Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah (tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu.
Itu petikan dari hadist Bukhari yang disampaikan oleh Umar bin Khattab, orang kedua yang dekat dengan Rasulullah setelah Abu Bakar. Apakah hadist ini juga terdistorsi, saya tidak yakin. Tapi jika Rasulullah sendiri sesederhana menggunakan kata-kata dalam Iman, Islam dan Ihsannya, saya tak memiliki alasan untuk mempersulit untaian makna kata dari persepsi saya sendiri.
IMAN saja tidak cukup, Abah. Tentu saja ini pandangan muslim seperti saya yang tak bisa saya paksakan pada Abah. Tapi jika ini salah, maka apa guna disuruh beramal dalam Islam? Tidakkkah semua bisa diniatkan selesai dengan Iman belaka? Zakat tidak akan beredar untuk memperkecil kemiskinan, Puasa tidak akan ada untuk memberi peringatan bahwa ada yang kelaparan, dan tidak ada lagi yang berdiri tegak untuk sujud kepada Allah. Mesjid akan sepi dan hidup jadi tak terkendali.
Oh ya
Tentang shalat dan iman dari blog bengak.wordpress.com itu saya sudah baca. Sukar saya cerna, karena membutuhkan kecerdasan diatas rata-rata muslim seperti saya. Mungkin nanti akan saya serap kembali.
Demikian. Mohon pencerahannya.
@abah
Eh, saya digerakkan untuk menggelar habis bah. Mungkin memang sudah saatnya.
@alex
Sekedar pemanasan aja nih, sebelum abah dhedhot yang menanggapi.
Kalo saya tidak salah tangkap yang dimaksud abah dhedhoti itu adalah:
AQ yang sekarang dipunyai umat Islam adalah merupakan hasil pembacaan Nabi Muhammad atas kalam yang kemudian disampaikan dengan bahasa manusia (khususnya arab) pada para sahabat. Nah kemungkinan besar yang disebut AQ sejati disini adalah kalam (wahyu?) itu.
Nah, kalam inilah yang disebut tidak berbunyi , tidak berhuruf itu. Ketika harus disampaikan dengan huruf (bahasa manusia) maka kemungkinan akan ada distorsi dalam artian tidak bisa menggambarkan kalam itu secara sempurna.
Sesungguhnya segala puji hanya bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya serta berlindung kepada Allah dari kejahatan hawa nafsu dan kejelekan amalan kita.
Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Amma Ba’du
@buat mas dana dan abah dhedot ..
1. Apabila al Qur’an yang ada adalah bukan al Qur’an yang disampaikan nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tunjukkan pada kami mana Al QUr’an yang menurut anda adalah benar² dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?
2. Jika anda mengaku MUSLIM, salah satu rukun Iman adalah beriman terhadap Al QUr’an, dan apakah anda tidak mengetahui/menyadari bahwa Al QUr’an yang sudah di mushafkan oleh Utsman adalah sudah dijaga keotentikannya oleh ALLAH ..?? dan dijelaskan oleh ALLAH dalam ayat Al QUr’an.
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS Al Hijr:9)
lihatlah ayat diatas apakah hingga ribuan tahun ada perubahan terhadap Al Qur’an ..?? Bukankah ini bukti kebenaran ayat dalam Al Qur’an yang masih anda ragukan kebenarannya ..?? hai yang mendewakan akal .. semoga engkau diberikan petunjuk ..
selain itu, apakah ada bukti penyimpangan AL QUr’an yang di mushafkan oleh Utsman Rodhiallohuanhu ..?? bahkan AL QUrna menjelaskan dan menentang anda yang tidak percaya dengan AL QUr’an .. dan masih diragukan dengan Al QUr’an sekarang ..
”Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang memang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah : 23-24)
Jika anda masih ragu dengan Al QUr’an, maka bagaimana rukun iman anda? bagaimana keimanan anda ?
Saudaraku abah dhedot dan saudara dana .. jika anda tidak percaya dengan Al Qur’an yang sekarang terus anda percaya pada Al QUr’an yang mana ..??
Kemudian .. Utsman adalah sahabat Rasulullah, yang dikabarkan oleh ALLAH masuk surga melalui lisan RasulNYA, jika anda mencela bahwa Al Qur’an yang dikumpulkan beliau adalah tidak sama dengan Al QUr’an yang diwahyukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah anda merasa lebih baik dari Utsman ..???
Masya ALLAH .. kita ini tidak ada apa² dibandingkan sahabat Rasulullah …
Dan berhati-hatilah saudaraku .. jika anda masih ragu .. maka banyak²klah membaca ta’awwudz .. berlindung kepada ALLAH semata dari goda’an dan bisikan syaithon yang terkutuk .. dan ucapkanlah Amantu Billah wa Rosulullah ..
Allohu’alam bishowab,
wah..amburadul…abis.
narasumber memperlihatkan kegalauannya dan kebingunan yang tersamar oleh panjangnya tulisan.
@ asal tafsir
kalo mau tanya tentang TAFSIR dari huruf yang mengandung ma’na SIR jangan tanya manusia apalagi abah, yang benar ” tanyalah pada Panglima agung yang bijak nan bersemayam pada patepaan berkabut.
@ abah dedhot
apa ini tidak dikatakan terlalu berlebihan????
apakah tidak serta merta abah menolak kitab al-Quran yang kita semua junjung tinggi??? apakah tidak terfikirkan tentang hukum ” halalnya ” sebuah tetesan darah??
bagaimana bisa munculnya sebual al-quran lain sementara sudah ada yang kita kenal sekarang??
kalo demikian mari kita sama2 kumpulkan al-quran dan buang saja kedalam got agar tidak menjadi alat penyimpangan umat.
…ini adalah kitab yang tiada keraguan lagi, sebagai KHUDA-nya manusia
>>manusia mana, apakah yang kasar ataukah yang halus
>>kenapa sebagai KHUDA tidak sebagai furqon??
>>Quran yg tersirat apakah rasulullah kasar atau halus
@ abah dedhot
bila semua ini telah berakhir saya akan bawa abah keliling mengunjungi setiap lapisan hingga ke tujuh, agar faham tentang banyaknya manusia yang sebenarnya kepala kucing…he..he
..selesaikanlah apa yang telah dimulai karna itu semua adalah ketentuan dan takdirNya.
..sayatan berikutnya akan lebih dalam dan lebih menyayat hingga abah menerima bahwa abah sangat lemah dan tak berdaya.
Mas Dana sedang bertepuk tangan dan dua belah kaki saking gembiranya melihat kerepotan koncone sing TUWE dlm menjawab pertanyaan demi pertanyaan
…” ha..ha..ha ” emang enak, kan sayamah adang yang menyuruh dengan digerakan tangan saya untuk membuka hingga telanjang
…”biar ketahuan jurus yang dimainkan abah, yg kelihatan sakti padahal..sangat lemah bahkan melebihi seekor cacing.
setelah postingan ini, waktu berubah malam jadi siang dan sebaliknya.
..” bah…jangan jadi tambah bongkok ya karena repot
@danalingga (di postingan komen terakhir) - itu seperti pemikiran para dedengkot JIL (well sambil dengarin penjelasan asatidz yang menjelaskan kesesatan pemikiran seperti anda kira).
so pertanyaan saya, jadi maksud anda yang dimaksud AL QUr’an sekarang ini karangan saja ..??? karangan Rasulullah ..??
dan apakah anda menuduh Rasulullah menyesatkan umat dengan Al Qur’an yang beliau bawa ..??
kemudian apa anda menghina sahabat yang telah menyelewengkan Al Qur’an ..??
Jawab yah ..??
terus .. yang anda maksud wahyu atau kalam yang tidak berhuruf, so wahyu atau kalam itu yang bagaimana ..?? Masya ALLAH berhati-hatilah … jangan paksakan akal anda memikirkan sejauh itu ..
@razuka