Atas dasar Ilmu Sejarah (Dalil Sam’i), dipercayai oleh umat Islam bahwa diterimanya Al-Qur’an oleh NABI MUHAMMAD SAW terjadi secara berangsur-angsur selama 23 tahun. Yang terbagi dalam 2 periode, yaitu Periode Mekkah (surat Makkiyyah) 13 tahun, dan periode Madinah (surat Madaniyah) dalam kurun waktu 10 tahun
Penulisan Al-Qur’an dan perkembangannya
Penulisan (pencatatan dalam bentuk teks) Al-Qur’an sudah dimulai sejak zaman NABI MUHAMMAD SAW. Kemudian transformasinya menjadi teks yang dijumpai saat ini selesai dilakukan pada zaman khalifah Utsman bin Affan.
A. Pengumpulan Al-Qur’an di masa Rasullulah SAW
Pada masa ketika NABI MUHAMMAD SAW masih hidup, terdapat beberapa orang (hafiz) yang ditunjuk untuk menuliskan Al Qur’an yakni :
1. Zaid bin Tsabit
Kekuatan daya ingat Zaid bin Tsabit telah membuatnya diangkat penulis wahyu dan surat-surat Muhammad semasa hidupnya, dan menjadikannya tokoh yang terkemuka diantara para sahabat lainnya. Pada zaman kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, Zaid bin Tsabit adalah salah seorang yang diamanahkan untuk mengumpulkan dan menuliskan kembali AL-QURAN dalam satu mushaf.
2. Ali bin Abi Talib
Ketika NABI MUHAMMAD SAW menerima wahyu, Ali adalah lelaki pertama yang mempercayai wahyu tesebut atau orang ke 2 yang percaya setelah Khadijah istri Nabi sendiri. Pada usia remaja setelah wahyu turun, Ali banyak belajar langsung dari Nabi SAW karena sebagai anak asuh, berkesempatan selalu dekat dengan Nabi hal ini berkelanjutan hingga beliau menjadi menantu Nabi. Hal inilah yang menjadi bukti bagi sebagian kaum Sufi bahwa ada pelajaran-pelajaran tertentu masalah ruhani yang diajarkan Nabi khusus kepada beliau tapi tidak kepada sahabat-sahabat yang lain.
3. Muawiyah bin Abu Sufyan
Bergelar Muawiyah I adalah khalifah pertama dari Bani Umayyah. Ia diakui sebagai khalifah sejak Hasan bin Ali, berbai’at padanya.
4. Ubay bin Kaab
Ubay merupakan salah seorang penulis bagi Nabi Muhammad. Ubay diriwayatkan memiliki suatu mushaf khusus susunannya sendiri. Ubay juga adalah anggota kelompok penasehat (mushawarah) yang dibentuk oleh khalifah Abu Bakr sebagai tempat bertanya atas berbagai permasalahan. Dewan tersebut terdiri dari Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Muadz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Kaab sendiri. Setelah menjadi khalifah, Umar bin Khattab kemudian juga meminta nasehat dari kelompok yang sama, khususnya kepada Utsman, Ubay dan Zaid bin Tsabit.
Sahabat yang lain juga kerap menuliskan wahyu tersebut walau tidak diperintahkan. Media penulisan yang digunakan saat itu berupa pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Di samping itu banyak juga sahabat-sahabat langsung menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an setelah wahyu diturunkan.
B. Pengumpulan Al-Qur’an di masa Khulafaur Rasyidin
1. Pada masa pemerintahan Abu Bakar
Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, terjadi perang Ridda yang mengakibatkan tewasnya beberapa penghafal Al-Qur’an dalam jumlah yang signifikan. Umar bin Khattab yang khawatir akan keadaan tersebut, meminta kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan seluruh tulisan Al-Qur’an yang saat itu tersebar di antara para sahabat. Abu Bakar lantas memerintahkan Zaid bin Tsabit sebagai koordinator pelaksaan tugas tersebut. Setelah pekerjaan tersebut selesai dan Al-Qur’an tersusun secara rapi dalam satu mushaf, hasilnya diserahkan kepada Abu Bakar. Abu Bakar menyimpan mushaf tersebut hingga wafatnya kemudian mushaf tersebut berpindah kepada Umar sebagai khalifah penerusnya, selanjutnya mushaf dipegang oleh anaknya yakni Hafsah yang juga istri NABI MUHAMMAD SAW.
2. Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan
Pada masa pemerintahan khalifah ke-3 yakni Utsman bin Affan, terdapat keragaman dalam cara pembacaan Al-Qur’an (qira’at) yang disebabkan oleh adanya perbedaan dialek (lahjah) antar suku yang berasal dari daerah berbeda-beda. Hal ini menimbulkan “kekhawatiran” Utsman sehingga ia mengambil kebijakan untuk membuat sebuah mushaf standar (menyalin mushaf yang dipegang Hafsah) yang ditulis dengan sebuah jenis penulisan yang baku. Standar tersebut, yang kemudian dikenal dengan istilah cara penulisan (rasam) Utsmani yang digunakan hingga saat ini. Bersamaan dengan standarisasi ini, seluruh mushaf yang berbeda dengan standar yang dihasilkan diperintahkan untuk dimusnahkan (dibakar). Dengan proses ini Utsman berhasil mencegah bahaya laten terjadinya perselisihan di antara umat Islam di masa depan dalam penulisan dan pembacaan Al-Qur’an.
Menurut Syaikh Manna’ Al-Qaththan dalam Mahabits fi ‘Ulum Al Qur’an, keterangan ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Utsman telah disepakati oleh para sahabat. Demikianlah selanjutnya Utsman mengirim utusan kepada Hafsah untuk meminjam mushaf Abu Bakar yang ada padanya. Lalu Utsman memanggil Zaid bin Tsabit Al-Anshari dan tiga orang Quraish, yaitu Abdullah bin Az-Zubair, Said bin Al-Ash dan Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam. Ia memerintahkan mereka agar menyalin dan memperbanyak mushaf, dan jika ada perbedaan antara Zaid dengan ketiga orang Quraish tersebut, hendaklah ditulis dalam bahasa Quraish karena Al Qur’an turun dalam dialek bahasa mereka. Setelah mengembalikan lembaran-lembaran asli kepada Hafsah, ia mengirimkan tujuh buah mushaf, yaitu ke Mekkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah, dan sebuah ditahan di Madinah (mushaf al-Imam).
Upaya penerjemahan dan penafsiran Al Qur’an
Upaya-upaya untuk mengetahui isi dan maksud Al Qur’an telah menghasilkan proses penerjemahan (literal) dan penafsiran (lebih dalam, mengupas makna) dalam berbagai bahasa. Namun demikian hasil usaha tersebut dianggap sebatas usaha manusia dan bukan usaha untuk menduplikasi atau menggantikan teks yang asli dalam bahasa Arab. Kedudukan terjemahan dan tafsir yang dihasilkan tidak sama dengan Al-Qur’an itu sendiri.
Terjemahan Al-Qur’an adalah hasil usaha penerjemahan secara literal teks Al-Qur’an yang tidak dibarengi dengan usaha interpretasi lebih jauh. Terjemahan secara literal tidak boleh dianggap sebagai arti sesungguhnya dari Al-Qur’an. Sebab Al-Qur’an menggunakan suatu lafazh dengan berbagai gaya dan untuk suatu maksud yang bervariasi; terkadang untuk arti hakiki, terkadang pula untuk arti majazi (kiasan) atau arti dan maksud lainnya.
*Taken from Wikipedia
Pembahasan
DALIL AQLI (atas dasar dalil sam’i) :
Kitab Majazi yang selesai di”buku”kan ( bentuk lembaran yang berisi text ) dimasa kekhalifahan Ustman bin Affan, tentu saja tidak pernah dilihat, dibaca atau di pegang oleh NABI MUHAMMAD SAW. Karena kitab ini selesai di susun 7 tahun setelah meninggalnya NABI MUHAMMAD SAW.
Maka AQAL tidak dapat membantah bahwa “KITAB” yang dibaca, yang difahamkan NABI MUHAMMAD SAW atau yang disebut atau dimaksud dalam QS. Al Baqarah : 2, bukanlah “Kitab” yang sama dengan kitab yang popular atau dikenal sekarang ( Kitab Mazaji).
DALIL NAS ( Dari Al Qur’an Majazi ) :
Al Qur’an Majazi, yang banyak beredar sekarang ( di toko-toko buku, bahkan banyak yang dilengkapi “tafsir”nya )… ibarat “resensi” atau hasil bacaan “QUR’AN” ( Kitab yang “nyata” / terang ), yang dibahasakan melalui mulut NABI MUHAMMAD SAW.
…. Sungguh keberadaannya (Kitab Mazaji) adalah sebagai “rambu – rambu petunjuk“, yang menunjukan, yang menyatakan “ada”nya Haqiqat “QUR’AN” yang menjadi sumber atau bacaannya NABI MUHAMMAD SAW.
A. Dalil AQLI,
sesuatu yang disebut / dinamai pasti ada “objek”nya, maka Al Qur’an Majazi sendiri menyebutkan adanya “objek” ( QUR’AN ) yang menjadi bacaan NABI MUHAMMMAD SAW. Diantaranya :
1. AL QUR’ANUL MAJID.
QS. Qaaf : 1
2. AL QUR’ANUL ADZIM
QS. Al Hijr : 87
3. AL QUR’ANUL KARIM
QS. Al Waqiah : 77
4. AL QUR’ANUL HAKIM
QS. Yaasiin : 2
Bacaan atau “QUR’AN” inilah yang pada awal keNABIannya Muhammad, diperintahkan oleh Allah SWT untuk … “IQRA…!!!”. Dan banyak sekali “rambu-rambu” yang disebutkan dalam Al Qur’an Mazaji, yang menunjukan sifat-sifat dari “QUR’AN” yang merupakan bacaan NABI MUHAMMAD SAW. Berikut adalah “Tafsir” Al Qur’an Mazaji yang memaparkan sifat – sifat dari QUR’AN tersebut :
- (Rabb) Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan AL-QURAN. (QS. Ar Rahmaan : 1 – 2).
- Yang mengajar (manusia) dengan perantaran KALAM. (QS. Al Alaq : 4).
- Maka apakah mereka tidak memperhatikan AL-QURAN? Kalau kiranya AL-QURAN itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. An Nissa:82).
- Tidaklah mungkin AL-QURAN ini dibuat oleh selain Allah; … (QS. Yunus : 37).
- Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat Kitab yang nyata. Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa AL-QURAN dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya*. (QS. Yusuf : 1 – 2). *Menunjukan FAHAM sebagai tujuan dari bahasa.
- Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentu AL-QURAN itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah… (QS. Ar Ra’d :31).
- Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca AL-QURAN sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan. (QS. ThaaHa : 114)
- Sesungguhnya ayat-ayat-Ku (AL-QURAN) selalu dibacakan kepada kamu sekalian, maka kamu selalu berpaling ke belakang, (QS. Al Mu’minuun : 66).
- Berkatalah Rasul: Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan AL-QURAN ini sesuatu yang tidak diacuhkan. (QS. Al Furqaan : 30).
- Kalau sekiranya kami menurunkan AL-QURAN ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (QS. AL Hasyr : 21).
- Dan sesungguhnya AL-QURAN itu benar-benar kebenaran yang diyakini. (QS. Al Haaqqah : 51).
- AL-QURAN itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan, (QS. Yaasiin : 69)
- Sebenarnya, AL-QURAN itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim. (QS. Al Ankabut : 49)
- Maka apakah mereka tidak memperhatikan AL-QURAN ataukah hati mereka terkunci? (QS. Muhammad : 24)
Tafsir dari hasil bacaan NABI yang tersebut diatas, memaparkan sifat-sifat QUR’AN yang menjadi sumber bacaan NABI MUHAMMAD SAW, yang dipakai sebagai landasan IMAN. IMAN yang kokoh dianugerahkan kepada manusia yang beruntung, yang dipertemukan (sehingga menjadi nyata / terang), yang di IDRO kan dengan apa-apa yang di IMAN i nya, sehingga dapat menjelaskan (dengan dasar ILMU), me RASA kan dan ter FAHAM kan.
QUR’AN yang nyata, tidak samar, jelas, terang benderang, yang terkandung dalam pribadi RASULULLAH, yang hanya bisa dibaca atau diamati dengan “mata hati” yang jernih yang sarat akan ILMU dan menempat pada RASA, bukan dengan indera mata.
Atau dengan kata lain, sifat-sifat QUR’AN yang tersebut diatas adalah merupakan tafsir dari “hasil bacaan” dari pengamatan NABI MUHAMMAD SAW (melalui mata hatinya) yang diFAHAMkan oleh ALLAH (melalui KALAM) terhadap “objek” (yang disebut QUR’AN).
Adapun perbedaan Tafsir dengan Kalam, kurang lebihnya adalah :
- Tafsir : Ketemu kalimat atau pernyataan tetapi tidak ketemu / mengenal objek yang dikalimatkan. ( *ibarat rambu penunjuk, sedangkan tujuan tidak ada disana ).
- Kalam : Ketemu dengan kenyataan objek dan sudah pasti ketemu dengan pernyataan atau kalimatnya. ( * KALAM itu tidak berbunyi dan tidak berhuruf ).
NABI MUHAMMAD SAW difahamkan akan “6 perkara IMAN” (termasuk kitab atau QUR’AN) melalui KALAM bukan melalui TAFSIR. Sehingga 6 perkara IMAN ini menjadi nyata pada nya.
QUR’AN adalah objek yang nyata (dalam faham NABI MUHAMMAD SAW), yang tunggal dengan kalimatnya, tidak terpisah, bagaikan zat dengan sifatnya. Contoh : Didalam RASA, gula adalah objek dan dalam kalimat : gula itu manis. Manis adalah kalam gula.
Saliknya NABI MUHAMMAD SAW dalam menetapkan IMAN (6 rukun IMAN) adalah dengan “bertemu” dengan “objek” yang di IMAN-i secara nyata, jelas, tidak samar. Kenyataan, kebenaran (bukan yang palsu) yang HAQ. Setelah beliau “ketemu”, me-rasa-kan dan faham sehingga dapat menjelaskan, menguraikannya melalui ILMU yang dihadapkan dengan dalil (bukti,kenyataan yang tidak terbantahkan) kepada para sahabat dan umatnya. Dengan demikian nyatalah sifat Sidiq, Amanah, Fathonah dan Tabligh yang melekat padanya.
Begitu pula dengan orang-orang / kaum ( yang mengaku umat NABI MUHAMMAD SAW ), seharusnya mengikuti dan mempunyai pola fikir (didalam saliknya) yang sama dengan beliau. NABI MUHAMMAD SAW telah membimbing umatnya agar ketemu dengan sumber bacaan “QUR’AN” yang sama dengan bacaannya, sehingga “QUR’AN” ini lah dapat menjadi landasan IMAN ( bukan dari tafsir ).
B. DALIL NAS ,
Hadist Nabi yang bermakna :
“Aku wariskan kepada ummatku 2 perkara. Yang apabila ummatku berpegang kepada 2 perkara itu, maka jaminan selamat akan diperolehnya. 2 perkara itu adalah “QUR’AN” (bacaan) dan “HADIST” (faktanya).
Makna sesungguhnya :
2 perkara tersebut objek (nyatanya) adalah Pribadi RASULULLAH dan Perbuatan Pribadi RASULULLAH, NABI MUHAMMAD SAW menunjuk kepada Pribadi nya sebagai “QUR’AN” yang HIDUP dan meliputi perbuatannya. Objek nyata ini yang selanjutnya menjadi dasar “Syahadat” (penyaksian yang nyata, terang). Mengenai hadist ini banyak ulama yang menunjuk kepada lembaran kertas berbentuk buku yang bertuliskan huruf bahasa arab / kitab Mazaji dan kepada cerita Hadist (bukan Hadist), sehingga menyesatkan ummat karena mustahil ummat akan sampai kepada “Syahadat”.
Mengenai kedudukan “tafsir” yang dipandang sebagai QUR’AN (oleh mayoritas umat yang mengaku umat NABI MUHAMMAD SAW), maka pandangan ini adalah keliru. Pandangan yang keliru akan melahirkan AKHLAQ yang keliru. AKHLAQ bukanlah moral. Ahklaq adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya yang Haq. Dengan menempatkan “TAFSIR” sebagai kitab suci / pedoman hidup, adalah bertentangan dengan misi yang diemban NABI MUHAMMAD SAW, sebagai penyempurna AKHLAQ. Maka dudukanlah QUR’AN dengan AHKLAQUL KARIMAH.
TAFSIR ibarat rambu penunjuk yang hanya untuk dibaca dan dilewati, bukan sebagai tujuan suatu perjalanan, sedangkan QUR’AN adalah tujuan yang hendak dicapai.
Inilah masalah yang sangat mendasar dan terbukti, bahwa “tafsir” yang di IMAN-i sebagai kitab suci lah yang menjadi sumber perdebatan, perpecahan, kekacauan dan pertikaian. Padahal bila “objek yang nyata” (QUR’AN) yang ditemukan, dijamin tidak akan ada bantahan karena yang diamati adalah objek yang nyata.
Sesungguhnya penerimaan “wahyu” (melalui hantaran malaikat Jibril as.) oleh NABI MUHAMMAD SAW adalah melalui “bahasa” kalam, “bahasa” yang tidak berbunyi dan tidak berhuruf, sehingga NABI MUHAMMAD SAW terFAHAMkan . TerFAHAMkan atas “objek tanpa batas” yang diamati oleh mata hatinya. “FAHAM” inilah yang dibahasakan dengan media bahasa arab ( menjadi terbatas ) oleh NABI MUHAMMAD SAW kepada para sahabatnya. Penyampaian FAHAM ini disampaikan oleh NABI MUHAMMAD SAW kepada para sahabatnya disertai dengan penjelasannya sehingga para sahabat IDRO dengan RASA dan FAHAM tersebut.
C. DALIL FI’IL ( Bukti perbuatan / peristiwa ):
Ketika “mata hati” membaca atau mengamati objek (tanpa batas, dalam RASA), “IMAN” maka terserap FAHAM, yang kurang lebih bila dibahasakan (menjadi terbatas, pasti ada distorsi, bias):
- 1. Alif laam miim. ( tetaplah menjadi sir ).
- 2. Itu kitab (menunjuk kepada objek QUR’AN) tidak ada keraguan sedikitpun bagi nya ( bagi QUR’AN, semuanya nyata, jelas); petunjuk kepada keTAQWAan. (QUR’AN sebagai petunjuk TAQWA, melalui IMAN).
- 3. Yang IMAN dengan yang GAIB (kedudukan IMAN dalam GAIB) dan dia (IMAN sebagai objek) mendirikan Shalat (IMAN yang Shalat atau Shalat sebagai perbuatan IMAN) dan dari apa-apa (IMAN yang diuraikan dalam 6 perkara Rukun IMAN) yang telah direzekikan (6 Rukun IMAN) sebagai anugerah ( pemberian ).
- 4. Dan dia, IMAN (dengan 6 perkaranya) dan dengan apa-apa yang diturunkan (kedudukannya menjadi diFAHAMkan) dalam keadaan kini dan apa-apa yang diturunkan dalam keadaan sebelumnya, dan dengan akhirat (ALLAH & RASUL) yang diyakini. (memaparkan mengenai kondisi IMAN, yang idro (FAHAM dalam RASA) dengan DIA yang WUJUD, yang AWAL & yang AKHIR).
- 5. Yang demikian atas anugerah petunjuk dari RAB nya (Yang Maha Pemelihara IMAN dengan 6 rukunnya), dan demikian pula baginya (pada IMAN) keberuntungan. (memaparkan IMAN yang selalu disertai keberuntungan, kedudukan “keberuntungan” ada pada IMAN).
Hasil bacaan NABI MUHAMMAD SAW, ketika mengamati objek “IMAN”, terucap dari mulutnya dalam media bahasa arab ( QS. Al Baqarah 1 – 5 ) :
Dan oleh ahli TAFSIR (atas dasar ILMU tafsir), hasil bacaan atau pernyataan ( dalam bahasa Arab ) tersebut di atas, ditafsirkan (tanpa ketemu objek yang disebutkan) dan “disebutkan” kembali menjadi :
- Alif laam miim.
- Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,
- (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,
- Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
- Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb-nya,dan merekalah orang-orang yang beruntung.
Sungguh terlihat adanya perbedaan makna.
Penutup
Saat ini, TAFSIR merupakan “objek” yang sarat dengan perdebatan… yang diakibatkan dari perkembangan nalar manusia dari pengamatannya terhadap suatu “pernyataan” tanpa ketemu dengan objeknya. Perkembangan nalar yang liar, tanpa aqidah, yang menghasilkan pengkondisian atau meyakin-yakinkan IMAN. Faktanya, selami saja www.danalingga.wordpress.com , disana ada kenyatan perdebatan “TAFSIR” yang pasti di temukan.
KITAB yang NYATA, JELAS, TERANG, TIDAK SAMAR hanya berlaku bagi “siapa” yang beruntung yang dipertemukan dengan ILMU dan RASA hingga terFAHAMkan akan objek yang dibaca atau diamati. Dialah yang dianugerahi landasan yang HAQ, landasan IMAN yang kokoh.
Dan sebaliknya, KITAB yang NYATA, JELAS, TERANG, TIDAK SAMAR tidak berlaku manusia yang menganggap atau mendudukan TAFSIR sebagai landasan IMAN, karena tidak dipertemukan dengan objek yang diamati, sehingga akan melahirkan AKHLAQ yang keliru.
Tanpa mengecilkan peranan para ahli TAFSIR dalam memperkaya khasanah AGAMA, semoga paparan yang sederhana ini mampu menyampaikan sebersit FAHAM yang menyatakan bahwa :
“Ternyata… Mayoritas umat (yang mengaku…) ISLAM, pada saat ini… berpedoman kepada “KITAB” (yang katanya suci…) yang BERBEDA dengan “KITAB SUCI”nya Nabi Muhammad SAW”.
INA LILLAHI WA INA ILLAIHI RAJI’UN
ALHAMDULILLAHI RABBIL’ALAMIIN
|
Baitul Makmur, 14 Mei 2008
Abah Dedhot |
DIsclaimer :
Tulisan ini adalah karya abah dedhot, salah seorang yang sering komen diblog ini. Dan abah berkenan membagikan pemahamannya, dan menitipkannya untuk diposting di blog saya ini. Jadi ini bukan tulisan saya, saya hanya berperan sebagai pemosting dan sedikit mengedit. Semoga dapat dipahami.







Salam kenal ya….para blogger…
isinya bagus banget…:P
saya seorang mualaf…boleh belajar dan nambah ilmu disini khan…mas dana..
saya punya cerita yang ingin saya bagikan kepada teman-2
yang membuat saya didalam Alam renungan,.. sehingga saya masuk pada keyakinan saya sekarang…
Pada suatu waktu, Tuhan memerintahkan kepada seorang insan MANUSIA yang sangat patuh pada-Nya untuk mengadakan perjalanan yang sangat jauh kesebuah tempat yang telah ditentukan oleh Tuhan…
Namun untuk melakukan perjalanan itu Tuhan memerintahkan manusia tersebut untuk berjalan dan didampingi oleh seekor SIPUT…
Selama melakukan perjalanan itu si.Manusia terus bergumul dengan rasa kesal,dongkol,dll kesal karena dia merasa Tuhan memberikan perintah ini hanya untuk mempermainkannya…karena dia berpikir manalah mungkin melakukan satu perjalanan yang sangat jauh dapat berlangsung cepat jika ditemani dan dilakukan dengan seekor SIPUT..
waktu demi waktu dijalani dan dilalui oleh ke-2 mahluk ciptaan Tuhan itu..namun hanya si.manusialah yang sangat asyik dengan nafsu-2nya dan kedongkolan yang ada dihatinya sehingga dia tidak dapat menikmati pemandangan dan kejadian-2 selama dalam perjalan itu….,
Sedangkan si.Siput dengan langkahnya yang lamban.. dia justru asyik menikmati pemandangan-2 yang ada dan kejadian-2 di.alam sekitarnya selama diperjalannan (diPERJALANKAN) itu, bahkan ia pun asyik menikmati dan mengamati nafsu-2 si.manusia
Akhirnya cerita sampailah ke-2 mahluk tersebut ditempat yang telah ditentukan olah Tuhan..
dan terjadilah dialog antara Tuhan;manusia;dan siput…
Tuhan : hai….MANUSIA dan SIPUT apa saja yang telah kau dapat
didalam perjalananmu ?!?
Siput : Ya Tuhan-ku…hamba sangat bahagia dapat diperjalankan dengan
makhluk ciptaan-Mu yang sempurna yaitu Insan Manusia ini…
betapa hamba banyak mendapatkan ilmu dan pemahaman baru yang
tidak mungkin hamba dapatkan tanpa ijin-mu..,karena Engkaulah
yang mengijinkanku untuk menemani manusia yg sangat sempurna
ini…Puji dan Syukur hanya untuk kebesaran-Mu ya Tuhan-ku..
Manusia:Ya Tuhan-ku…kenapa engkau mengijinkan Siput ini menemani
perjalanku….??? Kenapa tidak kau berikan seorang manusia
lainnya ..? sehingga aku bisa berjalan dengan cepat dan bisa
bertukar pikiran dengannya…?
Kenapa dan Mengapa ya Tuhan-ku? bukankah Engkaulah si.maha
Tahu, maha Pemurah lagi maha Penyayang…?
Tuhan : Memang demikianlah Aku hai mahluk-2 ku…….
dan kepadamu hai manusia…” NIKMATKU MANALAGI YANG ENGKAU
INGKARI”…?
demikianlah cerita yang sangat menyentuh hati dan pikiran saya…hingga masuk ke.SANUBARI saya…dan saya rasa cerita Abah Dedhot mungkin sama dengan INSAN MANUSIA yang menjadi seekor SIPUT…bukan menjadi seorang MANUSIA yang hanya bisa mentafsirkan Qur’an sebagai tulisan secara harafiahnya…terimakasih
salam kenal..
J-Kerthol
@Razuka
“begini……….
memutuskan/ menghentikan jalan hidup yang tediri dari 4 saluran yang disebut 4 jalan nirwana, namun hanya 1 jalan nirwana yang utama dan 3 jalan nirwana lagsebagai pendukung.”
Jalan yg dijaga Jibrilkah itu? Arupadatukah?
*Pantesan Angka 13 itu banyak nggak disukai orang ya, dibilang sial, padahal mantabh*
“ach pokoknya sulit deh, kecuali harus melalui methode yang menyagkut surat si 7 Ayat.”
Aha..ternyata masih ada peluang.
*Nunggu dan masih bersila*
@penggoda80
“lebih tepat minta bimbingan yang ber-HAQ”
Bagi saya pendapat Anda tetap saya pahami dengan Asma-Nya.
@abahdedhot
Thank’s.
*Tengak tengok cari Mas Santri G *
@ Faubell
masalah jalan nanti juga pasti anda FAHAM!!,tapi jangan ulangi kejadian nabi musa As dalam hal ketidaksabaran ketika mendampingi Khidir As.
tolong kasih saya pandangan atas hal ini!!
>> pernah saya suatu ketika BERMA’RIFAT dengan tuhan lain! begitu nikmat,sejuk,damai walau saya dapat kesempatan hanya sejenak.
>> pada kesempatan lain ketika saya sendirian saya ulangi lagi berma’rifat dengan tuhan lainya ternyata begitu manstabh.
>>akhirnya saya melakukan itu tiada henti hingga kini
….Ach ternyata saya masih menyembah tuhan lain selainNya. [ apakah ini yang disebut musyrik?? ]
Kemudian pada kesempatan lain saya bertanya big boss
” wahai… Big Boss…..,bolehkah aku menyembah selain dirimu?? lalu jawabnya BOLEH,………….*
….kenapa saya diperbolehkan padahal itu membuat tandingan dengan Big Boss??
-salam-
>selamat tinggal rekan rekan semua
>rani pulang kampung dulu, jadi untuk sementara mode Off karena dikampung rani ga ada komputer abis dipelosok desa.
>-salam-
>tq
@J Kerthol
hebat euy… sangat jeli… Yah, namanya juga ORANG..
singkatnya, banyak ORANG yang mengaku ber IMAN kepada ALLAH, tetapi ngga “nyaman” akan Qudrat Iradat NYA. Belum diFAHAMkanNYA akan KASIHNYA…
Padahal setiap hari mengucap “Bismillahirahmanirahiim”, yang difahami hanya TAFSIR, “dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang…” tanpa diFAHAMkan akan “kenyataan” (QUR’AN)nya, yang tampak baginya hanya prasangka, praduga & pra rasa. Sehingga berulangkali di serukan …” Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? ”
Begitu kali yaa…???
salam
@razuka
sampai ketemu lagi…
@razuka
He..he..he thank you for sharing.
Saya sudah nanya dua kali ya? Kalau 3 kali dah diusir sama Nabi Khidir.
“>> pernah saya suatu ketika BERMA’RIFAT dengan tuhan lain! begitu nikmat,sejuk,damai walau saya dapat kesempatan hanya sejenak.
>> pada kesempatan lain ketika saya sendirian saya ulangi lagi berma’rifat dengan tuhan lainya ternyata begitu manstabh.
>>akhirnya saya melakukan itu tiada henti hingga kini”
Perumpamaannya bagus tuh…
Biarlah kubakar “Phillips TL” ke matahari sekalian aja, bikin repot.
@razuka
Met jalan, semoga menikmati.
Rindu… aku padamu… ya… Rosul….
Rindu tiada terperi…
Berabad jarak, darimu… ya.. Rosul
Serasa engkau di sini….
@godam
saya ingin kasih tau bimbo syairnya kurang nge gigit, jangan pake ngerasa gitu loh
@razuka
selamat jalan, sampai jumpa
@penggoda80
…Padahal senyata-nyatanya memang “ADA” disini…
salam
@abah dedhot
sepertinya lumayang juga ketajaman abah dalam hal memandang sesuatu, sy mau belajar dong bah, selama ini saya cuma mengamati,….eh tertarik juga karena banyak yang mumpuni..tapi dalam pandanganKU kalian tetaplah ciptaanKU.
mohon maaf sebelumnya
-salim-
@ abah
memang ADA disini artinya PASTI adanya disini = WAJIB adanya disini.
abah…gimana serpis dari saya??? lumayan juga khan.
oh..saya lupa kasih kembaliannya GO-ceng.
kalo perlu antenanya abah diacungin dong biar sinyalnya ketangkep.
trims
@zsheefa
salam kenal..
ikut aku yuuk, godain hidung belang??
temen temen…aku nongol lagi,
ini lagi perjalanan pulang..istirahat makan eh ada yang buka warnet.
@ dana
nuhun kang..do’anya terasa ke rani
@ abah
trims juga
@santri G
bang santri…belum ikut bantu do.a yaaaa..so jangan pelit dong tibang do’a aje
@faubell
harap bersila terus sampai saya kembali, seperti sunan kali jaga, nanti saya kasih bocoran yang lebih gueeede
@zal
bang zal…juga tengkiu
soriii temen temen…BIS nya udah ada halo halo artinya mau jalan. nanati kalo rani balik dibawain oleh2 untuk yang do’ain, kalo ndak balik sampai jumpa dalam disisiNya
-salam semua-
Salam sayang buat Abah Dhedot.
@razuka
Oh ya selamat jalan juga. Senantiasa dalam rahmat dan lindungan-Nya.
Sampai ketemu lagi.
*takut nggak kebagian oleh2*
Oke deh, cuma bersila beberapa hari aja kok. Terlalu mudah dibandingkan dengan bertapanya Sunan Kali Jaga yang sampai 8 windu. Saya menunggu.
Salam.
*Lihatin teken yang ditancapkan sama razuka*
::ada yang rada aneh…
1. razuka pergi, penggoda80 menghilang
2. razuka tidak penah sekalipun menyebutkan nama tambahan, namu penggoda80 menyebutnya dengan rani…
3. siapa razuka dan penggoda80, adakah 2 in 1,
penasaran dari awal sebetulnya, mengapa 2 pengcomment memeiliki pemahaman yg sepintas terlihat sama, terutama gaya bahasa yang sangat kembar…
@mas zal
*prasangka MODE ON*
… jangan-jangan, mereka pasangan suami istri…???
wah…
*prasangka MODE ALWAYS ON*
saudraku sekalian.
semoga allah selalu menjadi pembimbing dalam hidup anda agar senatiasa tiada lagi prasangka yang akan merugikan orang lain apalagi sampai membunuh karekternya.
saya hanyalah org yang hina yang tiada daya upaya kecuali atas dayaNya dan upayaNya.
andai masih ada dosa yang melekat pada seutas benang yang saya pakai tentulah seberapapun besar dosa itu, hari ini akan gugur jua karena bantuan saudaraku.
@zal
tentang nama tambahan razuka..bukankah dia sendiri pernah menyebutnya??? lacak balik dari awal biar ditemukan kebenaran dari statement ini.
wah…ternyata ada yang lagi dijodohoin?
@ abah dedehot
koq bisa gitu? apa yaaa dasarnya?
@dana
bagaimana menurut akang?
aku juga mau kasih komment.
@zal
sepertinya ada kebenaran analisanya
tapi apakah dengan ungkapan yang berdasarkan 3 item itu sdh dpt ditarik kesimpulan??
@penggoda
>andai benar demikian lantas apa dasar dan keuntungannya dualisme sept itu?
>anda ini ce atau co??
>apakah kemiripan komentar anda dengan “R” hanya sebuah kebetulan lantaran sama kultur atau sama kampus.
>maaf..saya tdk ikut dalam masalah ini kecuali…ngomporin doang, he..he..he.. {1 x lagi maaf ya }
-zalam-
@penggoda80
Makna nama penggoda80 adalah penggoda bagi DIRI yang sedang menjalankan 8 brata yg sedang menuju 0.
Karakter penggoda adalah seperti “Lampu TL”, kalau kesadaran DIRI tidak disemayamkan pada permukaan “BENDA” itu maka DIRInya tidak akan terpengaruh oleh ke”BENDA”an itu, bahkan “LAMPU TL” itu pun justru membantu DIRI untuk menutup 9 PINTU itu menuju KEKOSONGAN.
Kalau dirimu memang sedang menjalankan karakter itu…Alhamdullilah.
he..he.he..
-salam-
@ faubell
kok jadi seperti warna abu abu yach.
yang disebut alhamdulillah bukan begitu!
ungkapan kegembiraan itu ketika kita mendapati yang ada pada kita hanya ALLAH dan RASULULLAH, bukannya kosong.
begitu kira2 bell.
-salam-
@penggoda80
Dengan menuju kekosongan itulah sejatinya yang ada hanya ALLAH dan RASULULLAH.
-salam-
@faubell
he..he..he itu benar!jadi sekarang sudah mulai teliti dalam memndang.
namun kita harus memahami bukan hanya dalam bentuk faham tetapi juga faham dalam bentuk kedudukannya, itu namanya goib bil guyub….* hayoo siap2 melesat * yah seperti kita iris bawang,tipis2..helai demi helai, antara irisan satu dengan irisan lainya kita bisa kaji dengan jelas ( kalo ga jelas tanya pak bondan biar diajak wisata kuliner )
-salim-
@Penggoda80
Mengenai irisan bawang tersebut, silahkan ikut nimbrung di sini :
http://nurmarachman.wordpress.com/2008/05/22/tentang-al-quran/
Insya Allah peta itu akan terang benderang.
-salam-
@ auliajais
gothcha…..ndak kewarnet lagi?
@zsheefa
Menurut saya tentang apa ya?
@BOSS Penggoda & Mas Faubell
Sepertinya… “anu” sedang digelar di padepokan Mas Santri G,
http://kariyan.wordpress.com/2008/05/23/akusopo-ingsun/
Dengan citranya, yang djawa style… pandangan dari ILMU TAUHID, belum banyak kupasannya. Kayanya di Padepokan itu, resiko lebih kecil.
@Mas Faubell
Setelah jalan-jalan ke “sana”, terus nge “link” sama yang ditawarkan, Abah jadi inget “Ayat Gajah”,
http://danalingga.wordpress.com/2007/08/03/saya-mungkin-selama-ini-musyrik/#comment-1372
Jadi, “Ma’rifartullah Awaludiin”… tidak terelakan.
ya kan boss…???
salam
@abahdedhot
He..he..he..
Thank’s atas link yang ditawarkan. Saya sering tengok disitu, perumpamaan dalam Jawa style.
Sebagai seorang hamba sahaya, saya baru mempelajari struktur perusahaan yang jelas, bagaimana prosedur untuk promosi sampai ketemu dengan BIG BOSS. Mengenai HIJAB dan PROVOKATOR yang MERANGKAP FASILITATOR itu Insya Allah telah terbacakan. Dalam hal ini sebenarnya ada pola kan? Pola itu niscaya tidak berubah, masalahnya bahasa apapun terbatas utk mendeskripsikan WUJUD. Apa benar memang begitu?
Mengenai RASA itu memang parameter yang fuzzy, namun sebenarnya dalam ranah fuzzy pun kita bisa memberikan batasan untuk memudahkan kesepakatan pemahaman, walaupun tidak mewakili.
Namun saya masih tergelitik kenapa didahulukan pengucapan Syahadat tauhidnya dulu baru syahadat rasul. Itu tersirat dari pendapat kang Zal….
Weleh..weleh Manungso = MANUNGGAL ing ROSO, kalau belum begitu masih orang2an.
Istigfar…
-salam-
…..siapa ya yang mau ngenalin aku dengan seseorang yang berpenampilan kelimis???? he..he..he
sesuatu barang pastilah ada namanya namun ditangan seorang seperti..juragan..bahkan barang saja sampai tidak mau memiliki asma.
biar ga salah alamat prasangkanya. biar prasangka itu jadi Off. tapi kalo masih salah alamat juga keterlaluan.
-salam untuk yg ikut baca-
@ abah dedhot
wah…wah..wahh.
koq belum ditutup ya abah?? tunggu apalagi??
tolong kasih kami2 ini pencerahan yang lebih mencerahkan jangan yg ini terus, kapan kami mau naik kelas kalo begini.
apalagi aku baru pulang, dikampung rata2 orgnya pada musyrik semua, jadi aku ga betah termasuk aki sama nini’ku, taklid kabeh…repot urusanya.
ada buah tangan tuk abah dan nyonya abah..nanti dikirim pake TIKI ( itik Kecil )
-salam-
Abah Dedhot
Salam kenal…
Kalau membaca beberapa tulisan Abah.. saya merasa tertarik akan cara abah menguraikan dan memberi jawaban mengenai hal yang berkaitan dengan ilmu ketuhanan..
Walau ada yang menurut saya terkadang jauh dari nalar dan pemahaman saya..Ketika abah menerangkan mengenai orang yang mengaku ber iman tapi tidak memahami akan iman tersebut. apakah paham saja sudah cukup untuk seseorang dinyatakan ber iman kepada ALLAH ?
Saat Abah menjelaskan mengenai qur’an yang sesungguhnya.. saya blm memahami akan kedudukan kitab qur,an yang ada dalam penjelasan abah..
gimana menurut abah….
@ dana
tentang kemiripan penggoda dan razuka
@razuka
lho …lho..
Mbak guru Razuka sekarang memangnya kelas berapa ya? Sudah lulus kelas 4 belum ya? Kasih tahu saya dulu dong supaya lulus kelas 4 itu.
Ngomong2 kaki saya sudah mati rasa nih…bersila melulu. Kalau dah nyampe leher, gimana?
-salam-
@zsheefa
kalo itu saya tidak ikutan.
@faubell
eh…aku malah ga inget ada yang masih duduk bersila tungguin aku, jadi inget sunan kali jaga sama sunan bonang..ha..ha..ha.
@dana
trimakasih bang, pikiranmu penuh dengan aroma demokrasi yang menjadi ciri2 dari sinulingga
-salam-
::penggoda80,
@zal
tentang nama tambahan razuka..bukankah dia sendiri pernah menyebutnya??? lacak balik dari awal biar ditemukan kebenaran dari statement ini
maaak, serius kali ah…, katanya penggoda.., digoda dikit aja terus kommentnya jadi berubah kek gitu…,
@Zal
bang…maklumlah saat itu lagi sensi abis lagi dapet sih.
beginilah kalau kita merasa bukan siapa2…la hawla wala kuuwata illa billah….
-salam-
wah telat. baru baca nih… dari kasukman sampek kanuragan kayaknya ngumpul deh…
Wuah megap-megap habis menikmati duren hahaha
siyall, rejeki saya mungkin di akhir, karena malah menjadi lengkap membaca postingan dan semua koment
oiya, Bang, bisa ngga ya kalau komentar setelah ini diforward ke email saya? maap logh kalo ngrepotin
Ralat, bukan siyall Bang, tapi bersyukur
makasih yak
@goop
Saya nggak tahu caranya goop. Jangan-jangan wordpress nggak ada fasilitas begitu.
Asalamu`alaikum,
ngaji yg sesungguh nya ialah mengkaji hidup nya supaya roh kita kembali selamat kembali KepadaNya seperti kanjeng Nabi Muhammad lakukan bukan seperti kebanyakan sekarang ini. ngaji akal nya saja ato kulit nya saja jadi sekarang kebanyakan orang pinter ngaji di mulut tetapi isi nya gak ngerti. klo mau dikaji lagi bahwa Al Quran itu Firman Allah, Firman Allah itu Wahyu, Wahyu itu Roh manusia baru yang bernaung pada jasad kita ini sekarang.
akan tetapi yang harus kita sadar adalah telah banyak pembelokan Aqidah yg dilakukan oleh mereka yg mengaku telah paham ato khatam Al Quran dari yg tersurat nya saja tapi yg tersirat gak mengerti.
Tapi sebelum nya saya permisi dan mohon maaf sekali atas kata2 saya ini
krn inilah yg saya laksanakan dalam pola perilaku hidup saya.
Makasih
Makasih atas kesediaannya membagi pengetahuan. Semoga semakin lengkap.
Hdp emang aneh
Tp yg aneh2 udh pd `mati`
Mati suka aneh
tp yg nyeleneh2 tetap bertahan `hdp`
Mati yg dicari2
tp malah hdp yg di dpt.
Hdp g bosan2
tp malah mati yg kedapatan.
Pokoknya aneh
Ktemu ma org aneh
Ngomong suka yg aneh2
Pokoknya ajaib
keliatannya cuma seorang
tp kok byk cabangnya
Dulunya benci x yg namanya internet
Suka lupa wkt, ampe hdp jd kepepet
Trnyata emang tdk mudah
tp byk dberi kemudahan.
Trnyata tdk sulit
tp sukanya berkelit2
hehehe…
thx buat bung yg punya blog
*ampe skrg ane kagak ngerti yg namanya blog.Pokoknya nulis aj, biar g kliatan goblog
*
wah trnyata, walau cuma ngeblog, bisa abis `tinta` di lautan.
*keknya lbh mudah klo dinikmati saja, biar lautnya g abis2
*
tolong dong Aq minta pendapat atau artikel tentang “implementasi manfaat beriman kepada al-quran dalam hubungannya antara manusia dengan dirinya dan manusia dengan Allah”. Tolong dong paling lambat besok y….